PARADAPOS.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membahas situasi Lebanon dalam percakapan telepon pada Minggu malam, 31 Mei 2026. Dalam pembicaraan tersebut, Macron menekankan perlunya gencatan senjata yang kuat di Lebanon serta menyambut komitmen Trump terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara tersebut. Kedua pemimpin juga menyinggung upaya mencapai kesepakatan antara AS dan Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Pentingnya Gencatan Senjata yang Kuat
Melalui unggahan di platform X pada Senin, Macron menyampaikan apresiasinya terhadap sikap Trump. “Saya menekankan pentingnya gencatan senjata yang kuat dan dukungan kolektif kami terhadap otoritas Lebanon,” tulisnya.
Pernyataan itu muncul di tengah situasi Lebanon yang kembali memanas. Sejak Maret lalu, Israel melancarkan operasi militer terbaru setelah Hizbullah membalas perang AS-Israel terhadap Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini juga memerintahkan perluasan operasi militer di Lebanon, meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS masih berlaku.
Peluang Kesepakatan AS-Iran
Dalam percakapan yang sama, Macron dan Trump juga membahas potensi kesepakatan antara Washington dan Teheran. Macron menyebut peluang tersebut sebagai langkah penting untuk membangun kerangka keamanan baru yang melibatkan seluruh pihak terkait. Ia menambahkan bahwa Prancis siap mendukung penuh upaya tersebut dan mengambil bagian dalam implementasinya.
“Ini adalah tujuan dari misi internasional yang kami bangun bersama Inggris dan mitra kami, siap dikerahkan segera setelah kesepakatan tercapai, guna membantu mengamankan lalu lintas maritim di Selat Hormuz,” ujarnya.
Macron menegaskan bahwa Prancis siap berkontribusi melalui pengalaman dan kemampuan yang dimiliki dalam proses negosiasi yang lebih luas. Misi tersebut, menurutnya, dirancang untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran strategis di kawasan.
Ketegangan di Lebanon dan Dampaknya
Situasi di Lebanon kian genting. Serangan udara Israel dilaporkan telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran dari ibu kota Beirut. Warga sipil menjadi korban utama dalam eskalasi yang terus berlangsung ini.
Macron menekankan bahwa dukungan kolektif terhadap otoritas Lebanon menjadi kunci untuk meredam krisis. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas teritorial Lebanon di tengah tekanan militer yang meningkat.
Dengan berbagai perkembangan ini, percakapan antara kedua pemimpin menjadi sinyal bahwa komunitas internasional masih mencari jalan keluar diplomatik. Namun, tantangan di lapangan tetap besar, terutama dengan perluasan operasi militer Israel yang terus berlanjut.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Harga Cabai Rawit di Jombang Tembus Rp100.000 per Kg Sehari Setelah Idul Adha
200 Personel Gabungan Dikerahkan Evakuasi Warga di Kebakaran Permukiman Padat Kemayoran
Lima Korban Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Dimakamkan, Tiga Warga Masih Hilang
Gubernur Banten Apresiasi Biro Hukum Setda atas Kemenangan Kasasi Sengketa Situ Ranca Gede