Pengorbanan Sunyi di Balik Kemeriahan: Kisah Para Pekerja yang Bertahan di Jakarta Saat Lebaran

- Selasa, 24 Maret 2026 | 01:25 WIB
Pengorbanan Sunyi di Balik Kemeriahan: Kisah Para Pekerja yang Bertahan di Jakarta Saat Lebaran

PARADAPOS.COM - Jakarta berubah wajah setiap menjelang Idul Fitri. Jalanan yang biasanya macet parah mendadak lengang, gedung-gedung perkantoran sepi, sementara jutaan warga memadati terminal dan stasiun untuk mudik. Di balik eksodus massal tahunan ini, terselip sebuah fenomena sosial yang kerap diolok-olokkan di media sosial: "Jakarta kini menyisakan pemain utama". Ungkapan itu merujuk pada para pekerja yang dengan sadar memilih bertahan di ibu kota, menjaga agar denyut nadi kehidupan kota tetap berdetak, sembari berkorban untuk memastikan kebahagiaan keluarga di kampung halaman.

Dasman: Setir yang Bertahan Demi Dapur Tetap Mengepul

Di balik kemudi bus Transjakarta rute 1H (Tanah Abang-Gondangdia), Dasman, seorang pria paruh baya asal Padang, Sumatera Barat, tetap menjalankan tugasnya. Sementara banyak perantau Minang lainnya bersiap untuk pulang basamo, ia memilih untuk tinggal. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Setelah bertahun-tahun menjadi sopir truk lintas daerah, karir barunya sebagai pramudi bus ini memberinya peluang berbeda. Dengan bekerja pada masa libur Lebaran, ia berkesempatan mendapatkan penghasilan lembur yang jauh lebih berarti dibandingkan harus mengeluarkan biaya besar untuk mudik di musim puncak.

Dengan logika yang sederhana namun penuh tanggung jawab, Dasman memilih pengorbanan. Rela ia tukar kehangatan berkumpul keluarga dengan hari-hari di balik setir, asalkan orang-orang tercinta di rumah bisa merayakan dengan tenang.

"Nggak apa-apa saya nggak pulang, asal keluarga bisa Lebaran dengan tenang dan nggak mikirin uang," tuturnya dengan lugas.

Anwar: Kasir yang Menunda Rindu Demi Rezeki Tambahan

Tidak jauh dari titik akhir rute Dasman, di sebuah minimarket di Stasiun Gondangdia, Anwar asal Cianjur masih setia di balik meja kasir. Sudah tiga tahun ia menjalani ritual yang sama: absen di malam takbiran kampung halaman dan baru pulang beberapa hari setelah Idul Fitri, saat arus mudik sudah mulai surut. Bagi pemuda ini, bekerja di hari libur nasional adalah strategi ekonomi yang masuk akal. Kompensasi lembur yang ia peroleh menjadi modal berharga untuk membahagiakan keluarga.

Jerih payah berjam-jam merapikan rak dan melayani pelanggan itu ia tujukan untuk memastikan sanak saudaranya di Cianjur tidak kekurangan sesuatu apapun di hari raya. Pengorbanan waktu dan kerinduannya ia bayar dengan kebahagiaan yang lebih luas untuk orang-orang yang ia cintai.

Abi: Amil yang Berjibaku dengan Amanah Umat

Sementara di ruang pengabdian yang berbeda, Abi, seorang amil zakat di Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Masjid Istiqlal, asal Bandung, justru menghadapi puncak kesibukan. Menjelang Lebaran, tugasnya sebagai penyalur amanah umat menjadi sangat genting. Ia harus memastikan seluruh zakat yang terkumpul dapat didistribusikan kepada para mustahik tepat waktu, sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan. Tuntutan ini kerap memaksanya untuk merelakan momen berkumpul dengan keluarga di Bandung.

Namun, beban tugas yang berat ini dijalani Abi dengan ketulusan. Ia memandangnya sebagai panggilan spiritual, sebuah jalan pengabdian yang dipilihnya dengan kesadaran penuh. Keikhlasannya dalam menjembatani kebaikan dan membersihkan harta umat menjadi sumber energi yang tak pernah padam, meski di hari-hari ketika kerinduan akan kampung halaman terasa paling menyengat.

Benang Merah Pengorbanan Sunyi

Dasman, Anwar, dan Abi mungkin tak saling kenal. Latar belakang dan profesi mereka pun berbeda. Namun, ketiganya diikat oleh satu benang merah yang sama: mereka adalah "pemain utama" yang dengan sadar memilih bertahan. Di tengah sunyinya Jakarta, keringat dan pengorbanan sunyi mereka menjadi penggerak tak tergantikan dari roda-roda kota. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa di balik kemeriahan Idul Fitri, selalu ada cerita tentang cinta yang diwujudkan dalam bentuk perjuangan tanpa batas, demi senyum bahagia keluarga di seberang sana.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar