Rupiah Menguat Tipis Meski Dolar AS Menguat Global, Kontras dengan Mata Uang Asia

- Kamis, 02 April 2026 | 05:25 WIB
Rupiah Menguat Tipis Meski Dolar AS Menguat Global, Kontras dengan Mata Uang Asia

PARADAPOS.COM - Rupiah menunjukkan ketahanan yang cukup baik pada perdagangan Kamis (2/4/2026), dengan menguat tipis meskipun dolar Amerika Serikat menguat secara global. Penguatan mata uang nasional ini terjadi pasca pidato Presiden AS Donald Trump yang mendorong apresiasi greenback, sementara mayoritas mata uang kawasan Asia justru melemah.

Resiliensi di Tengah Arus Global

Pada pembukaan perdagangan pagi itu, rupiah tercatat menguat 0,03% terhadap dolar AS, bergerak ke level Rp16.970. Apresiasi ini melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya. Performa tersebut menarik perhatian mengingat terjadi bersamaan dengan penguatan Indeks Dolar (DXY) yang naik 0,22% ke level 99,891. Kenaikan DXY mengindikasikan tekanan beli yang luas terhadap mata uang AS, yang seringkali membebani nilai tukar negara berkembang.

Sentimen dari Pidato Trump

Penguatan dolar AS tidak lepas dari respons pasar terhadap pidato terbaru Donald Trump. Pidato tersebut dianggap memberikan sinyal baru mengenai arah kebijakan ekonomi dan fiskal Amerika Serikat, yang memicu optimisme di kalangan trader valuta asing.

"Sentimen penguatan dolar AS ini dipicu oleh respon pasar terhadap pidato Presiden Donald Trump yang memberikan arah baru bagi kebijakan ekonomi negara tersebut," jelas data yang terpantau dari pasar.

Kontras dengan Performa Mata Uang Asia

Sementara rupiah bertahan di zona hijau, tekanan dolar yang kuat justru membuat sejumlah mata uang utama Asia terkapar. Yen Jepang menjadi yang terdepresiasi paling dalam dengan pelemahan 0,30%, diikuti Won Korea yang anjlok signifikan sebesar 0,51%. Kondisi serupa dialami Yuan China yang melemah 0,13% dan Baht Thailand yang menyusut 0,37%.

Perbedaan respons ini menggarisbawahi dinamika kompleks yang mempengaruhi nilai tukar, di mana faktor internal dan persepsi risiko spesifik negara juga turut berperan, di samping tekanan eksternal dari mata uang global seperti dolar AS.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar