PARADAPOS.COM - Badan Energi Internasional (IEA) mendukung inisiatif pemerintah Indonesia dalam mengajak masyarakat berhemat energi. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah gejolak pasar global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Intinya, upaya kolektif dari tingkat rumah tangga hingga kebijakan nasional dianggap sebagai respons yang tepat untuk mengantisipasi dampak krisis.
Dukungan IEA untuk Kebiasaan Hemat Energi
Merespons situasi tersebut, IEA menekankan bahwa penghematan energi tidak selalu memerlukan perubahan drastis. Sebaliknya, lembaga yang berbasis di Paris itu menyebut bahwa konsistensi dalam kebiasaan sehari-hari justru memberikan dampak signifikan. Rekomendasinya bersifat praktis dan bisa langsung diterapkan di rumah tangga.
“Hemat energi itu bukan soal perubahan besar yang sulit dilakukan, melainkan kebiasaan kecil yang konsisten,” ungkap IEA melalui pernyataan resminya yang dipantau dari Jakarta pada Jumat.
Kebiasaan kecil yang dimaksud mencakup mematikan AC saat ruangan kosong, memastikan pintu dan jendela tertutup rapat untuk efisiensi pendinginan, serta memanfaatkan tirai tebal untuk menstabilkan suhu ruangan. IEA juga menganjurkan pergantian lampu konvensional ke LED dan pengaturan pemanas air sesuai kebutuhan, bukan dibiarkan menyala terus-menerus.
Efisiensi dari Transportasi hingga Kebijakan Pemerintah
Selain di sektor rumah tangga, efisiensi energi juga bisa digali dari pola transportasi. IEA menyarankan berkendara dengan gaya yang lebih halus dan terukur untuk menghemat bahan bakar.
“Berkendara dengan stabil, tidak ngebut, dan menghindari akselerasi mendadak bisa membuat bahan bakar lebih awet,” jelasnya.
Alternatif lain seperti beralih ke transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki untuk jarak dekat juga sangat dianjurkan. Rekomendasi ini selaras dengan arahan yang disampaikan pemerintah Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Dalam sidang kabinet di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto telah mendorong langkah penghematan konsumsi BBM dan mempertimbangkan opsi kerja dari rumah (WFH) sebagai langkah antisipasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pun turut mengajak publik untuk membudayakan hemat energi, baik di rumah maupun tempat kerja, serta lebih memprioritaskan angkutan umum.
Respons Global terhadap Ketidakpastian Energi
Langkah penghematan energi bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara di Asia telah lebih dulu mengambil kebijakan serupa untuk merespons ketidakpastian global. Thailand, contohnya, menerapkan kerja dari rumah bagi pegawai negeri, membatasi penggunaan lift dan eskalator, serta menetapkan suhu AC pada kisaran 26–27 derajat Celsius.
Sementara itu, Filipina memberlakukan sistem kerja empat hari dalam sepekan untuk sektor publik. Pakistan juga menyiapkan rencana serupa yang mencakup pembelajaran jarak jauh dan pengaturan kerja dari rumah. Berbagai kebijakan ini menunjukkan bahwa krisis energi global telah memicu respons yang nyaris seragam: efisiensi dan konservasi menjadi kata kunci utama di banyak ibu kota negara.
Artikel Terkait
Imam Katedral Jakarta Serukan Ketahanan Iman bagi Generasi Muda di Tengah Tantangan Global
PPATK Studi Banding ke Humas Polda Metro Jaya Perdalam Strategi Komunikasi Digital
PLTP Lahendong Tetap Beroperasi Normal Pascagempa M 7,3
TVRI Gelar Fun Walk Bola Gembira Serentak di 26 Provinsi Awal April