Analis Proyeksikan Harga Emas Global Bisa Tembus US$5.000, Imbasnya ke Rp3,1 Juta per Gram

- Minggu, 12 April 2026 | 08:50 WIB
Analis Proyeksikan Harga Emas Global Bisa Tembus US$5.000, Imbasnya ke Rp3,1 Juta per Gram

PARADAPOS.COM - Harga emas global berpotensi mengalami reli signifikan menuju level psikologis US$5.000 per troy ons dalam waktu dekat. Analis memproyeksikan, jika skenario tersebut terwujud, harga emas batangan di pasar domestik bisa terdorong melampaui Rp3,1 juta per gram. Proyeksi ini muncul di tengah volatilitas tinggi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan pergeseran kebijakan moneter global.

Proyeksi Lonjakan Harga di Tengah Ketegangan Global

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, melihat volatilitas saat ini justru membuka rentang pergerakan harga yang sangat lebar bagi logam mulia. Dalam analisisnya, eskalasi konflik geopolitik berpotensi mendorong emas dunia mencapai level tertinggi baru hanya dalam hitungan pekan.

“Dalam sepekan ke depan, ada kemungkinan besar harga emas dunia akan melompat di atas US$5.000, tepatnya di US$5.138 per troy ounce. Jika ini terjadi, harga logam mulia di dalam negeri berpotensi melesat ke Rp3,1 juta per gram,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Gejolak Geopolitik sebagai Katalis Utama

Di balik proyeksi tersebut, Ibrahim Assuaibi menilai situasi geopolitik global saat ini sangat krusial. Ia menyoroti bahwa dinamika di lapangan menunjukkan eskalasi yang signifikan, dengan keterlibatan negara-negara besar dalam berbagai konflik.

“Perang Dunia Ketiga sebenarnya sudah berjalan seiring dengan keterlibatan negara-negara besar dalam konflik geopolitik di Timur Tengah,” jelasnya.

Kondisi ini, lanjutnya, mendorong bank sentral di berbagai negara untuk secara aktif mendiversifikasi cadangan devisa mereka, beralih dari ketergantungan pada dolar AS dan menjadikan emas sebagai pilihan utama. Selain itu, ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz menjadi titik perhatian serius. Jika gangguan di jalur distribusi minyak global terjadi, kenaikan harga komoditas energi itu dapat memicu inflasi yang lebih luas.

“Kenaikan harga minyak mentah berdampak negatif terhadap ekonomi global, dan orang menganggap sudah terjadi perang yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga emas condong terus mengalami kenaikan,” tutur Ibrahim.

Dukungan dari Skenario Kebijakan Moneter AS

Selain faktor geopolitik, angin segar bagi harga emas juga diperkirakan datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar tengah mengamati spekulasi mengenai komposisi baru di bank sentral AS di bawah pemerintahan Donald Trump, yang dinilai dapat mengarah pada kebijakan yang lebih akomodatif.

Analis melihat potensi kerja sama yang lebih erat antara pemerintah dan The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan. Secara historis, lingkungan suku bunga rendah merupakan katalis positif bagi emas, karena mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan bunga seperti logam mulia. Dalam iklim ketidakpastian yang kompleks ini, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset safe-haven yang dipercaya investor global.

Disclaimer: Konten ini disajikan untuk tujuan informasi dan analisis semata, bukan sebagai rekomendasi investasi personal. Setiap keputusan investasi membawa risiko dan menjadi tanggung jawab penuh masing-masing individu.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar