PARADAPOS.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat mendorong perbankan untuk berinovasi guna meningkatkan inklusi keuangan syariah di wilayah tersebut. Dorongan ini disampaikan langsung oleh pejabat OJK dalam sebuah forum ekonomi syariah di Bandung, Sabtu (15/3), yang menyoroti pentingnya perluasan jaringan, kolaborasi teknologi, dan kompetisi biaya untuk menjangkau masyarakat lebih luas.
Inovasi Jaringan dan Teknologi Jadi Kunci
Dalam paparannya, Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Jawa Barat, Muhammad Ikhsan, menekankan bahwa langkah pertama yang perlu diambil adalah memperluas jaringan kantor hingga ke pelosok. Menurutnya, kehadiran fisik yang merata menjadi fondasi penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Ikhsan menjelaskan, "Yang utama jaringan kantor. Jaringan kantor yang bisa sampai ke pelosok-pelosok yang ke depannya yang perlu ditingkatkan untuk meningkatkan inklusi."
Namun, ekspansi fisik saja tidak cukup. Ia menambahkan bahwa jaringan kantor harus diperkuat dengan kolaborasi pengembangan teknologi informasi. Inovasi digital dinilai krusial untuk memenuhi ekspektasi masyarakat modern yang menginginkan kemudahan dan kesederhanaan dalam bertransaksi.
"Jaringan kantor itu perlu kolaborasi dengan IT sehingga bisa menjawab kebutuhan, kalau kita lihat masyarakat sekarang, ingin lebih simpel," ucap dia.
Menjawab Tantangan Biaya dan Literasi
Selain aspek jangkauan, Ikhsan juga mengidentifikasi faktor biaya sebagai tantangan lain. Saat ini, biaya layanan di perbankan syariah dinilai masih relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bank konvensional, yang dapat menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat.
"Kemudian dari sisi biaya, kalau di perbankan syariah memang biayanya memang masih lumayan dibandingkan dengan konvensional. Ini juga jadi tantangan, untuk menurunkan biaya terhadap layanan agar lebih luas lagi jangkauannya," kata Ikhsan.
Upaya peningkatan inklusi, lanjutnya, juga perlu didukung oleh kegiatan literasi dan edukasi yang berkelanjutan. Forum-forum diskusi seperti Jabar Islamic Economic Forum (JIEF) dinilai sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan manfaat dan prinsip keuangan syariah kepada publik.
"Jadi, dengan memperkenalkan keuangan syariah kepada masyarakat itu juga dapat meningkatkan literasi maupun inklusi," tuturnya.
Peta Kekuatan dan Tantangan Perbankan di Jawa Barat
Dorongan untuk berinovasi ini disampaikan di tengah peta industri perbankan di Jawa Barat yang masih didominasi oleh bank konvensional. Data OJK per Januari 2026 menunjukkan, bank konvensional menguasai mayoritas aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit, masing-masing di atas 88%. Sementara itu, pangsa perbankan syariah masih berada di kisaran 10%.
Di sisi lain, kinerja Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah menunjukkan dinamika tersendiri. Meski aset, DPK, dan penyaluran kreditnya tumbuh positif secara tahunan, kedua jenis bank ini menghadapi tekanan. Rasio kredit bermasalah (NPL gross) mereka memburuk, dan laba yang diraih pada Januari 2026 mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Data-data ini menggarisbawahi kompleksitas tantangan di lapangan. Di satu sisi, ada potensi pertumbuhan yang perlu dimanfaatkan, khususnya untuk menjangkau segmen yang belum tersentuh. Di sisi lain, terdapat tekanan kinerja dan persaingan ketat yang menuntut perbankan, termasuk syariah, untuk benar-benar kreatif dan efisien dalam melayani masyarakat.
Artikel Terkait
Wagub Kalbar Tantang Dedi Mulyadi Bangun Infrastruktur dengan APBD Terbatas
Juventus Kalahkan Atalanta 1-0, Kokohkan Posisi Empat Klasemen
Perbasi dan Imigrasi Perkuat Pengawasan dan Edukasi Pemain Asing IBL
Imigrasi Siapkan Jalur Cepat dan Tim Khusus untuk Atlet Asing