PARADAPOS.COM - Di balik angka-angka ekonomi yang presisi—mulai dari produk domestik bruto, grafik nilai tukar, hingga inflasi—tersembunyi sebuah realitas pahit: ketika data itu dibawa ke hadapan publik, hukum-hukum ilmu ekonomi sering kali luntur. Para pemimpin publik kerap menyederhanakan urusan ekonomi global, memicu tudingan dan nyinyiran dari kalangan terdidik. Namun, di balik simplifikasi itu, ada strategi komunikasi politik yang matang: mengendalikan kepanikan kolektif. Artikel ini mengupas mengapa bahasa populis yang menenangkan seringkali lebih penting daripada kuliah ekonomi yang rumit, serta bagaimana dua rel komunikasi—teknokrat dan pemimpin—berjalan beriringan dalam menjaga stabilitas sosial.