Patung Sindiran Trump-Epstein Dipasang Dekat Capitol, Soroti Hilangnya Dokumen

- Kamis, 12 Maret 2026 | 11:25 WIB
Patung Sindiran Trump-Epstein Dipasang Dekat Capitol, Soroti Hilangnya Dokumen

PARADAPOS.COM - Sebuah patung kontroversial yang menggambarkan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan almarhum terpidana kejahatan seks Jeffrey Epstein telah dipasang di area publik dekat Gedung Capitol di Washington. Instalasi seni berwarna emas setinggi empat meter itu, yang meniru pose ikonik dari film "Titanic", muncul di tengah sorotan publik terhadap hilangnya sejumlah dokumen terkait Epstein dari basis data pemerintah. Patung ini direncanakan akan dipajang hingga Jumat, 13 Maret 2026.

Patung Sindiran dan Sorotan Publik

Patung tersebut dengan cepat menarik perhatian pengunjung dan warga yang melintas di kawasan Capitol Hill. Banyak yang berhenti untuk mengamati dan mengabadikan karya yang menampilkan Trump berdiri di belakang Epstein, dengan kedua tangan terentang memegang tangan Epstein, persis seperti adegan "I'm the king of the world!" dalam film legendaris tersebut. Nuansa sindiran terasa kuat, tidak hanya dari pose yang dipilih, tetapi juga dari plakat yang terpampang di bawahnya.

Plakat bertajuk "The King of the World" itu memuat pernyataan yang secara terbuka mengkritik hubungan antara kedua figur tersebut. "Monumen ini menghormati ikatan antara Donald Trump dan Jeffrey Epstein, sebuah persahabatan yang tampaknya dibangun di atas perjalanan mewah, pesta meriah, dan sketsa telanjang rahasia," demikian bunyi tulisan di plakat tersebut, seperti dilaporkan oleh media Viory.

Kelompok Anonim dan Konteks Politik

Menurut laporan, patung ini merupakan karya kelompok seniman anonim yang menamakan diri The Secret Handshake. Kelompok ini dikenal kerap memasang instalasi bernada kritik sosial dan politik di sekitar kompleks Capitol. Kemunculan karya mereka kali ini terjadi dalam momen yang sangat sensitif, yakni ketika Departemen Kehakiman AS (DOJ) sedang menghadapi pertanyaan serius mengenai penanganan arsip kasus Epstein.

Beberapa dokumen yang disebut-sebut memuat nama Trump dilaporkan hilang dari sistem data publik, memicu dugaan dan menimbulkan isu transparansi. Situasi ini memberikan konteks politik yang mendalam terhadap pemasangan patung, mengubahnya dari sekadar aksi seni menjadi komentar visual atas sebuah kontroversi pemerintahan yang sedang berlangsung.

Respons Resmi dan Latar Belakang Epstein

Menanggapi hilangnya dokumen, Departemen Kehakiman memberikan klarifikasi resmi. Pihak departemen menyatakan bahwa penghapusan berkas tersebut terjadi akibat kesalahan teknis dalam kode sistem komputer, bukan sebuah tindakan yang disengaja.

Sementara itu, perwakilan dari mantan Presiden Trump membantah segala keterkaitan yang bersifat kriminal. Mereka menegaskan bahwa kemunculan nama seseorang dalam dokumen terkait Epstein tidak serta-merta membuktikan adanya pelanggaran hukum.

Jeffrey Epstein sendiri meninggal dalam sel tahanannya pada tahun 2019, dalam keadaan yang masih diselidiki, saat menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks dan eksploitasi terhadap remaja perempuan. Ia memiliki catatan hukum sebelumnya terkait prostitusi anak di bawah umur, yang membuat namanya lekat dengan skandal kejahatan seksual tingkat tinggi.

Keberadaan patung ini, meskipun bersifat sementara, telah berhasil memicu kembali diskusi publik yang kompleks—tentang akuntabilitas, kekuasaan, dan bagaimana seni jalanan dapat merefleksikan gejolak politik suatu negara.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar