Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi 5 Pekan, Dampak Ketegangan Timur Tengah Meluas ke Pasar Global

- Selasa, 03 Maret 2026 | 02:00 WIB
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi 5 Pekan, Dampak Ketegangan Timur Tengah Meluas ke Pasar Global

PARADAPOS.COM - Nilai Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan signifikan pada awal pekan ini, mencapai level tertinggi dalam lebih dari lima pekan. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang memicu respons balasan. Kondisi tersebut mendorong para investor global untuk berlindung pada aset-aset yang dianggap aman (safe-haven), dengan Dolar AS menjadi pilihan utama.

Eskalasi Konflik Picu Penerbangan ke Aset Aman

Indeks Dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, tercatat melonjak 0,8 persen ke level 98,38. Posisi ini merupakan yang tertinggi sejak akhir Januari lalu. Kenaikan tajam ini terjadi di tengah laporan serangan berlanjut dan ledakan di sejumlah negara, termasuk Israel, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait, yang memperdalam ketidakpastian pasar.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlangsung "selama diperlukan," pernyataan yang semakin mengokohkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan. Suasana waspada ini langsung tercermin dalam pergerakan pasar valuta asing.

Analis pasar senior di Trade Nation, David Morrison, mengamati dinamika ini. "Dolar AS melonjak lebih tinggi semalam dalam pergerakan yang membuat Indeks Dolar mencapai level tertinggi lima minggu," ujarnya.

Morrison menambahkan, "Pergerakan ini merupakan indikasi kuat bahwa dolar AS tetap menjadi mata uang safe-haven pilihan bagi investor, dan bahwa mereka yang menyerukan pelemahan lebih lanjut karena de-dolarisasi, mungkin agak terlalu dini."

Dampak Berimbas ke Mata Uang Eropa

Tekanan geopolitik tidak hanya menguntungkan Dolar AS, tetapi juga memberikan beban berat pada mata uang kawasan Eropa. Euro tercatat melemah 0,9 persen terhadap dolar, diperdagangkan di level 1,1707. Pelemahan ini terutama didorong kekhawatiran bahwa konflik akan memicu kenaikan harga energi yang dapat membebani pemulihan industri di zona euro.

Tim analis dari ING memberikan pandangan mereka mengenai dampak ini. “Kenaikan harga energi akan membuat investor mempertimbangkan kembali pandangan mereka tentang kebangkitan industri Eropa. Meskipun demikian, ekonomi global berada dalam posisi yang jauh lebih baik daripada saat harga energi melonjak pada Maret 2022 dan sekarang ada lebih banyak dukungan fiskal daripada saat itu,” jelas mereka dalam sebuah catatan.

Mereka juga memproyeksikan potensi pelemahan lebih lanjut untuk Euro. “Kecuali ada de-eskalasi awal, EUR/USD dapat dengan mudah terdorong kembali ke wilayah 1.1575/1650. Investor telah tepat mempertanyakan status safe haven dolar tahun ini, tetapi mengingat sifat guncangan ini (energi), dolar-lah yang akan paling diuntungkan,” lanjut analis ING.

Pound dan Franc Swiss Juga Terguncang

Mata uang Inggris, Poundsterling, tak luput dari tekanan, melemah 0,5 persen terhadap dolar. Sementara itu, Franc Swiss justru menguat secara tajam, mencapai level terkuatnya dalam lebih dari satu dekade terhadap Euro, yang mencerminkan status tradisionalnya sebagai aset aman. Penguatan ini bahkan memunculkan spekulasi mengenai kebijakan bank sentral setempat.

“Bank Sentral Swiss tidak akan menyukainya, tetapi perkirakan fokus sekarang akan beralih ke suku bunga negatif lagi di Swiss. Pasar CHF OIS menunjukkan OIS 1 bulan dihargai -12bp dalam satu tahun. Itu bisa saja dihargai -25bp karena tekanan beli tetap ada pada franc,” tambah tim ING dalam analisisnya.

Resonansi di Pasar Asia Pasifik

Gelombang gejolak dari Timur Tengah juga merambat ke kawasan Asia. Yen Jepang melemah, dengan pasangan USD/JPY naik 0,7 persen. Pelemahan Yen ini didorong oleh kekhawatiran dampak kenaikan harga minyak terhadap ekonomi yang sangat bergantung pada impor energi, serta spekulasi bahwa Bank Sentral Jepang mungkin akan mengadopsi sikap yang lebih hati-hati.

Di China, Yuan juga mengalami depresiasi, turun 0,4 persen terhadap dolar. Sementara Dolar Australia, yang sering dianggap sebagai mata uang berisiko tinggi (risk-sensitive currency), terpukul cukup keras oleh sentimen negatif pasar, melemah 0,3 persen. Pergerakan ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen risk-off menyebar ke berbagai penjuru pasar keuangan global hanya dalam hitungan hari.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar