Cegah Pubertas Dini, Pakar Tekankan Pentingnya Hindari BPA Sejak Rencanakan Kehamilan

- Selasa, 02 Juni 2026 | 15:25 WIB
Cegah Pubertas Dini, Pakar Tekankan Pentingnya Hindari BPA Sejak Rencanakan Kehamilan
PARADAPOS.COM - Upaya mencegah pubertas dini pada anak, menurut para ahli, harus dimulai jauh sebelum kelahiran—tepatnya sejak pasangan merencanakan kehamilan. Fokus utamanya adalah mengurangi paparan zat kimia pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemicals (EDC), seperti Bisphenol A (BPA) yang lazim ditemukan pada kemasan plastik makanan dan minuman. Pernyataan ini mengemuka dalam sebuah diskusi yang melibatkan pakar obstetri dan ginekologi, yang menekankan bahwa kesehatan reproduksi anak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sudah bekerja sejak masa prakonsepsi.

Perencanaan Kehamilan sebagai Langkah Awal

Pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG, yang akrab disapa Prof. Iko, menyampaikan hal ini dalam Podcast Raditya Dika bertajuk "Akibat Puber Terlalu Cepat". Menurutnya, era kehamilan yang tidak direncanakan sudah seharusnya ditinggalkan. "Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perhatian terhadap zat pengganggu hormon, terutama BPA, harus dimaksimalkan selama masa persiapan kehamilan hingga trimester pertama. Senyawa kimia ini dikenal memiliki sifat yang menyerupai hormon estrogen dalam tubuh manusia, sehingga dapat mengganggu keseimbangan hormonal.

Periode Kritis Tiga Bulan Pertama

Prof. Iko menegaskan bahwa tiga bulan pertama kehamilan adalah fase paling krusial dalam pembentukan organ janin. Oleh karena itu, paparan terhadap zat berbahaya harus diminimalkan secara ketat. "Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu," jelasnya. Ia menambahkan bahwa kepedulian terhadap BPA tidak hanya terkait kebiasaan konsumsi anak setelah lahir, tetapi juga menyangkut kesiapan calon orang tua dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat sejak awal perencanaan kehamilan.

Pendekatan Kesehatan Reproduksi yang Lebih Luas

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Iko menyoroti program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bertajuk "Selamatkan Perempuan Indonesia". Program ini menempatkan kesehatan perempuan sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan generasi mendatang. Menurutnya, pendekatan kesehatan reproduksi tidak bisa dimulai saat kehamilan terjadi atau saat bayi lahir. Justru, persiapan harus dimulai sejak masa sebelum menjadi orang tua. "Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA, termasuk endocrine disrupting chemical lainnya," katanya.

Dampak Paparan Zat Pengganggu Hormon

Prof. Iko memaparkan bahwa berbagai penelitian internasional menunjukkan keterkaitan antara paparan zat pengganggu hormon selama masa perkembangan awal dengan masalah kesehatan reproduksi di kemudian hari. Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain endometriosis, kista ovarium, sindrom ovarium polikistik (PCOS), hingga beberapa jenis kanker yang dipengaruhi faktor hormonal. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesehatan reproduksi dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengurangan paparan BPA hanyalah salah satu bagian dari upaya pencegahan yang menyeluruh.

Regulasi dan Peran Orang Tua

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan batas migrasi BPA maksimum sebesar 0,6 mg/kg atau setara 0,6 bagian per juta pada kemasan pangan. Regulasi ini bertujuan menjaga keamanan produk yang beredar di masyarakat. Sementara itu, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pencegahan pubertas dini juga erat kaitannya dengan kesiapan orang tua dalam memahami tumbuh kembang anak. "Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua," tuturnya. Menurut Ratih, perhatian terhadap kesehatan anak perlu dimulai dari hal-hal mendasar seperti pola makan, kualitas tidur, aktivitas fisik, serta jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa banyak orang tua masih terlalu fokus pada pendidikan formal, padahal kesehatan biologis anak juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pola hidup yang diterapkan sejak dini.

Langkah Preventif untuk Keluarga

Para pakar sepakat bahwa membangun kesadaran keluarga mengenai faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan hormon dan reproduksi adalah langkah krusial. Orang tua dapat memulainya dengan memperhatikan jenis kemasan makanan dan minuman yang digunakan, membaca informasi pada label produk, serta memilih produk yang mencantumkan keterangan bebas BPA jika tersedia. Langkah-langkah ini bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan, melainkan sebagai bagian dari upaya preventif dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak—dari masa perencanaan kehamilan hingga mereka dewasa.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar