PARADAPOS.COM - Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyoroti kontribusi strategis Muhammadiyah dalam pembangunan nasional, yang dinilainya telah mengambil alih sejumlah peran vital negara. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara silaturahmi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Ngampilan, Yogyakarta, pada Minggu (5/4). Menurut politikus Gerindra tersebut, peran organisasi Islam itu sangat krusial di sektor pendidikan, kesehatan, dan jaring pengaman sosial, yang telah berjalan konsisten jauh sebelum Indonesia merdeka.
Peran Strategis di Tengah Keterbatasan Negara
Dalam paparannya, Muzani mendetailkan bagaimana amal usaha Muhammadiyah hadir mengisi celah yang kerap tak terjangkau sepenuhnya oleh negara. Lembaga pendidikan, rumah sakit, hingga panti asuhan yang dikelola organisasi tersebut, menurutnya, merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang berkelanjutan.
“Cinta Muhammadiyah terhadap Indonesia, luar biasa. Begitu cintanya Muhammadiyah terhadap Republik Indonesia ini, support dan dukungan terus diberikan kepada siapa pun yang memerintah negeri ini,” ucap Muzani.
“Pendidikan Muhammadiyah, sekolah Muhammadiyah, rumah sakit Muhammadiyah, panti asuhan Muhammadiyah, dan semua amal Muhammadiyah tidak berhenti kepada siapa pun pemerintah yang memimpin negeri ini,” sambungnya.
Ia menjelaskan bahwa beban anggaran negara untuk menangani seluruh kebutuhan dasar rakyat masih terbatas. Di sinilah, kontribusi Muhammadiyah memberikan dampak penguatan yang signifikan.
“Karena kemampuan negara untuk menyekolahkan anak-anak dan rakyatnya tidak mungkin bisa kuat dengan APBN seperti sekarang ini meskipun ada beban 20 persen dari total APBN,” paparnya lebih lanjut. “Demikian juga dengan penanganan fakir miskin, yatim piatu, dan anak-anak telantar.”
Pesan untuk Menjaga Khittah Perjuangan
Di tengah apresiasi atas kontribusi nyata tersebut, Muzani juga menyelipkan pesan kehati-hatian. Ia mengingatkan agar Muhammadiyah tetap berpegang pada idealisme dan tradisi organisasi yang telah dibangun, seperti kesederhanaan dan amanah, serta tidak tergelincir pada pragmatisme.
“Pesan saya, tetaplah berpegang teguh pada tradisi Muhammadiyah. Hidup sederhana, teruslah memegang amanah dengan baik, dan jangan tergoda dengan pragmatisme,” tuturnya.
“Kalau kita bisa menghindari pragmatisme, maka kita akan tetap dapat menjaga idealisme. Dan idealisme itu adalah cara kita menjaga kemurnian tujuan perjuangan kita,” tegas Muzani.
Ia mencontohkan bahwa sikap kritis yang pernah ditunjukkan tokoh Muhammadiyah seperti almarhum Profesor Amien Rais terhadap pemerintah Orde Baru, tidak lantas mengurangi komitmen organisasi terhadap bangsa. Kritik yang konstruktif, dalam pandangannya, justru bagian dari peran serta dalam menjaga arah negara.
Konteks Kebijakan dan Penekanan pada Persatuan
Muzani juga menyentuh langkah pemerintahan baru dengan menyebut program Sekolah Rakyat yang diusung Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya negara memperkuat perannya. Program tersebut disebutnya sebagai ijtihad politik untuk merealisasikan tanggung jawab konstitusional negara di bidang pendidikan dan penanggulangan kemiskinan.
Di akhir penyampaiannya, ia menekankan pondasi terpenting bagi keberlanjutan pembangunan: persatuan bangsa. Dengan nada reflektif, Muzani membandingkan kondisi damai Indonesia dengan konflik yang melanda beberapa negara Timur Tengah.
“Kita bisa duduk seperti ini karena ada persatuan, ada silaturahmi, ada kebersamaan, kita saling menghormati, ada toleransi. Tidak mungkin seperti ini terjadi sekarang ini di Iran. Tidak mungkin seperti ini terjadi di Lebanon,” ujarnya.
“Karena itu teruslah menjaga persatuan bangsa. Teruslah menjaga kebersamaan,” pungkas Muzani, menutup arahan yang menekankan harmoni antara peran organisasi masyarakat, pemerintah, dan solidaritas nasional.
Artikel Terkait
Brimob Gerebek Pesta Miras dan Tangkap Remaja Ngebut di Jakarta Timur
Wilder Atasi Chisora dalam Duel Sengit, Petinju Inggris Pensiun
Militer Nigeria Tewaskan Puluhan Bandit Usai Penculikan Massal di Zamfara
Jadwal Lengkap Ibadah Ramadan di Bandung untuk 6 April 2026