PARADAPOS.COM - Di balik angka-angka ekonomi yang presisi—mulai dari produk domestik bruto, grafik nilai tukar, hingga inflasi—tersembunyi sebuah realitas pahit: ketika data itu dibawa ke hadapan publik, hukum-hukum ilmu ekonomi sering kali luntur. Para pemimpin publik kerap menyederhanakan urusan ekonomi global, memicu tudingan dan nyinyiran dari kalangan terdidik. Namun, di balik simplifikasi itu, ada strategi komunikasi politik yang matang: mengendalikan kepanikan kolektif. Artikel ini mengupas mengapa bahasa populis yang menenangkan seringkali lebih penting daripada kuliah ekonomi yang rumit, serta bagaimana dua rel komunikasi—teknokrat dan pemimpin—berjalan beriringan dalam menjaga stabilitas sosial.
Ketika Sains Berhadapan dengan Psikologi Massa
Di ruang rapat yang steril, rumus-rumus ekonomi menjadi panglima. Segalanya harus terukur, berbasis data, dan nyaris tak menyisakan ruang bagi salah tafsir. Namun, begitu data ekonomi yang rumit itu dibawa keluar ruangan, melintasi koridor kekuasaan, dan dideklamasikan di hadapan jutaan rakyat di lapangan terbuka, sains yang diklaim presisi itu harus berhadapan dengan hukum yang jauh lebih tua: komunikasi massa dan pengelolaan psikologi publik.
Bagi sebagian kalangan yang terbiasa berpikir tekstual, pernyataan para pemimpin publik yang menyederhanakan urusan ekonomi global sering kali memicu respons instan. Muncul tudingan, nyinyiran, hingga kesimpulan bahwa pengambil keputusan tertinggi tidak paham duduk perkara.
"Bagaimana bisa urusan ekonomi makro yang berdampak sistemik disederhanakan begitu saja?" Begitu kira-kira gugatan yang sering mampir di lini masa media sosial.
Benarkah ini tanda ketidakpahaman? Atau jangan-jangan, analisis kita yang terlalu naif? Menilai ucapan seorang politisi dengan kacamata buku teks kuliah adalah sebuah kekeliruan mutlak.
Apa yang dinilai publik sebagai "keteledoran lidah" atau "simplifikasi", sebenarnya sering kali merupakan kalkulasi bahasa yang sangat matang. Itu adalah rem darurat linguistik yang sengaja ditarik demi mengendalikan musuh paling berbahaya dalam setiap krisis ekonomi: kepanikan kolektif.
Dalam ilmu komunikasi politik, dikenal sebuah strategi yang disebut strategic ambiguity atau ambiguitas yang disengaja. Intinya sederhana, seorang pemimpin tidak punya kewajiban untuk memberikan kuliah umum setingkat doktoral kepada rakyatnya. Tugas utamanya adalah menjaga agar psikologi massa tetap tenang dan roda sosial tetap berputar.
Dua Rel Komunikasi Pemerintahan
Ketika sebuah negara dihantam badai dari luar, entah itu karena guncangan pasar global atau ketidakpastian geopolitik, mesin komunikasi pemerintah akan langsung membelah diri menjadi dua rel yang berbeda arah, tetapi berjalan beriringan.
Rel pertama adalah bahasa para teknokrat. Ini tugasnya menteri-menteri ekonomi, kepala badan, atau gubernur bank sentral. Bahasa mereka harus dingin, dalam koridor ilmu ekonomi, penuh angka, dan bicara soal postur anggaran hingga kontribusi belanja konsumen. Audiens mereka sangat spesifik, yaitu pelaku pasar, investor, pengamat ekonomi, dan lembaga donor internasional. Di rel ini, akurasi data adalah harga mati untuk menjaga kepercayaan modal.
Namun, di saat yang sama, rel kedua harus berputar. Ini adalah ranah eksklusif milik otoritas tertinggi negara, sang pemimpin politik. Bahasanya tidak didesain untuk ruang rapat, melainkan untuk telinga masyarakat awam di pelosok-pelosok desa.
Bayangkan jika seorang kepala negara datang ke pasar atau desa terpencil, lalu berpidato menggunakan istilah imported inflation (inflasi barang impor), defisit transaksi berjalan, atau volatilitas indeks saham. Jangankan menenangkan, istilah-istilah asing itu justru akan memicu kebingungan dan kecurigaan. Alih-alih paham, masyarakat bawah justru akan merasa ada bahaya besar yang sedang mengintai mereka. Dengan begitu, bahasa populer yang super sederhana masuk sebagai penyelamat.
