Menaker Soroti Potensi Industri Kreatif Sebagai Laboratorium Magang Nasional

- Rabu, 01 April 2026 | 03:00 WIB
Menaker Soroti Potensi Industri Kreatif Sebagai Laboratorium Magang Nasional

PARADAPOS.COM - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai industri kreatif berpotensi menjadi laboratorium pengembangan untuk program Magang Nasional. Pernyataan ini disampaikannya di Jakarta pada Rabu, menyoroti peran sektor kreatif dalam menciptakan ruang pembelajaran yang dinamis dan membuka peluang penyerapan tenaga kerja dari ekonomi baru yang terus berkembang.

Industri Kreatif Sebagai Ruang Belajar yang Unik

Menurut Yassierli, karakter industri kreatif yang khas—dengan tuntutan tinggi akan adaptasi, kreativitas, dan kolaborasi—menjadikannya lingkungan yang ideal untuk menguji coba model magang di luar jalur konvensional. Sektor ini dinilai mampu memberikan pengalaman kerja yang berbeda, sekaligus memperkaya kerangka pelaksanaan program nasional.

“Kami melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Industri kreatif merupakan sektor yang perlu didukung karena dapat membuka lapangan kerja dan menumbuhkan industri di Indonesia,” ungkapnya.

Desain Program Magang yang Berorientasi Kompetensi

Lebih jauh, Menaker menjelaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memastikan Magang Nasional memberikan pengalaman kerja yang nyata dan relevan. Program ini dirancang secara sistematis dengan durasi enam bulan, melibatkan pendampingan mentor dan pencatatan aktivitas harian sebagai bahan evaluasi perkembangan peserta.

“Dengan pola tersebut, peserta diharapkan tidak hanya menjalani masa magang, tetapi juga mengalami peningkatan keterampilan yang terukur,” jelas Yassierli.

Tujuan Utama: Penyiapan Tenaga Kerja yang Kompetitif

Yassierli menegaskan bahwa orientasi program ini bukanlah penyerapan tenaga kerja secara langsung, melainkan penyiapan kompetensi. Target utamanya adalah membekali para peserta, yang banyak di antaranya adalah fresh graduate, dengan pengalaman dan sertifikasi yang meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja.

“Sasaran utama magang adalah penyiapan tenaga kerja agar siap bekerja. Sebelum magang, banyak peserta merupakan fresh graduate tanpa pengalaman. Setelah enam bulan, mereka memiliki pengalaman kerja dan sertifikat magang sehingga kompetensinya meningkat,” tuturnya.

Dampak Positif di Luar Ekspektasi

Meski rekruitmen tetap bukanlah tujuan pokok, Menaker mengakui bahwa hal tersebut kerap terjadi sebagai dampak alami dari program. Banyak perusahaan yang akhirnya memilih untuk merekrut peserta magang setelah melihat langsung kontribusi dan perkembangan kemampuan mereka selama periode enam bulan tersebut.

“Di beberapa tempat, perusahaan akhirnya merekrut peserta karena sudah enam bulan bekerja bersama dan dinilai siap. Itu memang bukan tujuan utama, tetapi menjadi dampak positif dari program ini,” pungkas Yassierli.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar