PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Kamis (12/6) di Ruang Oval Gedung Putih, mengklaim bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dengan Iran sudah di ambang pintu. Klaim mengejutkan ini muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengancam akan menghantam Iran dengan kekuatan “amat keras”. Namun, Teheran langsung membantah, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut laporan tersebut masih “spekulatif” dan menegaskan belum ada kesepakatan final. Pernyataan kontradiktif dari kedua kubu ini terjadi di tengah eskalasi militer yang masih berlangsung, termasuk saling serang dan blokade jalur pelayaran vital.
Klaim Trump dan Bantahan Teheran
“Kami baru saja membuat penyelesaian besar atas perang dengan Iran,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval. Pernyataan ini sontak menjadi sorotan mengingat beberapa jam sebelumnya ia justru mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran. Trump menambahkan bahwa dokumen kesepakatan sudah dalam “bentuk yang hampir final” dan penandatanganan “mungkin akan dilakukan di Eropa” setelah proses finalisasi selesai.
Namun, sikap Pemerintah Iran justru sebaliknya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan kepada televisi pemerintah bahwa laporan mengenai adanya kesepakatan masih bersifat “spekulatif”. Ia menegaskan, “belum ada yang disepakati secara final.” Baghaei juga mengakui sebagian besar teks nota kesepahaman sudah “difinalisasi”, tetapi AS dianggap mengajukan “tuntutan berlebihan” dan terus menambahkan “permintaan baru”. Iran, katanya, tidak akan pernah “menyimpang dari garis merahnya.”
Ancaman di Tengah Perundingan
Ironisnya, klaim damai ini datang di tengah ancaman perang yang sangat gamblang. Beberapa jam sebelum pengumuman tersebut, Trump menyatakan “AS akan menghantam Iran dengan sangat keras malam ini.” Ia juga mengancam akan merebut Pulau Kharg—terminal ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90% ekspor minyak negara itu—serta titik infrastruktur minyak lainnya “dalam waktu dekat.”
“Dengan mempertimbangkan ancaman terbaru AS terhadap infrastruktur minyak Iran, maka ekspor minyak dan gas adalah untuk semua orang atau tidak akan tersedia bagi siapa pun,” demikian bunyi pernyataan militer Iran yang membalas ancaman tersebut. Militer Iran bahkan mengancam akan melakukan serangan balasan “lebih keras dari sebelumnya” jika ada serangan lanjutan.
Kronologi Konflik yang Memanas
Ketegangan ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk, serta secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur pelayaran krusial bagi pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada April 2026, kedua pihak tetap saling melancarkan serangan sporadis. Pekan ini saja, sudah terjadi dua putaran serangan balasan. Pemicu terbaru adalah jatuhnya sebuah helikopter Apache milik AS di Teluk pada Senin lalu. Komando Pusat AS (Centcom) kemudian mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan yang menargetkan lokasi militer, pengawasan, dan radar di Iran selatan. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan terhadap pangkalan Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Dampak Global dan Korban Sipil
Eskalasi ini langsung berdampak pada pasar energi global. Setelah pernyataan Trump tentang kesepakatan, harga minyak Brent anjlok menjadi sekitar US$89 per barel, turun 4,4% dalam sehari. Trump juga menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka “segera setelah kesepakatan ditandatangani.”
Di tengah ketegangan, korban sipil mulai berjatuhan. Seorang anak perempuan berusia 11 tahun di Bahrain dilaporkan terluka akibat serangan drone Iran, sementara rumah dan mobil warga setempat juga mengalami kerusakan. Yordania mengaku berhasil menembak jatuh sekitar 20 rudal Iran, dan militer Kuwait mengatakan pasukannya terlibat menghadapi “target udara musuh.”
Insiden lain yang memicu reaksi internasional adalah tewasnya tiga pelaut India dalam serangan AS terhadap sebuah kapal di Teluk Oman. Kapal tersebut dituduh melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran. India pun memanggil seorang diplomat senior AS untuk memprotes kejadian ini. Sebanyak 21 awak kapal lainnya berhasil diselamatkan. Hingga kini, pasukan AS telah menyerang sembilan kapal, termasuk tiga kapal dalam pekan ini.
Sikap Sekutu dan Seruan De-eskalasi
Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi adanya percakapan antara Netanyahu dan Trump, namun menegaskan bahwa Israel “bukan pihak dalam nota kesepahaman” tersebut. Netanyahu menyampaikan apresiasi atas komitmen Trump untuk mendorong kesepakatan final yang mencakup “penghapusan material yang diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi misil, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi teroris di kawasan.”
Sementara itu, seruan untuk meredakan ketegangan terus bergulir. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan dirinya “sangat prihatin atas eskalasi yang terus berlanjut di Timur Tengah.” Ia mendesak semua pihak untuk kembali pada implementasi penuh gencatan senjata dan menghindari memburuknya situasi lebih lanjut. Pakistan, Rusia, China, Turki, India, dan Arab Saudi juga menyerukan langkah-langkah de-eskalasi secara terbuka.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kejagung Akan Periksa Tersangka Korupsi BGN Pekan Depan untuk Uji Kelayakan Status Justice Collaborator
Kejaksaan Agung Tetapkan Pengusaha Jadi Tersangka Kelima Korupsi Pengadaan Motor Listrik Program Makan Bergizi Gratis
Presiden Prabowo Terima Surat Apresiasi dari Siswa SMK di Sorong atas Bantuan Perpustakaan, Toilet, dan Makan Bergizi Gratis
Kejagung Periksa Bankir Maybank Indonesia Terkait Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Grup Salim