PM Inggris Tegaskan Tolak Ikut Serangan Ofensif AS-Israel ke Iran

- Selasa, 03 Maret 2026 | 09:25 WIB
PM Inggris Tegaskan Tolak Ikut Serangan Ofensif AS-Israel ke Iran

PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara tegas menyatakan negaranya tidak akan ikut serta dalam serangan ofensif yang direncanakan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pernyataan tegas ini disampaikan Starmer di hadapan Parlemen Inggris, Senin (2/3), sebagai respons atas tekanan dari Washington. Keputusan ini, yang menegaskan kembali prinsip kemandirian kebijakan luar negeri Inggris, langsung memicu reaksi kecewa dari Presiden AS Donald Trump.

Dasar Hukum dan Kepentingan Nasional Jadi Pertimbangan Utama

Dalam pidatonya di depan para anggota parlemen, Starmer menekankan bahwa keterlibatan militer Inggris dalam operasi semacam itu harus memenuhi prasyarat hukum dan strategis yang ketat. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan militer harus memiliki landasan hukum yang jelas serta didukung oleh perencanaan operasional yang matang dan realistis.

Lebih lanjut, Starmer menggarisbawahi skeptisismenya terhadap pendekatan militer untuk menggulingkan pemerintahan. "Pemerintahan ini tidak meyakini perubahan rezim dapat dilakukan melalui (serangan) udara," tegasnya. Ia menambahkan, meski mendapat tekanan, tugas utamanya adalah menjaga kepentingan nasional Inggris. "Presiden Trump menyatakan ketidaksetujuannya atas keputusan kami untuk tidak terlibat dalam serangan awal, tetapi tugas saya adalah menilai apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris," ujar Starmer.

Ketegangan Terkait Penggunaan Pangkalan Militer Diego Garcia

Lapisan ketegangan dalam hubungan kedua sekutu lama ini semakin terlihat menyusul laporan media Inggris mengenai penggunaan Pangkalan Militer Diego Garcia. Menurut laporan tersebut, Presiden Trump menyatakan kekecewaan yang mendalam karena Starmer dianggap menghalangi rencana AS untuk memanfaatkan pangkalan strategis di Samudera Hindia itu sebagai titik luncur serangan terhadap Iran.

Trump bahkan menyebut penolakan awal Inggris sebagai suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kerja sama militer kedua negara. "Penolakan Inggris sebelumnya yang tidak mengizinkan pasukan AS menggunakan pangkalan tersebut belum pernah 'terjadi sebelumnya antara kedua negara'," ungkapnya.

Persetujuan Bersyarat dan Kritik atas Waktu

Dinamika ini kemudian berkembang ketika, dalam sebuah pernyataan pada Minggu (1/3) malam waktu setempat, pemerintah Starmer akhirnya menyetujui permintaan AS. Persetujuan itu diberikan, namun dengan batasan yang jelas: penggunaan Diego Garcia hanya diperbolehkan untuk "tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas."

Keputusan yang bersyarat ini ternyata tidak cukup meredakan kekecewaan dari Gedung Putih. Presiden Trump kembali menyuarakan kritik, kali ini mengenai waktu pengambilan keputusan. Ia menilai Starmer "terlalu lama" dalam mengubah sikapnya, sebuah komentar yang mencerminkan ketidaksabaran dan perbedaan persepsi mengenai urgensi situasi di antara kedua pemimpin tersebut.

Langkah pemerintah Inggris ini menunjukkan sebuah perhitungan yang hati-hati di tengah situasi geopolitik yang rumit, menyeimbangkan kewajiban sebagai sekutu dengan kedaulatan dan penilaian strategisnya sendiri terhadap risiko yang mungkin timbul.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar