PARADAPOS.COM - Sebanyak 220 siswa SD dan SMP di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hingga kini masih menjalani proses belajar mengajar di dalam tenda dan bangunan darurat. Kondisi ini merupakan dampak dari bencana banjir yang melanda kawasan itu pada Desember 2025 lalu, yang merusak fasilitas sekolah mereka. Meski dengan segala keterbatasan, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan agar hak belajar anak-anak tidak terputus.
Upaya Pemerintah Daerah Menjaga Kontinuitas Belajar
Menanggapi situasi darurat tersebut, Dinas Pendidikan setempat langsung mengambil langkah cepat. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas sementara ini dilakukan atas instruksi langsung Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan. Intruksi tersebut menekankan agar tidak ada satupun anak yang berhenti belajar hanya karena gedung sekolah rusak.
Zulkifli mengungkapkan, "Alhamdulillah, meski terdampak banjir, para siswa di Beutong Ateuh tetap bersekolah meski di bangunan darurat."
Ia menambahkan bahwa proses belajar mengajar telah dimulai tepat pada hari pertama masuk sekolah sesuai kalender nasional. Komitmen ini menunjukkan prioritas pemerintah daerah untuk memulihkan normalitas, khususnya di sektor pendidikan, pascabencana.
Rincian Siswa dan Solusi Tempat Belajar
Secara rinci, terdapat 97 siswa SMP Negeri Beutong Ateuh dan 123 siswa SD Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang yang terdampak. Untuk jenjang SMP, kondisi bangunan lama dinilai sudah tidak layak pakai sehingga memerlukan solusi yang lebih permanen.
Pemerintah daerah pun berkoordinasi dengan dinas lain untuk mencari alternatif. "Di SMP ini kan tidak ada lagi bangunannya, jadi dipindah ke lokasi lain. Kami sudah meminta izin pakai ke Disperindagkop Nagan Raya dan alhamdulillah direspons baik oleh kepala dinasnya Pak Samsuar," jelas Zulkifli.
Alhasil, aktivitas belajar SMP dialihkan ke sebuah gedung milik Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM setempat yang sedang tidak digunakan. Sementara untuk siswa SD, pembelajaran tetap dilangsungkan di tenda-tenda darurat yang didirikan di lokasi terdampak.
Dukungan Psikologis dan Peran Guru Lokal
Di balik upaya penyediaan fasilitas fisik, aspek psikologis para siswa juga mendapat perhatian serius. Banyak pihak, mulai dari kelompok mahasiswa hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), turun tangan memberikan program trauma healing untuk memulihkan kondisi mental anak-anak pascatrauma banjir.
Zulkifli mengapresiasi dukungan tersebut. "Banyak pihak yang memberikan semangat, seperti program trauma healing dari mahasiswa dan LSM. Alhamdulillah, kondisi anak-anak sekarang sudah ceria kembali dan bisa menerima keadaan yang ada saat ini," tuturnya.
Faktor lain yang mendukung kelancaran adaptasi adalah komposisi tenaga pengajar. Mayoritas guru yang bertugas di sekolah darurat tersebut adalah putra-putri asli Beutong Ateuh Banggalang. Kedekatan kultural dan pemahaman terhadap kondisi lokal dinilai sangat membantu dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif bagi siswa.
Komitmen Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan
Meski diwarnai berbagai tantangan, otoritas pendidikan setempat menyatakan aktivitas belajar mengajar di lokasi darurat tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Pernyataan ini bukan sekadar klaim, tetapi dibuktikan dengan kesiapan infrastruktur darurat dan kesigapan sumber daya manusia di lapangan.
Keberhasilan menjaga kontinuitas pendidikan dalam situasi darurat seperti ini mencerminkan koordinasi yang solid antar dinas terkait dan respons yang cepat terhadap kebutuhan mendesak masyarakat. Upaya di Nagan Raya ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan harus menjadi salah satu sektor pertama yang dipulihkan setelah bencana, sebagai investasi untuk masa depan generasi muda.
Artikel Terkait
Gunung Merapi Catat Ratusan Guguran Lava dan Empat Awan Panas dalam Sepekan
Apindo Desak Stimulus Industri Padat Karya Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Dorong CSR BUMN Dukung Program SMK Go Global, 200 PMI Berangkat ke Jepang
Serangan AS-Israel di Teheran Tewaskan Istri Mantan Menlu Iran