PARADAPOS.COM - BlackRock, raksasa manajemen aset global, memperingatkan bahwa ancaman geopolitik di Timur Tengah, khususnya dari Iran, dapat memicu resesi dunia. Peringatan ini disampaikan menyusul proposal perdamaian Amerika Serikat, di tengah kekhawatiran bahwa harga minyak yang bertahan tinggi dapat melumpuhkan perekonomian global.
Peringatan Resesi dari Pimpinan BlackRock
Larry Fink, CEO BlackRock, menyoroti kerentanan jalur perdagangan dan keamanan energi global. Menurutnya, meskipun konflik langsung mereda, risiko dari manuver Iran di Selat Hormuz—jalur vital bagi kapal tanker minyak—tetap membayangi. Fink menggarisbawahi bahwa ancaman ini berpotensi mempertahankan harga minyak pada level yang sangat memberatkan, yakni antara US$100 hingga US$150 per barel.
“Jika konflik mereda, risiko terhadap jalur perdagangan dan keamanan energi tetap tinggi jika tak ada tindakan terhadap manuver dari Iran di Selat Hormuz,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa skenario semacam itu akan membawa dampak besar. Lonjakan harga energi ke level tersebut, tutur Fink, hampir pasti akan mendorong dunia ke dalam resesi melalui efek berantai pada inflasi, daya beli konsumen, dan laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
Volatilitas Pasar dan Gangguan Pasokan Energi
Peringatan Fink bukan tanpa dasar. Harga minyak dunia memang telah bergerak sangat tidak stabil sejak ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas. Konflik ini telah mengganggu distribusi energi global, dengan Selat Hormuz sebagai titik kritis yang paling diawasi. Gangguan ini bahkan digambarkan oleh International Energy Agency (IEA) sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah, yang mencerminkan betapa dalamnya dampak geopolitik terhadap pasar energi.
Proposal Damai AS dan Respons Iran
Di tengah ketegangan, Amerika Serikat menyebut bahwa pembicaraan negosiasi damai dengan Iran masih berlangsung dan bersifat produktif. Proposal yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan berisi lima belas poin, yang menekankan pada penghentian pengembangan teknologi nuklir Iran.
“Washington menyebut bahwa pembicaraan bersifat produktif dan bisa berujung kesepakatan dengan Teheran,” demikian laporan yang beredar.
Poin-poin kuncinya mencakup permintaan agar Iran menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi, menghentikan program pengayaan uranium, membatasi program rudal balistik, serta menghentikan dukungan terhadap sekutu regionalnya di Timur Tengah. Sampai saat ini, Iran dilaporkan masih meninjau proposal tersebut, setelah sebelumnya memberikan respons negatif dan menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington.
Pasar Tetap Sensitif di Tengah Ketidakpastian
Kabar mengenai pembicaraan damai sempat meredam harga minyak, namun sentimen pasar tetap rapuh. Ketidakpastian yang tinggi membuat investor dan pelaku pasar sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, terutama yang berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut. Peringatan dari BlackRock ini menegaskan sebuah realitas: dampak konflik di Timur Tengah telah melampaui batas-batas kawasan. Guncangan terhadap stabilitas ekonomi global bisa bersifat jangka panjang jika gangguan terhadap pasokan energi dunia ini terus berlanjut tanpa resolusi yang jelas dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
DLH DKI Klarifikasi Foto Viral: Bukan Buang Sampah ke Kali, Tapi Operasional Penanganan Resmi
Marcos Santos Selesaikan Tahun Debut Penuh Tantangan di Arema FC
Panglima TNI Pimpin Rotasi Besar-besaran, Puluhan Jabatan Strategis Berganti
Rupiah Mengawali Hari dengan Penguatan, Analis Proyeksikan Tekanan Pelemahan Akan Datang