Komunikasi Politik: Panggung Simbol untuk Rakyat
Sosiolog politik, Murray Edelman, pernah menulis bahwa bagi sebagian besar rakyat, politik itu bukanlah soal pasal-pasal hukum. Politik adalah sebuah panggung simbol. Rakyat tidak selalu perlu tahu bagaimana jeroan mesin ekonomi bekerja di tengah badai global. Mereka hanya perlu diyakinkan bahwa kapten yang memegang kemudi kapal besar ini tetap tenang, kadang guyon, dan tahu arah.
Penyederhanaan bahasa, bahkan yang terkesan mengabaikan teori ekonomi dunia, sebenarnya berfungsi sebagai peredam kejut sosial. Ketika seorang pemimpin berkata bahwa badai global tidak akan berpengaruh pada kehidupan di desa, ia bukan sedang mengesampingkan sebab akibat ilmu ekonomi, tapi sedang melakukan komunikasi politik.
Dalam psikologi massa, kepanikan itu jauh lebih menular dan merusak ketimbang inflasi itu sendiri. Jika emak-emak di pasar dan petani di desa ikut panik mendengar goyangan mata uang dunia, dampaknya akan instan dan mengerikan. Bisa saja terjadi aksi borong barang (panic buying), atau muncul ketidakpercayaan pada institusi keuangan.
Jika ini terjadi, ekonomi riil justru akan lumpuh seketika. Bahasa populis yang menenangkan berfungsi menjaga agar warung-warung di desa tetap buka dan transaksi kecil harian tetap berputar tanpa dihantui ketakutan yang abstrak.
Pelajaran dari Sejarah: Fireside Chats ala Roosevelt
Pola komunikasi seperti ini bukan barang baru dan dipakai oleh hampir semua pemimpin besar dunia sepanjang sejarah. Contoh, Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt menenangkan negaranya saat dihantam krisis Great Depression lewat siaran radio terkenal yang disebut Fireside Chats atau Obrolan di Samping Perapian.
Roosevelt tidak menggunakan istilah-istilah rumit bursa saham Wall Street untuk menjelaskan mengapa ribuan bank bangkrut. Ia berbicara dengan bahasa ruang tamu, memakai analogi sederhana tentang bagaimana bank menyimpan uang masyarakat secara gotong royong di dalam brankas.
Apakah Roosevelt bodoh dan tidak tahu teori moneter yang rumit? Tentu tidak. Namun, ia sadar betul bahwa mengembalikan rasa percaya rakyat jauh lebih mendesak daripada memberi kuliah ekonomi yang hanya bikin dahi berkerut.
Menimbang Kritik dan Fungsi Kontrol
Tentu saja, kritik dari kelas menengah terdidik atau netizen di media sosial tetap diperlukan. Itu adalah tanda bahwa fungsi kontrol dalam demokrasi masih menyala. Masyarakat yang punya akses internet dan pendidikan tinggi berhak menuntut penjelasan yang lebih ilmiah.
Namun, jika kita melihat gambaran besarnya, benturan antara "bahasa rasa" di tingkat atas dan "bahasa data" di tingkat kementerian sebenarnya adalah sebuah komunikasi pemerintahan yang dimainkan dengan rapi.
Saat sang pemimpin berbicara dengan bahasa yang cair, akrab, atau dengan gayanya sendiri, barisan teknokrat di belakang layar tetap bekerja keras memutar otak. Mereka mengeksekusi reformasi aturan, menjaga APBN tetap sehat, menggerakkan sektor swasta, dan memastikan bantuan sosial tetap mengalir ke dompet masyarakat bawah.
Intinya, mengukur kualitas bahasa politik dengan standar buku teks akademik adalah sebuah kekeliruan arah. Bahasa politik bukan untuk debat ilmiah di ruang seminar.
Seorang pemimpin yang lihai tahu kapan harus berbicara seperti seorang ekonom yang ahli membaca arah global, dan kapan harus berbicara dengan bahasa paling mudah dipahami. Tidak melulu teknikal. Dan yang terpenting, tidak selalu terlalu awam, apalagi normatif.
Artikel Terkait
Arsenal Kunci Kemenangan 1-0 atas Burnley, Kokoh di Puncak Klasemen dengan Keunggulan Lima Poin
KPK Soroti Praktik Pemberian THR dan Dana Hibah Kepala Daerah ke Aparat Hukum yang Tak Berlandaskan Hukum
Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.669, Pasar Spekulasi BI Naikkan Suku Bunga
Projo Bantah Inisiatif Blusukan Jokowi, Klaim Ajakan Langsung dari Mantan Presiden