PARADAPOS.COM - Seorang prajurit Kopassus berhasil bertahan hidup setelah tersesat selama 18 hari di hutan belantara Papua, usai terpisah dari timnya dalam sebuah operasi. Kisah luar biasa yang diungkap dalam sebuah buku ini menceritakan perjuangan hidup sang prajurit, mulai dari hanyut di sungai deras, berjalan sendirian di ketinggian, hingga mengalami halusinasi yang membuatnya merasa memasuki "alam lain".
Operasi di Medan Berbahaya
Kisah ini berawal dari penugasan Selvanus (nama samaran) sebagai komandan pos di wilayah Timika, daerah yang dikenal rawan akibat aktivitas kelompok kriminal bersenjata. Suatu ketika, ia dan timnya mendapat perintah untuk melakukan penyerbuan ke sebuah markas yang berjarak enam hari perjalanan. Tantangan medan Papua yang ekstrem langsung mereka hadapi.
Di hari kelima operasi, rombongan itu terhalang oleh sebuah sungai berarus deras. Mereka pun berusaha menyeberang dengan bantuan tali. Saat itulah insiden tak terduga terjadi, yang memisahkan Selvanus dari sebagian besar anak buahnya.
Terpisah dan Tersesat di Belantara
Melihat seorang prajurit terseret arus, Selvanus yang mahir berenang langsung terjun untuk menolong. Aksi penyelamatan itu justru membawanya ke situasi yang jauh lebih berbahaya.
"Kebetulan saya jago renang. Jadi ketika saya lihat ada prajurit yang masuk ke pusaran air, saya juga ikut masuk dan menyelam," kenangnya.
Usaha itu membuatnya hanyut dan terdampar di suatu titik di hutan dengan ketinggian sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut. Bersama seorang kopral yang juga selamat, ia berusaha mencari jalan. Namun, sang kopral kemudian hilang, dan Selvanus pun mulai tersesat sendirian di tengah belantara yang tak dikenal. Satu-satunya pikiran yang menguatkannya adalah tekad untuk kembali ke Timika dan melapor, sekaligus terus mencari anak buahnya yang hilang.
Perjalanan di Ambang Batas Kesadaran
Tanpa perlengkapan memadai—bahkan sepatunya hilang—dan dengan persediaan logistik yang menipis, kondisi fisik Selvanus pelan-pelan menurun. Di hari keenam, kelelahan ekstrem mulai mempengaruhi kesadarannya.
"Hari keenam itu saya sudah melihat alam lain. Saya mulai mengobrol dan berkomunikasi. Mungkin itu hanya halusinasi saja,” ujarnya.
Anehnya, dalam kondisi setengah sadar itu, tubuhnya terus bergerak. Ia tetap berjalan, bahkan mampu menyeberangi sungai selebar 200 meter. Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya membawanya hingga ke pinggiran Timika pada hari kesebelas. Seorang warga kemudian menemukannya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
"Saat itu saya hanya tinggal tulang berbalut kulit, mata yang terus berputar liar dan telapak kaki yang bengkak akibat tertancap potongan kayu. Dokter yang memeriksa saya saat itu menyatakan bebas dari penyakit malaria dan cacing tambang," tuturnya menggambarkan kondisi saat penyelamatan.
Pengalaman yang Sulit Dijelaskan
Setelah dinyatakan pulih, Selvanus menghadiri sebuah acara jamuan di Markas Komando. Di sana, ia merasakan kembali keanehan yang mengingatkannya pada pengalaman di hutan.
"Anehnya, makanan satu meja itu semua habis saya makan sendiri. Saya makan banyak begitu bukan balas dendam, tapi rupanya ada yang 'ikut',” ungkapnya.
Ia kemudian teringat akan sebuah sensasi yang terus mendampinginya selama 18 hari tersesat. Menurut penuturannya, ia merasa tidak pernah benar-benar sendirian di dalam hutan.
“Tiba-tiba saya ingat bahwa saya selama di hutan memang selalu ditemani tiga orang. Kalau matahari sudah terbenam, satu memijati kaki, satu memijati pundak dan satu lagi berbagi rokok dengan saya. Alamnya sudah lain," tutup Selvanus, mengakhiri cerita pengalamannya yang masih menyisakan tanda tanya.
Artikel Terkait
Spanyol, Meksiko, dan Brasil Desak AS Buka Dialog Langsung dengan Kuba
KEK Palu Amankan Investasi Rp342,8 Miliar untuk Jargas dan Regasifikasi
PUPR Resmikan Dua Sentra Makan Bergizi Gratis di Perbatasan RI-Timor Leste
Bea Cukai Buka 380 Lowongan CPNS 2026, Lulusan SMA Juga Bisa Daftar