PARADAPOS.COM - Sebuah kebakaran terjadi di Hotel Mira Ajyad, Makkah, Arab Saudi, yang menampung sejumlah jamaah umrah asal Indonesia. Peristiwa yang berlangsung pada Sabtu sore, 12 Maret 2026 waktu setempat itu berhasil dievakuasi tanpa menimbulkan korban jiwa. Namun, pascakejadian, 18 jamaah yang telah membayar penuh akomodasi mereka menghadapi ketidakpastian terkait tempat tinggal pengganti dan tanggung jawab biaya, menimbulkan dilema di tengah pelaksanaan ibadah mereka.
Evakuasi Selamat di Tengah Kepanikan
Suasana panik sempat menyergap ketika api muncul di hotel yang terletak di kota suci Makkah tersebut. Beruntung, proses evakuasi berjalan lancar dan seluruh jamaah Indonesia yang menginap dapat keluar dengan selamat. Pembimbing jamaah, Ajat Sudrajat, mengonfirmasi keselamatan tersebut dalam keterangan tertulisnya.
"Alhamdulillah jamaah bisa keluar dengan selamat," ungkapnya, menegaskan bahwa keselamatan jiwa adalah hal utama yang patut disyukuri.
Dilema Akomodasi Pascakebakaran
Meski terhindar dari bahaya, masalah justru muncul setelah kejadian. Kedelapan belas jamaah yang seharusnya menginap dari tanggal 9 hingga 18 Maret itu diharuskan mencari hotel lain. Pihak hotel, menurut penuturan pembimbing, mengalihkan tanggung jawab kepada otoritas setempat, sementara jamaah bersikukuh bahwa hotel sebagai penerima pembayaran penuh wajib memberikan solusi.
"Pihak hotel mengatakan tanggung jawab Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, dan saat ditanya kepada Kementerian Haji dan Umrah itu tanggung jawab Muasasah," jelas Ajat mengenai kondisi yang membuat status tanggung jawab menjadi tidak jelas.
Dia menambahkan bahwa upaya meminta kompensasi dari manajemen hotel sempat dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. "Kita sudah minta kompensasi kepada pihak hotelnya, namun mereka keberatan," lanjutnya.
Kondisi Menginap yang Memprihatinkan
Dengan dana yang terbatas dan kelelahan fisik usai menjalani rangkaian ibadah, pilihan jamaah pun sangat terbatas. Mereka akhirnya memutuskan menampung diri sendiri di dua kamar hotel pengganti yang jauh dari standar kenyamanan sebelumnya. Situasi ini menggambarkan kesulitan praktis yang dihadapi di lapangan.
"Sekarang jamaah tinggal tumpuk-tumpuk," tutur Ajat, menggambarkan kondisi yang serba darurat.
Meski sehari kemudian hotel menawarkan akomodasi pengganti, lokasinya yang jauh dan kurang strategis membuat jamaah menolak. Akibatnya, beban biaya tambahan untuk menginap terpaksa ditanggung sendiri oleh jamaah. Hingga berita ini dirangkum, belum ada penyelesaian yang jelas dari pihak terkait, sementara persediaan dana jamaah semakin menipis.
"Sampai saat ini tidak ada solusi dari pihak hotel, dan perwakilan pemerintah Indonesia sementara jamaah uangnya sudah habis," pungkas Ajat, menyiratkan urgensi dari penyelesaian masalah ini.
Artikel Terkait
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax per 10 Juni 2026, Pemerintah Sebut Sesuai Mekanisme Pasar
Iran Tetapkan Jadwal Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada Awal hingga Pertengahan Juli 2026
KAI Alihkan Sejumlah Keberangkatan Kereta Jarak Jauh dari Gambir ke Jatinegara Imbas Penutupan Jalan
AS Tembak Jatuh Drone Iran di Selat Hormuz di Tengah Proses Perundingan Damai