PARADAPOS.COM - Kelangkaan gas elpiji, khususnya tabung 3 kilogram, melanda wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir. Kondisi ini diduga kuat merupakan dampak dari konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasokan impor, sehingga menyebabkan keterlambatan distribusi dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) ke distributor lokal. Meski harga di tingkat pangkalan masih bertahan di angka Rp 18.000 sesuai HET, harga eceran di beberapa tempat dilaporkan merangkak naik hingga Rp 20.000 per tabung.
Distributor Konfirmasi Keterlambatan Pasokan
Di lapangan, para distributor merasakan langsung dampak dari gangguan impor ini. Dwi Hartono, salah satu distributor di Kota Pasuruan, mengaku kesulitan mengirimkan gas elpiji ke berbagai pangkalan di wilayah Pasuruan Raya akibat pasokan yang tersendat dari SPBE. Keterlambatan ini, menurut penuturannya, telah berlangsung selama beberapa hari.
"Sekitar empat hari telat, rencananya hari ini ada kiriman," ujarnya pada Selasa, 14 April 2026.
Meski sempat mengalami kekosongan, pasokan akhirnya mulai bergerak. Pihak distributor menyatakan telah menerima kiriman pada pekan lalu dan langsung mendistribusikannya ke sejumlah pangkalan untuk memenuhi permintaan masyarakat yang menumpuk.
Imbauan Pemerintah dan Harapan Distributor
Menyikapi situasi yang rentan memicu kepanikan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya telah mengeluarkan imbauan tegas. Beliau meminta masyarakat tidak menimbun gas elpiji tabung 3 kilogram dan beralih ke pola konsumsi yang bijak sesuai kebutuhan harian. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stok yang tersisa dapat terdistribusi secara merata.
Imbauan serupa juga disampaikan oleh pelaku distribusi di lapangan. Dwi Hartono berharap warga tetap tenang dan tidak membeli gas melebihi kebutuhan, sehingga ketersediaan bisa terjaga untuk semua konsumen.
"Warga jangan khawatir dan membeli gas elpiji sesuai dengan kebutuhan saja," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa untuk pekan ini, aliran pasokan sudah menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Namun, kondisi tersebut tetap memerlukan pengelolaan yang hati-hati. "Stok tetap harus dibagi rata ke pangkalan-pangkalan lain," jelasnya, menekankan pentingnya pemerataan agar kelangkaan tidak berlarut-larut di titik-titik tertentu.
Pemantauan Harga di Tengah Kelangkaan
Di tengah gejolak pasokan, pemantauan harga menjadi perhatian lain. Harga resmi gas elpiji 3 kilogram di tingkat pangkalan di Pasuruan masih mampu bertahan pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 18.000. Namun, pada tingkat pengecer atau eceran kecil, tekanan kelangkaan mendorong kenaikan harga menjadi sekitar Rp 20.000 per tabung, menunjukkan adanya selisih yang harus ditanggung konsumen akhir saat pasokan sulit.
Artikel Terkait
Pengunjung Ancol Tembus 166.955 Orang Selama Libur Idul Adha, Lampaui Target Perusahaan
PDI Perjuangan Putar Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme di Setiap Agenda Partai untuk Pelurusan Sejarah
Peringatan 1 Juni dan 1 Oktober Berbeda: Ini Bedanya Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila
Wakil Ketua Komisi IV DPR Ingatkan Publik Tak Mudah Terpengaruh Narasi Negatif yang Gerus Optimisme Swasembada Pangan