PARADAPOS.COM - Sebuah prosesi pertukaran maskot budaya antara Indonesia dan Tiongkok menjadi sorotan dalam perayaan Imlek Festival 2577 di Jakarta. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Ketua Umum Panitia Imlek Nasional, Irene Umar, bertukar maskot Kuda Api dengan Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Tiongkok, Wang Siping, dalam sebuah acara yang menekankan diplomasi budaya dan persahabatan kedua negara. Momentum ini dinilai memperkuat hubungan bilateral melalui pendekatan ekonomi kreatif dan apresiasi terhadap keberagaman.
Simbol Persahabatan Melalui Budaya
Di tengah kemeriahan festival, pertukaran benda budaya tersebut bukan sekadar ritual seremonial. Maskot Kuda Api, yang melambangkan semangat dan optimisme Tahun Baru Imlek 2577, diangkat sebagai simbol nyata dari kedekatan yang terus dibangun. Langkah ini menunjukkan bagaimana diplomasi modern dapat diwujudkan melalui jalur kebudayaan, menciptakan narasi bersama yang melampaui batas-batas geopolitik konvensional.
Dalam pernyataannya, Irene Umar menjelaskan makna mendalam di balik aksi tersebut. "Kita tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga merayakan persahabatan. Pertukaran maskot Kuda Api ini menjadi simbol kedekatan Indonesia dan Tiongkok, bukan hanya people to people, tetapi juga mascot to mascot," tuturnya.
Apresiasi dan Harmoni dalam Keberagaman
Wang Siping, yang mewakili pemerintah Tiongkok, menyambut hangat penyelenggaraan festival bertema Harmoni Imlek Nusantara itu. Ia mengaku merasakan nuansa yang sangat familiar, seraya menekankan nilai-nilai universal yang diusung dalam perayaan tersebut.
"Ini suasana sangat mirip dengan imlek di Tiongkok, ini juga intinya sama dengan yang disampaikan dengan ide filosofi Tiongkok tetap menjaga keharmonisan dan kebaikan antara satu dengan yang lain," ungkap Wang Siping. Ia berharap acara serupa dapat terus menjadi jembatan persahabatan yang berkelanjutan.
Harmoni yang terjalin tidak hanya terlihat dalam hubungan bilateral. Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, yang juga hadir, menggarisbawahi keunikan momentum tahun ini, di mana perayaan Imlek beriringan dengan bulan Ramadan. Fenomena ini, menurutnya, menjadi contoh nyata kerukunan hidup beragama dan budaya di Indonesia yang diapresiasi dunia internasional.
"Ini adalah sesuatu yang sangat berharga, negara-negara luar melihat sebagai kekuatan Indonesia. Di sini lah Indonesia dihargai, di sini lah Indonesia menjadi suatu contoh perbedaan dari budaya dan kepercayaan tapi justru itu yang menjadi kekuatan Indonesia," jelas Arrmanatha.
Menguatkan Fondasi Kolaborasi Masa Depan
Imlek Festival 2577 juga dimanfaatkan sebagai panggung untuk menampilkan potensi kreatif anak bangsa. Kehadiran talenta seperti penyanyi Indah Kus, yang memiliki jejak karier di Tiongkok, memperlihatkan bagaimana pertukaran budaya telah merambah ke berbagai sektor, termasuk industri hiburan. Hal ini membuka peluang kolaborasi ekonomi kreatif yang lebih luas dan setara.
Secara keseluruhan, acara tersebut bukan sekadar perayaan tahunan. Ia telah bertransformasi menjadi platform strategis yang membangun kepercayaan dan memperkokoh fondasi kerja sama Indonesia-Tiongkok. Melalui pendekatan yang manusiawi dan berbasis budaya, kedua negara menunjukkan bahwa diplomasi yang berkelanjutan seringkali berawal dari saling memahami dan menghargai warisan tradisi masing-masing.
Artikel Terkait
KAI Daop 8 Surabaya Perketat Mitigasi Longsor di Malang Jelang Mudik Lebaran 2026
Prabowo Komitmen Beli 50 Pesawat Boeing untuk Garuda Indonesia dalam Kesepakatan Dagang dengan AS
TVRI Liwa Desak PDAM Perbaiki Pipa Rusak yang Hentikan Pasokan Air Sejak Januari
PSG Lolos ke Babak Berikutnya Liga Champions Usai Duel Sengit Lawan Monaco