Modal Asing Masih Hati-Hati, Aliran ke SBN Belum Mengikuti Rebound IHSG

- Rabu, 15 April 2026 | 09:00 WIB
Modal Asing Masih Hati-Hati, Aliran ke SBN Belum Mengikuti Rebound IHSG

PARADAPOS.COM - Aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia masih berjalan bertahap, meski pasar saham domestik menunjukkan pemulihan yang kuat. Analis pasar modal mengungkapkan, investor global saat ini masih lebih berhati-hati dan fokus pada faktor eksternal seperti prospek suku bunga global dan stabilitas nilai tukar rupiah, sebelum benar-benar kembali menempatkan dananya di instrumen obligasi pemerintah.

Outflow Berlanjut, Tapi Ruang Pemulihan Masih Terbuka

Data terkini menunjukkan, posisi kepemilikan asing di SBN masih tercatat mengalami net outflow atau aliran keluar bersih sekitar Rp21 triliun secara year-to-date. Meski demikian, porsi kepemilikan mereka yang saat ini berada di bawah rata-rata historis justru dianggap membuka peluang untuk perbaikan di masa mendatang. Di sisi lain, imbal hasil (yield) SBN mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan stabilisasi setelah bergerak volatil di awal tahun. Untuk tenor 10 tahun, misalnya, yield berada di kisaran 6,68%, meningkat sekitar 51,27 basis poin sejak Januari lalu.

Rebound di Pasar Saham Belum Sepenuhnya Tersalurkan ke Obligasi

Pergerakan positif terlihat lebih jelas di pasar saham. Dalam periode perdagangan pekan kedua April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat signifikan sebesar 6,14% dan menutup di level 7.458,496. Penguatan ini mencerminkan membaiknya minat risiko (risk appetite) investor terhadap aset Indonesia. Namun, sentimen positif ini belum sepenuhnya merembes ke pasar obligasi.

Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Salvian Fernando, menjelaskan perbedaan respons ini. Menurutnya, investor obligasi global umumnya memiliki sensitivitas yang berbeda dibandingkan investor saham.

“Untuk pasar SBN, aliran asing masih cenderung lebih gradual. Investor global umumnya lebih sensitif terhadap faktor suku bunga global dan stabilitas nilai tukar dibandingkan pasar saham, sehingga transmisi rebound equity ke bond belum sepenuhnya kuat,” jelasnya, Selasa (14/4/2026).

Faktor Penentu Kepulangan Modal Asing

Meski alirannya masih terbatas, para analis melihat peluang kembalinya dana asing ke pasar SBN masih terbuka. Salvian Fernando memproyeksikan, sejumlah faktor kunci akan menjadi penentu, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, stabilitas rupiah, inflasi domestik yang terjaga, dan kredibilitas fiskal pemerintah. Pandangan senada disampaikan oleh Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, yang melihat sudah ada indikasi minat, meski belum besar.

“Kenaikan IHSG diikuti dengan penurunan yield obligasi serta penguatan indeks obligasi, meskipun arus dana asing secara kumulatif masih terbatas,” ungkapnya.

Fikri menambahkan, minat investor saat ini cenderung mengarah pada obligasi berjangka waktu menengah. Pergerakan di pasar obligasi, meski tidak secepat saham, relatif sejalan dengan penguatan IHSG.

Ketidakpastian Global dan Daya Tarik Yield

Di luar faktor moneter dan fiskal, ketegangan geopolitik global, seperti yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, menjadi bayang-bayang yang memperlambat keputusan investasi. Konflik semacam ini berpotensi memicu gejolak harga komoditas dan tekanan inflasi dunia, yang langsung diamati oleh investor obligasi. Di tengah ketidakpastian itu, faktor penarik utama bagi modal asing tetap pada stabilitas fundamental ekonomi domestik dan selisih imbal hasil (yield spread) SBN yang masih menarik jika dibandingkan dengan obligasi negara lain. Kombinasi antara kestabilan internal dan premi yield yang memadai itulah yang dinantikan dapat menjadi katalis bagi kepulangan modal asing ke pasar obligasi pemerintah Indonesia.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar