Gubernur Jabar Apresiasi Nelayan Malang yang Lepasliarkan Hiu Paus

- Rabu, 15 April 2026 | 07:00 WIB
Gubernur Jabar Apresiasi Nelayan Malang yang Lepasliarkan Hiu Paus

PARADAPOS.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi secara khusus mengundang dan mengapresiasi dua nelayan asal Pantai Sendang Biru, Malang, yang viral karena melepasliarkan hiu paus yang tertangkap jaring. Dalam pertemuan yang diunggah di media sosialnya, Mulyadi memuji komitmen kedua pemuda itu dalam melestarikan aturan adat dan perlindungan satwa laut, yang dinilainya selaras dengan kearifan lokal masyarakat Sunda.

Apresiasi untuk Pelestarian Adat dan Laut

Rasa kagum Dedi Mulyadi bermula dari viralnya aksi kedua nelayan tersebut di media sosial. Mereka menarik perhatian publik setelah dengan sigap melepaskan seekor hiu paus (Rhincodon typus) yang secara tidak sengaja terjerat jaring pukat mereka di perairan Malang. Atas dasar itulah, sang Gubernur kemudian mengundang keduanya untuk berbincang lebih lanjut.

Dalam pertemuan tersebut, Mulyadi menekankan penghargaannya yang mendalam terhadap upaya pelestarian makhluk hidup, baik di darat maupun laut. Ia melihat nilai luhur dalam tindakan nelayan itu yang melampaui sekadar kepatuhan aturan, tetapi menyentuh ranah budaya dan kepercayaan turun-temurun.

"Kenapa saya undang? Karena saya itu sangat menghargai makhluk-makhluk yang memang dilindungi. Seperti di hutan atau di laut yang harus dilindungi bukan dikonsumsi," jelasnya dalam unggahan di Instagram pribadinya, Rabu (15/4).

Kearifan Lokal sebagai Penjaga Keseimbangan

Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi itu pun menarik paralel antara kearifan lokal Jawa Barat dengan nilai yang dijaga nelayan Malang. Ia mengibaratkan penghormatan masyarakat Sunda pada harimau di hutan dengan simbol Nyi Ratu di laut, sebagai wujud keselarasan dengan alam.

"Seperti lukisan Nyi Ratu bentuk saya cinta dengan laut untuk menjaga. Bagi orang Sunda di hutan dengan lambang harimau, dan laut dengan Nyi Ratu (Nyi Roro Kidul)," tambahnya.

Pujiannya tidak berhenti di situ. Mulyadi menilai, kedua nelayan muda itu telah melakukan sesuatu yang luar biasa dengan menjaga tradisi leluhur yang justru mendukung kelestarian ekosistem. Bagi dia, ini adalah bentuk konkret dari sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Aturan Adat Turun-Temurun yang Dipegang Teguh

Dalam dialog tersebut, salah satu nelayan kemudian membeberkan filosofi di balik tindakan mereka melepas ikan besar seperti hiu paus. Bagi komunitasnya di Pantai Sendang Biru, hal itu bukan sekadar tren, melainkan sebuah aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun dan mengandung nilai spiritual serta ekonomi.

"Kalau sebenarnya dari turun temurun gitu pak, sudah menjadi adat. Jika dilepas rezekinya akan bertambah. Tapi kalau dibawa pulang akan ada balanya," tutur sang nelayan.

Pernyataan itu langsung disambut dengan apresiasi tinggi dari Dedi Mulyadi. Ia melihat keteguhan memegang prinsip tersebut sebagai sebuah kehebatan yang patut dicontoh.

"Hebat loh anda bisa jaga turun menurun," puji Mulyadi.

Pesan Terima Kasih dan Penutup

Mengakhiri pertemuan, Gubernur Jawa Barat itu kembali menyampaikan penghargaannya. Pesannya jelas: sebuah ucapan terima kasih atas sikap bijaksana yang ditunjukkan dalam mengelola sumber daya laut.

"Jadi saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menjaga laut, saat dapat hiu dilepaskan," pesan KDM.

Interaksi hangat ini, yang berawal dari sebuah video viral berdurasi dua menit lebih di platform TikTok, akhirnya menjadi contoh nyata bagaimana dialog antardaerah dan penghormatan pada kearifan lokal dapat memperkuat semangat kolektif dalam menjaga kelestarian alam Indonesia.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar