PARADAPOS.COM - Pemerintah China secara resmi mengecam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap beberapa kota di Iran yang terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026. Dalam pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri, Beijing menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak penghentian segera semua aksi militer untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah yang sudah rawan.
Kutipan Resmi dari Beijing
Melalui situs resmi kementeriannya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan posisi negara itu dengan jelas. Pernyataan tersebut menekankan prinsip dasar hubungan internasional yang dipegang China.
"Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati. China menyerukan penghentian segera aksi militer," jelas pernyataan resmi itu.
Pernyataan itu tidak berhenti pada kecaman. Beijing juga secara aktif mengajak semua pihak yang bertikai untuk mencari jalan damai, mengingat kompleksitas dan dampak luas konflik di kawasan tersebut.
"Kami minta agar tidak ada eskalasi lebih lanjut dari situasi saat ini, kembali memulai dialog dan negosiasi, serta terus berupaya untuk menegakkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah," tambahnya.
Latar Belakang Eskalasi Militer
Kecaman China ini muncul di tengah memanasnya situasi secara signifikan. Eskalasi ini dipicu oleh operasi tempur gabungan AS dan Israel yang menargetkan lokasi-lokasi di dalam wilayah Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengonfirmasi bahwa operasi militer utama sedang berlangsung, yang kemudian memicu gelombang respons balasan dari Teheran.
Iran sendiri telah melayangkan kecaman keras, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatannya. Pemerintah di Teheran berjanji akan memberikan respons yang tegas, dan sejumlah laporan intelijen awal mengindikasikan kemungkinan serangan balasan sedang dipersiapkan. Situasi ini menciptakan ketegangan tinggi yang diawasi dengan cemas oleh komunitas internasional.
Dampak dan Imbauan untuk Dialog
Serangan ini bukan hanya memperkeruh hubungan bilateral antara negara-negara yang terlibat, tetapi juga mengancam stabilitas regional yang sudah rapuh. China, dengan pernyataannya, menempatkan diri sebagai pihak yang mendorong de-eskalasi. Seruan untuk kembali ke meja perundingan mencerminkan pendekatan diplomatik Beijing yang sering menekankan penyelesaian sengketa melalui jalur damai dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa pernyataan China ini turut memperhitungkan kepentingan stabilitas global dan keamanan energi, mengingat posisi strategis Iran. Imbauan untuk menghentikan aksi militer dan memulai dialog menjadi penekanan utama, di tengah kekhawatiran bahwa konflik terbuka dapat meluas dengan konsekuensi yang sulit diprediksi.
Artikel Terkait
Netanyahu dan Trump Berkomisikasi Usai Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran
Gubernur DKI Ajak Ulama Jaga Ketentraman Ramadan dan Siapkan Program Mudik
Jembrana Resmikan Sistem E-Retribusi di Terminal Gilimanuk
DPR Fasilitasi Bantuan Traktor untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Sidoarjo