Tiang Monorel Mangkrak 19 Tahun di HR Rasuna Said Resmi Dibongkar, Jakarta Sambut HUT ke-499 dengan Wajah Baru

- Jumat, 08 Mei 2026 | 00:25 WIB
Tiang Monorel Mangkrak 19 Tahun di HR Rasuna Said Resmi Dibongkar, Jakarta Sambut HUT ke-499 dengan Wajah Baru
PARADAPOS.COM - Jakarta, April 2026. Pemandangan yang selama hampir dua dekade menghiasi Jalan HR Rasuna Said—ratusan tiang beton monorel yang mangkrak sejak 2007—kini resmi lenyap. Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menuntaskan pembongkaran tiang-tiang tersebut pada awal 2026 sebagai bagian dari revitalisasi kawasan. Proyek ini tidak hanya menghilangkan sumber kemacetan dan gangguan estetika, tetapi juga mengembalikan fungsi jalan sebagai ruang publik yang representatif, tepat saat Ibu Kota bersiap merayakan Hari Ulang Tahun ke-499 pada 22 Juni 2026. Penataan ulang ini mencakup pelebaran lajur lalu lintas, perbaikan trotoar, taman, dan saluran air, menjadikan Jalan HR Rasuna Said sebagai kado istimewa bagi warga Jakarta.

Jejak Proyek yang Terbengkalai

Sejarah tiang-tiang itu bermula dari ambisi besar Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007, Sutiyoso, atau yang akrab disapa Bang Yos. Di tengah hiruk-pikuk kemacetan Jakarta kala itu, ia merancang sistem transportasi massal terpadu yang terdiri dari empat moda: MRT, monorel, busway, dan waterway. Rencana tersebut bukanlah sekadar wacana. Sutiyoso mengumpulkan pakar transportasi dari berbagai universitas dan melakukan studi banding ke sejumlah negara, termasuk Bogota, Kolombia, yang dinilai memiliki kemiripan dengan Jakarta. Namun, jalan menuju realisasi tidaklah mulus. “Kalau tidak pernah saya mulai, sampai ‘hari raya kuda’ juga nggak jadi-jadi,” ujar Sutiyoso kala itu, menggambarkan kegigihannya di tengah situasi sulit. Ia mengakui bahwa mencari investor di masa itu sangat berat. Kondisi sosial-ekonomi yang belum stabil pasca-kerusuhan 1998 dan gejolak ekonomi membuat kepercayaan investor asing terhadap Indonesia, khususnya Jakarta, memudar. Meski demikian, ia tetap yakin bahwa cetak biru yang disusun para ahli adalah solusi jangka panjang untuk kemacetan. Pada 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan pencanangan proyek monorel. Investor dari Tiongkok pun telah siap, dan konstruksi pun dimulai. Namun, ketika Sutiyoso mengakhiri masa jabatannya pada 2007, proyek itu ikut terhenti. Sejak saat itu, tiang-tiang beton itu berdiri kaku, menjadi monumen bisu dari sebuah rencana besar yang gagal. Hingga LRT beroperasi pada 2024, nasib tiang-tiang tersebut tetap tidak menentu.

Transformasi di Bawah Kepemimpinan Baru

Semua berubah ketika Pramono Anung dan Rano Karno memimpin DKI Jakarta. Tiang-tiang monorel yang telah berusia hampir dua dekade itu menjadi sorotan utama. Bagi Pramono, revitalisasi Jalan HR Rasuna Said bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol komitmen pemerintah untuk menata kembali fasilitas publik yang terbengkalai. Langkah ini selaras dengan janji kampanyenya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak tuntas dari para pemimpin Jakarta sebelumnya. Pramono menegaskan bahwa penataan ini penting mengingat peran Jalan HR Rasuna Said yang vital, bukan hanya sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga sebagai cermin Indonesia di mata dunia. Pasalnya, 30 kedutaan besar negara sahabat berkantor di jalan tersebut. Per April 2026, pemandangan tiang-tiang beton di median jalan itu benar-benar telah menghilang. Proses pembongkaran yang dimulai sejak Januari 2026 berjalan lancar. Kini, ruang terbuka di tengah jalan difungsikan kembali sebagai lajur lalu lintas tambahan. Tak ada lagi hambatan yang mengganggu pemandangan. Pramono berharap, wajah baru Rasuna Said nantinya akan setara dengan kawasan Sudirman-Thamrin, yang memiliki jalur pedestrian berkualitas tinggi dan ruas jalan yang luas. Tanpa tiang monorel, Jalan HR Rasuna Said di kawasan Kuningan kini tampak lebih rapi dan apik. Patut dinantikan bagaimana kawasan ini akan menyambut hari jadinya yang ke-499, sebagai bukti bahwa sebuah kota bisa bangkit dari puing-puing masa lalu.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar