PARADAPOS.COM - Seorang nenek berusia 74 tahun di Surakarta akhirnya menemukan ketenangan setelah cucunya, yang sempat terjerumus dalam pergaulan bebas, mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di lembaga pendidikan gratis. Ibu Welas, yang tinggal di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, kini menyaksikan transformasi positif pada diri Julio, cucunya, berkat program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Perjalanan Hidup yang Penuh Tantangan
Dunia Julio, yang tumbuh dalam asuhan neneknya, tidaklah mudah. Kehilangan ayah sejak usia balita dan terpaksa putus sekolah di kelas 3 SD membentuk masa kecilnya yang sulit. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di jalanan, jauh dari lingkungan belajar yang aman dan terarah. Kekhawatiran Ibu Welas memuncak ketika kenakalan remaja mulai menyentuh kehidupan cucu semata wayangnya itu.
“Dulu Julio nakal. Sama temen-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran),” tutur Ibu Welas suatu hari di pertengahan April 2026, mengenang masa lalu yang kelam.
Titik Balik di Sekolah Rakyat
Dengan tekad bulat untuk menyelamatkan masa depan Julio, Ibu Welas mencari solusi hingga akhirnya mendaftarkan cucunya ke Sekolah Rakyat. Lembaga berasrama gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem ini menjadi jawaban atas kegelisahannya. Perubahan pun tidak butuh waktu lama untuk terlihat.
Julio berangsur-angsur berubah menjadi sosok yang lebih tenang dan bersemangat belajar. Yang lebih menyentuh, kedekatan emosional antara nenek dan cucu itu kembali terjalin dengan hangat, mengikis jarak yang sempat terbentuk.
“Senang (Julio di Sekolah Rakyat) di bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Katanya, Mak aku seneng, di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi,” ujar Welas, menceritakan keluh kesah Julio dengan nada haru.
Ketenangan di Usia Senja
Bagi seorang nenek yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, ketiadaan beban biaya sekolah merupakan anugerah yang sangat berarti. Sebelumnya, tuntutan uang saku harian Julio kerap menjadi beban tambahan yang sulit dipikul. Kini, Ibu Welas bisa bernapas lega. Ia tak hanya melihat cucunya berada di lingkungan yang positif, tetapi juga terbebas dari kekhawatiran finansial untuk pendidikannya.
Di balik senyumnya, tersimpan harapan yang tulus dan mendalam untuk masa depan Julio. Harapan yang lahir dari kesadaran akan usia lanjutnya dan keinginan agar cucunya mandiri sebelum ia pergi.
“Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak terlantar. Saya sudah tua. Nani sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik,” harap sang nenek dengan suara lirih penuh makna.
Rasa Syukur yang Mendalam
Transformasi yang dialami Julio bukan sekadar perubahan sikap biasa. Bagi keluarga kecil ini, itu adalah sebuah penyelamatan. Atas kesempatan itu, Ibu Welas menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung.
“Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuhun. Kadose pinter, dados tiang sing genah. (Terima kasih Pak Prabowo, cucu saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat. Semoga cucu saya jadi orang yang hidupnya baik),” ungkapnya dengan bahasa Jawa yang kental, mencerminkan rasa syukur yang tulus dari hati.
Kisah Ibu Welas dan Julio adalah potret nyata tentang bagaimana akses pendidikan yang tepat dapat menjadi penentu nasib. Sekolah Rakyat, dalam narasi ini, telah menjadi lebih dari sekadar bangunan; ia adalah jembatan menuju harapan baru bagi mereka yang hampir kehilangan arah.
Artikel Terkait
Bea Cukai Tanjung Perak Ungkap Miras dan Kosmetik Ilegal di Impor Jalur Merah
IBL All-Star 2026 Sukses Digelar di Bandung, AJ Bramah Raih Gelar MVP
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Tanpa Kesepakatan
Kemenhaj Selesaikan Persiapan Teknis Haji 2026, Waspadai Dampak Kenaikan Avtur