Rupiah Mengawali Hari dengan Penguatan, Analis Proyeksikan Tekanan Pelemahan Akan Datang

- Kamis, 26 Maret 2026 | 03:25 WIB
Rupiah Mengawali Hari dengan Penguatan, Analis Proyeksikan Tekanan Pelemahan Akan Datang

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis pagi di Jakarta, namun analis memproyeksikan tekanan pelemahan akan segera datang. Penguatan tipis ini terjadi di tengah sentimen pasar yang masih diliputi ketidakpastian, terutama menyusul perkembangan terbaru dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi harga komoditas energi global.

Proyeksi Analis: Rupiah Berpotensi Tertekan

Meski mengawali hari dengan sentimen positif, pandangan para ahli justru lebih berhati-hati. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti bahwa optimisme awal bisa dengan cepat terkikis. Menurutnya, penguatan dolar AS yang didorong oleh keraguan pasar terhadap proses perdamaian di kawasan Timur Tengah menjadi ancaman utama bagi rupiah.

Lukman Leong menjelaskan, "Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh skeptisisme akan perdamaian di Timteng. Harga minyak yang kembali naik juga membebani."

Gejolak Timur Tengah dan Bantahan Iran

Ketegangan yang menjadi pusat perhatian pasar berasal dari dinamika antara Iran dan Amerika Serikat. Kabar mengenai negosiasi antara kedua negara langsung dibantah keras oleh pejabat tinggi Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara tegas menyangkal adanya pembicaraan dengan AS.

Mengutip laporan Anadolu, Ghalibaf menyebut kabar tersebut sebagai "berita palsu" yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial.

Ia menegaskan posisi negaranya dengan menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para agresor. "Semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai," ungkapnya.

Respons AS dan Dampak pada Harga Energi

Di sisi lain, pernyataan dari Presiden AS Donald Trump justru memberikan nuansa berbeda. Trump mengklaim telah memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan. Keputusan ini, menurutnya, diambil karena dialog dengan Tehran dalam dua hari terakhir berjalan "sangat baik dan produktif".

Namun, kontradiksi pernyataan dari kedua pihak ini justru menciptakan keraguan di pasar. Ketidakpastian tersebut langsung berimbas pada harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat telah mencapai level 91 dolar AS per barel, sementara minyak Brent bahkan kembali menembus level psikologis 100 dolar AS per barel.

Antisipasi Pemerintah Menghadapi Krisis Energi

Kenaikan harga minyak yang berlarut-larut tentu menjadi perhatian serius bagi perekonomian domestik. Menanggapi hal ini, pemerintah disebut telah menyiapkan sejumlah skenario antisipasi untuk menghadapi potensi krisis energi. Langkah-langkah penyesuaian fiskal pun mulai dipertimbangkan.

Lukman Leong mengonfirmasi hal tersebut, "Pemerintah telah menyampaikan apabila defisit akan tetap di bawah 3 persen dengan mengurangi anggaran untuk MBG (makan bergizi gratis)."

Dengan demikian, pergerakan rupiah ke depan tidak hanya ditentukan oleh dinamika internal, tetapi sangat rentan terhadap gejolak geopolitik global yang mempengaruhi sentimen investor dan harga komoditas kunci.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar