Survei: Penolakan Publik terhadap Kepemimpinan Trump Tembus Rekor Tertinggi

- Jumat, 27 Maret 2026 | 08:50 WIB
Survei: Penolakan Publik terhadap Kepemimpinan Trump Tembus Rekor Tertinggi

PARADAPOS.COM - Tingkat ketidaksetujuan publik terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencapai rekor tertinggi sepanjang dua masa jabatannya. Sebuah jajak pendapat terbaru mengungkapkan hampir enam dari sepuluh pemilih terdaftar tidak menyetujui cara Trump memimpin negara, dengan penolakan khususnya menguat terkait kebijakan luar negeri dan penanganan ketegangan dengan Iran. Survei ini dirilis di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah pasca operasi militer AS bersama Israel.

Angka Penolakan Tembus Rekor Tertinggi

Data survei yang dirilis pada Rabu lalu menunjukkan tren penolakan yang signifikan. Hampir 60 persen pemilih terdaftar menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap kinerja Trump sebagai presiden. Angka ini melampaui tingkat penolakan tertinggi yang pernah dicatat selama masa jabatan pertamanya di tahun 2017.

Sebaliknya, persetujuan terhadap presiden ke-45 AS itu berada di angka 41 persen. Hanya sekitar separuh dari jumlah tersebut, atau 22 persen, yang menyatakan dukungan sangat kuat terhadap cara kerjanya.

Kebijakan Luar Negeri Jadi Sorotan Kritis

Di luar penilaian umum, agenda kebijakan luar negeri Trump mendapat sorotan lebih tajam. Mayoritas responden, yakni 62 persen, tidak menyetujui arah diplomasi AS di bawah kepemimpinannya. Sentimen negatif ini bahkan lebih tinggi ketika ditanya khusus tentang penanganan konflik dengan Iran, di mana 64 persen menyatakan ketidaksetujuan.

“Survei yang dirilis pada Rabu tersebut menemukan bahwa 59 persen pemilih terdaftar tidak menyetujui cara Trump memimpin sebagai presiden, dengan 47 persen mengatakan mereka sangat tidak setuju,” jelas laporan jajak pendapat tersebut.

Angka-angka ini menunjukkan peningkatan ketidakpuasan yang nyata dibandingkan masa jabatan pertama, di mana penolakan terhadap kebijakan luar negerinya pernah memuncak di angka 56 persen.

Operasi Militer di Iran Tidak Populer

Ketegangan dengan Teheran rupanya turut memengaruhi opini publik. Lebih dari separuh pemilih terdaftar, tepatnya 58 persen, menentang operasi militer AS di Iran. Hanya 42 persen yang menyatakan dukungan, dengan mayoritas di antaranya bersifat agak mendukung, bukan dukungan penuh.

Jajak pendapat lain yang dirilis lebih awal pada pekan yang sama memperkuat tren ini. Survei tersebut mencatat penurunan peringkat persetujuan Trump menjadi 36 persen, sementara 52 persen responden menilai tindakan AS di Iran tidak berjalan dengan baik.

Dampak terhadap Keamanan Nasional

Publik juga tampak skeptis terhadap klaim bahwa operasi militer akan membawa keamanan. Sekitar 44 persen responden justru meyakini aksi militer di Iran akan membuat AS kurang aman. Hanya sepertiga yang percaya hal itu akan meningkatkan keamanan nasional.

Kondisi ini terjadi di tengah jalan buntu negosiasi gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Kedua belah pihak saling mengajukan rencana perdamaian yang berbeda, dengan Iran menolak proposal 15 poin dari AS dan bersikeras pada kedaulatannya atas Selat Hormuz.

Menanggapi kebuntuan ini, Trump memberikan peringatan keras. “Trump menuntut agar para negosiator Iran harus 'segera serius,' jika tidak, 'TIDAK ADA JALAN KEMBALI, dan itu tidak akan menyenangkan!'” ungkapnya.

Survei Fox News yang menjadi dasar laporan ini dilakukan pada 20-23 Maret dengan melibatkan 1.001 responden dan memiliki margin kesalahan tiga poin persentase. Data ini memberikan gambaran jelas tentang tantangan politik yang dihadapi Gedung Putih menjelang periode krusial dalam hubungan internasionalnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar