Hassan Wirajuda Soroti Prasyarat Mediasi Indonesia dalam Konflik Iran-AS-Israel

- Rabu, 04 Maret 2026 | 02:00 WIB
Hassan Wirajuda Soroti Prasyarat Mediasi Indonesia dalam Konflik Iran-AS-Israel

PARADAPOS.COM - Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyoroti sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi sebelum Indonesia dapat berperan efektif sebagai mediator dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini disampaikan usai pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026), di mana mereka membahas situasi geopolitik Timur Tengah yang memanas.

Syarat Utama: Penerimaan Para Pihak yang Bertikai

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo dikabarkan memaparkan kondisi terkini di kawasan itu, meski tidak secara rinci mengungkap rencana spesifik untuk menjadi penengah. Hassan Wirajuda, yang memegang portofolio luar negeri dari 2001 hingga 2009, kemudian menekankan bahwa diskusi belum masuk pada kapasitas Indonesia, melainkan masih pada tahap pemikiran awal.

“Kita tidak membicarakan apakah Indonesia mampu atau tidak [jadi mediator]. Itu kan pemikiran awal,” ungkapnya di kompleks istana.

Menurut analisis diplomat senior itu, fondasi paling krusial dari sebuah mediasi adalah kehendak dari para pihak yang berkonflik. Tanpa itu, inisiatif perdamaian akan sulit melangkah maju.

“Harus ada penerimaan dari dua pihak yang bertikai dan kita belum lihat tanda-tanda itu,” tegas Hassan.

Timing dan Kehendak untuk Berdialog

Lebih lanjut, Hassan menjelaskan bahwa selain penerimaan bersama, diperlukan juga suasana yang mendukung dimana kedua belah pihak memiliki kemauan politik untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur dialog. Namun, bahkan jika dialog telah dimulai, jalan menuju mediasi formal bisa tetap terhambat.

Proses ini, tuturnya, sangat bergantung pada momentum. Mediasi seringkali tidak efektif jika masing-masing pihak masih percaya dapat meraih kemenangan melalui jalur militer.

“Ketika masing-masing masih ambisi dan yakin dia akan menang ya timing-nya paling tidak, timing-nya belum tentu,” paparnya.

Konflik di Kawasan Strategis yang Rentan

Hassan Wirajuda juga memberikan konteks historis mengenai kerawanan kawasan Teluk Persia. Dia mengingatkan bahwa dalam tiga dekade terakhir, setidaknya telah terjadi tiga kali perang besar di wilayah tersebut.

Konflik-konflik ini, lanjutnya, selalu membawa dampak global yang signifikan mengingat posisi kawasan sebagai penghasil utama minyak dan gas dunia.

“Memang kawasan ini menjadi lahan perang dan perang-perang besar yang membawa dampak besar bagi dunia karena sumber minyak dan gas banyak berasal dari wilayah ini,” jelas Hassan.

Kesiapan Indonesia dan Seruan untuk Damai

Sebelumnya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menyatakan penyesalan atas gagalnya perundingan AS-Iran yang memicu eskalasi militer. Indonesia secara konsisten menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan diplomasi.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah menegaskan komitmen untuk menghormati kedaulatan negara dan menyelesaikan perbedaan secara damai. Berlandaskan politik luar negeri bebas aktif, Presiden Prabowo menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dialog.

“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” demikian bunyi pernyataan Kemenlu.

Langkah ini dinilai sebagai wujud dari peran aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas global, sekaligus mengantisipasi dampak ketegangan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu perdamaian dunia.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar