UEA dan Negara Teluk Kutuk Serangan Iran, Tegaskan Komitmen pada Jalur Diplomasi

- Rabu, 08 April 2026 | 17:25 WIB
UEA dan Negara Teluk Kutuk Serangan Iran, Tegaskan Komitmen pada Jalur Diplomasi

PARADAPOS.COM - Uni Emirat Arab (UEA) dan negara-negara Teluk lainnya secara resmi mengutuk serangan yang dilancarkan Iran, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Meskipun mengecam keras, pernyataan resmi dari Dubes UEA menegaskan komitmen kuat kawasan untuk tetap menjaga jalur diplomasi dan mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. Pernyataan ini disampaikan di tengah laporan tentang dampak serangan yang telah menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur sipil.

Komitmen pada De-eskalasi dan Kerja Sama

Dalam pernyataannya, Duta Besar UEA untuk PBB, Abdulla Salem AlDhaheri, menekankan bahwa pilihan utama negara-negara kawasan adalah jalan damai. Sikap ini diambil meskipun tekanan keamanan yang dihadapi sangat nyata. AlDhaheri menyampaikan posisi tersebut dengan bahasa yang jelas dan terukur, mencerminkan pendekatan diplomatik yang hati-hati.

"Kami tetap berkomitmen pada diplomasi, de-eskalasi, dan kerja sama internasional," ujarnya pada Rabu, 8 April 2026.

Ia melanjutkan dengan menjelaskan prinsip yang dipegang oleh UEA beserta mitra-mitranya di kawasan. Prinsip tersebut menempatkan stabilitas jangka panjang di atas reaksi spontan.

"Kami bersama negara-negara Teluk dan Yordania akan terus mengedepankan stabilitas dibandingkan eskalasi, tanggung jawab dibandingkan reaksi, serta kerja sama dibandingkan konflik," tegas AlDhaheri.

Dampak Nyata Serangan di Lapangan

Di balik bahasa diplomatik, situasi di lapangan menggambarkan tantangan keamanan yang serius. Pihak UEA mengungkapkan data operasional pertahanan udaranya yang cukup signifikan hingga 7 April 2026. Angka-angka yang dirilis menunjukkan intensitas serangan yang dihadapi, meski sebagian besar berhasil dinetralisir.

"Per tanggal 7 April 2026, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab telah berhasil mendeteksi dan mencegat 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan 2.221 drone," jelasnya.

Namun, keberhasilan pertahanan udara itu tidak sepenuhnya mencegah jatuhnya korban. Puing-puing dari proyektil yang dihancurkan justru menimbulkan konsekuensi tragis di area permukiman warga. Akibatnya, tercatat 13 orang meninggal dunia dan 217 lainnya luka-luka. Kerusakan juga melanda sejumlah infrastruktur vital, termasuk bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi.

Distribusi Sasaran dan Prioritas Diplomasi

Dubes AlDhaheri juga memberikan analisis mengenai pola serangan, yang menurut data mayoritas diarahkan ke negara-negara kawasan, bukan hanya satu pihak tertentu. Pemaparan ini memberikan konteks lebih luas tentang dinamika konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional.

"Statistik terbaru menunjukkan bahwa sekitar 85 persen rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara GCC dan Yordania, sementara hanya sekitar 15 persen yang menargetkan Israel," ungkapnya.

Menutup pernyataannya, AlDhaheri kembali menegaskan komitmen untuk membangun kerja sama internasional yang inklusif, termasuk dengan mitra strategis di Asia. Fokusnya tetap pada upaya kolektif untuk menciptakan perdamaian.

"Kami akan terus bekerja sama dengan para mitra internasional, termasuk Indonesia, untuk mendorong perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama," pungkasnya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar