Perokok Dewasa Beralih ke Vape demi Kurangi Risiko, Didukung Riset Ilmiah

- Jumat, 08 Mei 2026 | 00:00 WIB
Perokok Dewasa Beralih ke Vape demi Kurangi Risiko, Didukung Riset Ilmiah
PARADAPOS.COM - Tingginya angka perokok di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan. Berhenti merokok secara total memang bukan perkara mudah bagi banyak orang. Di tengah situasi ini, pendekatan pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) mulai dilirik sebagai solusi alternatif. Pendekatan ini tidak menuntut perokok untuk langsung berhenti, melainkan mendorong mereka untuk beralih ke produk yang risikonya lebih rendah, seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, atau kantong nikotin. Beberapa perokok dewasa telah membuktikan bahwa langkah ini bukan sekadar ikut-ikutan tren, melainkan keputusan sadar untuk memperbaiki kualitas hidup.

Riset Jadi Landasan Sebelum Beralih

Aldi, seorang pegiat edukasi yang dikenal lewat akun Instagram @vapeducation, mengaku mulai beralih dari rokok ke vape sekitar tahun 2016 hingga 2017. Keputusan itu tidak diambil secara terburu-buru. Ia terlebih dahulu melihat pengalaman teman-temannya yang sudah lebih dulu beralih. Namun, yang membedakan, Aldi merasa perlu mengumpulkan informasi yang valid sebelum benar-benar memutuskan pindah. Ia menelusuri berbagai sumber dan jurnal ilmiah. Hingga akhirnya, Aldi menemukan publikasi dari Public Health England—yang kini dikenal sebagai UK Health Security Agency. Lembaga itu dalam kajian berjudul "Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products" menyimpulkan bahwa rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan mampu menurunkan paparan zat berbahaya secara signifikan, yakni sekitar 90 hingga 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. "Saya riset dulu dan akhirnya saya menemukan beberapa informasi. Di tahun 2015 sudah ada jurnal dari Public Health England yang menyebutkan bahwa vape 95% lebih tidak berbahaya dibanding rokok. Dari situ saya memutuskan untuk mencoba membeli, setelah yakin dari hasil riset," ujar Aldi.

Perubahan Kesehatan yang Terasa Nyata

Setelah benar-benar beralih, Aldi merasakan sendiri perubahan pada tubuhnya. Ia mengaku kondisi pernapasannya terasa lebih panjang dan lega. Nafsu makannya pun meningkat. Dalam waktu satu hingga dua bulan, ia akhirnya berhenti total merokok. "Dari sisi pernapasan, terasa lebih panjang dan lega. Selera makan juga meningkat. Sekitar 1 sampai 2 bulan kemudian, saya akhirnya berhenti total merokok," ungkapnya. Pengalaman pribadi itulah yang mendorong Aldi membangun platform edukasi. Ia berkomitmen menyajikan informasi yang berbasis riset dan berimbang tentang vape. Menurutnya, peralihan ke produk tembakau alternatif harus didasari pemahaman yang tepat, transparansi terhadap risiko, serta akses pada informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. "Kita berhak mendapatkan informasi yang benar. Banyak orang lebih suka konsumsi konten singkat tanpa verifikasi. Saya merasa punya tanggung jawab untuk meluruskan. Kalau ada sisi negatif vape, tetap saya sampaikan. Saya tidak pernah bilang vape sepenuhnya aman, tapi lebih tidak berbahaya 95% dibanding rokok berdasarkan info dari Public Health England," kata Aldi.

Proses Adaptasi dan Dukungan Keluarga

Kisah serupa datang dari Hanif (31), seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan. Selama ini, ia biasa memulai hari dengan sebatang rokok. Namun, beberapa bulan terakhir, ia memilih beralih ke rokok elektronik. Keputusan itu muncul setelah melalui proses panjang, dipicu oleh kekhawatiran terhadap kesehatannya dan dorongan dari keluarga yang menginginkannya hidup lebih sehat. Awalnya, Hanif tidak langsung cocok dengan vape. Ia sempat ragu apakah alat itu benar-benar bisa menggantikan kebiasaan merokoknya. Namun, perlahan-lahan ia mulai menemukan pola yang pas, mulai dari memilih perangkat hingga mengatur frekuensi penggunaan. "Dulu agak sulit menyesuaikan, karena karakter rokok sama vape kan beda, jadi masih terasa ada yang kurang. Tapi lama-lama, saya lebih nyaman pakai vape sih, karena tidak bau seperti rokok," ujar Hanif. Di balik proses adaptasi itu, dukungan keluarga menjadi faktor penting. Istrinya kerap mengingatkan alasan awal Hanif memutuskan beralih, yakni demi kesehatan jangka panjang dan kualitas hidup yang lebih baik. Lingkungan rumah yang kini bebas dari asap rokok juga membuat Hanif merasa lebih nyaman. "Keluarga seneng banget, karena sekarang rumah jadi tidak bau asap rokok. Itu juga yang bikin saya makin yakin untuk lanjut pakai vape," tutupnya.

Pendekatan Bertahap untuk Menekan Prevalensi Merokok

Melalui pengalaman para perokok dewasa yang telah beralih ke produk tembakau alternatif, terlihat bahwa pendekatan pengurangan bahaya tembakau bisa menjadi salah satu opsi bagi mereka yang kesulitan berhenti merokok sepenuhnya. Pendekatan ini membuka ruang bagi upaya pengurangan risiko secara bertahap, sekaligus menjadi bagian dari solusi dalam menekan tingginya prevalensi merokok di Indonesia.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler