PARADAPOS.COM - Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong di Sulawesi Utara tetap stabil dan tidak mengalami gangguan signifikan pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,3 yang mengguncang wilayah tersebut pada Kamis (2 April 2026). Manajemen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) memastikan seluruh unit pembangkit, dari Unit 1 hingga 6, berjalan normal setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
Prosedur Darurat Diaktifkan, Operasional Tetap Stabil
Menanggapi kejadian gempa, tim di PGE Area Lahendong langsung mengaktifkan prosedur tanggap darurat. Pemeriksaan cepat dan menyeluruh dilakukan terhadap seluruh fasilitas operasional, aset perusahaan, serta aspek keselamatan pekerja dan lingkungan sekitar. Langkah ini merupakan bagian dari protokol standar yang dirancang untuk situasi serupa.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada kerusakan yang mengganggu kontinuitas pasokan listrik. Keandalan sistem pembangkit yang berbasis energi bersih ini tetap terjaga.
Tidak Ada Dampak Signifikan pada Lingkungan dan Keselamatan
Selain dari sisi operasional, aspek lingkungan dan keselamatan juga menjadi fokus utama evaluasi pascagempa. Pemeriksaan mendetail memastikan tidak ada indikasi kebocoran atau gangguan pada sistem pengamanan lingkungan yang diterapkan di area pembangkit.
Novi Purwono, General Manager PGE Area Lahendong, menegaskan temuan tersebut. "Selain itu, dari aspek lingkungan, tidak terdapat indikasi gangguan maupun dampak signifikan akibat kejadian gempa. Seluruh sistem pengamanan lingkungan dan operasional tetap berjalan sesuai standar yang berlaku," jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/4/2026).
Dari sisi sumber daya manusia, seluruh karyawan yang bertugas dilaporkan dalam kondisi aman. Perusahaan juga terus berkoordinasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lokal untuk memantau perkembangan situasi.
Peran Vital dalam Pasokan Listrik Regional
Stabilitas PLTP Lahendong pasca bencana alam ini memiliki arti penting bagi ketahanan energi di wilayah timah Indonesia. Pembangkit panas bumi ini merupakan salah satu penyangga utama pasokan listrik untuk wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Novi Purwono menambahkan, "Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan respons yang cepat dan tepat terhadap kondisi pasca gempa ini."
Dengan kapasitas terpasang sebesar 120 Megawatt (MW), PLTP Lahendong berkontribusi memenuhi sekitar 30% kebutuhan listrik di sekitar area operasinya. Hingga akhir Desember 2025, pembangkit ini tercatat telah menghasilkan listrik ramah lingkungan sekitar 849 Gigawatt-hour (GWh), menunjukkan perannya yang konsisten dalam bauran energi nasional.
Pemantauan intensif terhadap kondisi operasional dan keselamatan akan terus dilakukan oleh tim di lapangan untuk memastikan keandalan pasokan listrik tetap terjaga dalam situasi pascabencana.
Artikel Terkait
Pemerintah Salurkan PKH dan BPNT Awal April 2026, Begini Cara Cek Penerimanya
Mobil Pikap Terjun ke Jurang 10 Meter di Semarang, Tiga Penumpang Selamat
Menaker Serukan Transformasi Hubungan Industrial Menuju Kemitraan Strategis
Mengupas Makna Ganda Istilah Gaji 2 Digit dalam Percakapan Sehari-hari dan Finansial