Tradisi Ramadan Khas Indonesia Semakin Tergerus Zaman

- Senin, 02 Maret 2026 | 01:25 WIB
Tradisi Ramadan Khas Indonesia Semakin Tergerus Zaman

PARADAPOS.COM - Sejumlah tradisi khas Ramadan yang dulu semarak mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia kini semakin sulit ditemui. Perubahan gaya hidup, faktor keamanan, dan modernisasi menjadi beberapa alasan memudarnya kebiasaan-kebiasaan unik yang sarat makna kebersamaan dan sukacita menyambut bulan suci ini. Artikel ini mengulas lima tradisi Ramadan yang perlahan mulai menghilang dari keseharian.

Mengisi Agenda di Buku Ramadan

Bagi generasi 90-an dan sebelumnya, Buku Monitoring Kegiatan Ramadan adalah kenangan yang tak terlupakan. Buku kecil itu berisi catatan harian aktivitas ibadah siswa, mulai dari puasa, salat wajib, hingga tadarus Al-Qur'an. Salah satu momen paling seru adalah "berburu" tanda tangan imam atau ketua taklim usai salat Tarawih sebagai bukti kehadiran.

Melansir laman resmi Kementerian Agama Kalimantan Selatan, buku tersebut berfungsi sebagai alat evaluasi dan pembiasaan ibadah. Namun, seiring perubahan sistem pendidikan dan pendekatan pengajaran, praktik ini mulai ditinggalkan dan kini jarang diterapkan di sekolah-sekolah modern.

Semarak Pawai Obor Menyambut Ramadan

Sebelum lampu-lampu dekorasi dan papan ucapan digital mendominasi, cahaya obor yang berarak menyala di jalanan menjadi penanda datangnya Ramadan di berbagai daerah. Tradisi ini bukan sekadar pawai, tetapi memiliki akar filosofis dalam budaya Islam.

Berdasarkan tulisan Fathur Rozi dalam Jurnal Ilmu Komunikasi Progressio (2020), masyarakat Kota Pontianak telah lama menggelar pawai obor sebagai wujud suka cita. Penggunaan cahaya dalam tradisi Islam sendiri dikenal sejak zaman Rasulullah SAW untuk penerangan dan aktivitas keagamaan.

"Pawai obor di Indonesia kemudian berkembang menjadi simbol kebersamaan dan semangat ibadah di tengah masyarakat," tulisnya dalam kajian tersebut.

Suara Sahur yang Kian Redup

Denting kentongan, tabuhan galon air, atau lantunan lagu dari pengeras suara keliling pernah menjadi alarm sahur yang paling dinantikan. Tradisi membangunkan sahur ini biasanya digerakkan oleh para pemuda karang taruna atau remaja masjid, menciptakan atmosfer gotong royong yang hangat.

Sayangnya, ritme kehidupan perkotaan yang semakin individual dan keberadaan alarm ponsel membuat tradisi ini meredup. Kini, sahur keliling kerap hanya terdengar satu atau dua hari di awal Ramadan, sebelum akhirnya hilang sama sekali hingga bulan puasa berakhir.

Gema Meriam Bambu Saat Ngabuburit

Suara dentuman menggelegar dari tepian sungai atau lapangan desa kerap menjadi soundtrack khas sore hari di bulan Ramadan. Meriam bambu, yang terbuat dari batang bambu besar atau pipa paralon, adalah hiburan populer masyarakat saat menunggu waktu berbuka.

Selain sebagai permainan, tradisi ini juga mengandung unsur kebersamaan. Namun, kekhawatiran akan risiko kecelakaan dan perhatian terhadap faktor keamanan membuat aktivitas ini semakin dibatasi. Alhasil, dentuman meriam bambu kini telah tergantikan oleh suara bising lalu lintas atau kesibukan di pusat perbelanjaan.

Refleksi atas Memudarnya Tradisi

Kelima tradisi tersebut hanyalah sebagian kecil dari kekayaan budaya Ramadan Nusantara yang terancam punah. Memudarnya kebiasaan-kebiasaan ini meninggalkan ruang kosong dalam mozaik sosial Ramadan yang dulu lebih terasa komunal dan personal.

Perubahan zaman memang tak terelakkan, namun mengenang dan mendokumentasikan warisan budaya semacam ini tetap penting. Hal itu bukan hanya untuk menjaga ingatan kolektif, tetapi juga sebagai bahan refleksi tentang nilai-nilai kebersamaan, kegembiraan, dan spiritualitas yang semestinya tetap hidup, dalam bentuk apa pun, di setiap Ramadan yang datang.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar