Perseteruan Trump-Carlson Buka Retakan di Basis Pendukung Soal Perang Iran

- Senin, 13 April 2026 | 04:50 WIB
Perseteruan Trump-Carlson Buka Retakan di Basis Pendukung Soal Perang Iran

PARADAPOS.COM - Ketegangan publik antara mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson, memanas menyusul kritik tajam Carlson terhadap kebijakan luar negeri Trump. Dalam beberapa wawancara media, Carlson secara terbuka menyebut keputusan Trump untuk melancarkan perang terhadap Iran sebagai kesalahan terbesar dalam sejarah kepresidenan AS modern, sebuah tuduhan yang langsung dibalas Trump dengan cemoohan di media sosial. Perseteruan ini mengungkap retakan dalam basis pendukung Trump sekaligus memantik kembali perdebatan tentang pengaruh Israel dalam kebijakan Washington.

Kritik Carlson: Dari Kesalahan Kebijakan Hingga Tuduhan Manipulasi

Inti kritik Tucker Carlson berpusat pada konflik militer AS dengan Iran yang dimulai di bawah pemerintahan Trump. Dalam penampilannya di program BBC "Sunday with Laura Kuenssberg," Carlson dengan hati-hati menjabarkan pandangannya tentang dinamika hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meski menghindari narasi yang terlalu disederhanakan, ia menyoroti apa yang dilihatnya sebagai pengaruh yang tidak semestinya.

"Saya tidak berpikir sesederhana bahwa 'dia berada di bawah kendali Netanyahu,' tetapi Anda tentu bisa meringkasnya seperti itu dan Anda tidak akan sepenuhnya salah," tuturnya.

Namun, nada kritiknya semakin keras ketika membahas konsekuensi dari kebijakan tersebut. Carlson tidak ragu menilai langkah Trump sebagai sebuah blunder bersejarah yang merugikan kepentingan Amerika sendiri.

"Kita mengetahui hal ini karena kesalahan tunggal terbesar yang dilakukan Trump atau presiden Amerika mana pun di masa hidup saya, adalah berperang dengan Iran dalam upaya mengubah rezimnya," tegasnya.

Balasan Trump dan Retakan di Barisan Pendukung

Trump tidak tinggal diam menghadapi serangan verbal dari mantan sekutunya ini. Melalui sebuah unggahan di media sosial pada 9 April, ia menyerang balik dengan menyebut Carlson dan kritikus lain dari kalangan pendukung MAGA sebagai individu ber-IQ rendah yang hanya mencari sensasi. Trump lebih lanjut menuduh pandangan mereka bertentangan dengan gerakan MAGA dan secara pribadi menyindir Carlson sebagai figur yang "hancur" setelah dipecat dari Fox News.

Balasan keras Trump ini justru memperlebar retakan di antara kalangan yang sebelumnya sering bersuara lantang mendukungnya. Beberapa tokoh media konservatif mulai mempertanyakan alasan di balik perang Iran, dengan sejumlah suara menuding adanya pengaruh kuat lobi pro-Israel di Washington. Kritik tidak hanya berhenti pada tataran kebijakan, tetapi juga menyentuh tindakan operasional. Carlson, misalnya, secara terbuka menyebut ancaman Trump untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran sebagai sebuah "kejahatan perang dan kejahatan moral."

Ketidakpuasan bahkan merambah ke kalangan politisi. Mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, disebut-sebut pernah menyerukan penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot Trump setelah presiden saat itu mengeluarkan ancaman keras pada awal April.

Dampak dan Warisan Konflik yang Tidak Populer

Latar belakang perseteruan ini adalah konflik yang secara luas dianggap gagal mencapai tujuannya. Berbagai jajak pendapat secara konsisten menunjukkan bahwa perang melawan Iran sangat tidak populer di kalangan publik Amerika. Konflik yang menghabiskan anggaran miliaran dolar itu dinilai tidak membawa hasil strategis yang jelas, meninggalkan warisan politik yang membebani dan memecah belah.

Perselisihan antara Trump dan Carlson, oleh karena itu, lebih dari sekadar pertikaian pribadi. Ia mencerminkan perdebatan yang lebih dalam tentang arah kebijakan luar negeri Amerika, soal kemandirian pengambilan keputusan, dan harga yang harus dibayar untuk sebuah intervensi militer yang kontroversial. Perkembangan ini mengisyaratkan bahwa warisan konflik Iran akan terus menjadi titik sengketa yang panas dalam percakapan politik AS untuk tahun-tahun mendatang.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar