PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak menutup kemungkinan untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran jika situasi mengharuskannya. Pernyataan kontroversial ini disampaikan dalam sebuah wawancara, di mana ia membedakan posisinya dari komitmen presiden-presiden sebelumnya yang kerap menolak opsi militer darat. Komentar Trump ini muncul di tengah ketegangan yang terus memanas antara Washington dan Tehran, menyusul serangkaian peristiwa konflik yang belum lama terjadi.
Pernyataan Tegas Soal Opsi Militer
Dalam wawancaranya dengan New York Post, Trump secara eksplisit menegaskan bahwa dirinya tidak akan ragu mengambil langkah militer yang lebih keras. Pernyataan ini sekaligus mengoreksi narasi yang selama ini beredar tentang penolakan AS terhadap perang darat di kawasan tersebut. Sikap terbuka ini menandai pergeseran retorika yang signifikan dari Gedung Putih.
"Saya tidak ragu-ragu untuk mengerahkan pasukan darat - seperti yang dikatakan setiap presiden, 'Tidak akan ada pasukan darat.' Saya tidak mengatakannya," tutur Trump kepada media tersebut, seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (3/3/2026).
"Saya mengatakan, 'mungkin tidak membutuhkannya,' (atau), 'jika memang diperlukan,'" lanjutnya menegaskan.
Eskalasi dan Ketidakpastian Pasca-Khamenei
Lebih jauh, mantan presiden itu menyebut bahwa operasi militer AS sejauh ini belum mencapai intensitas puncaknya. Ia mengisyaratkan bahwa "gelombang besar" serangan masih akan datang, sebuah pernyataan yang berpotensi memperburuk situasi keamanan yang sudah genting. Di sisi lain, pemerintahannya juga mengaku menghadapi ketidakpastian politik internal Iran.
Pasca wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan, tampuk kepemimpinan negara itu berada dalam situasi transisi yang belum jelas. Trump mengakui bahwa Washington tidak memiliki kepastian mengenai siapa pengganti Khamenei atau bagaimana proses suksesi akan berlangsung.
"Kita bahkan belum mulai menyerang mereka dengan keras. Gelombang besar bahkan belum terjadi. Gelombang besar akan segera datang," ujarnya kepada CNN, seraya menambahkan, "Kita tidak tahu siapa pemimpinnya. Kita tidak tahu siapa yang akan mereka pilih."
Pernyataan-pernyataan ini, yang disampaikan dengan nada tegas namun terbuka, memperlihatkan kompleksitas kalkulasi strategis di balik krisis Iran-AS. Analis keamanan internasional menilai, komentar semacam ini tidak hanya ditujukan untuk audiens domestik, tetapi juga berfungsi sebagai pesan tegas sekaligus alat penekanan diplomatik terhadap Tehran di tengah vakum kepemimpinan yang sedang terjadi.
Artikel Terkait
Unpad Gelar Workshop Robotik untuk Jembatani Kesenjangan Teori dan Industri
Gubernur DKI Pertimbangkan JIS dan GBK untuk Konser BTS di Jakarta
Polresta Tangerang Amankan 14 Pelajar Terduga Pelaku Tawuran Tewaskan Siswa
Iran Tegaskan Hak Pengayaan Uranium Tak Bisa Ditawar