Kemenhaj Ambil Alih Pengelolaan Haji 2026, Fokus pada Peningkatan Layanan

- Minggu, 19 April 2026 | 07:25 WIB
Kemenhaj Ambil Alih Pengelolaan Haji 2026, Fokus pada Peningkatan Layanan

PARADAPOS.COM - Untuk pertama kalinya, penyelenggaraan ibadah haji Indonesia pada tahun 2026 akan berada di bawah kendali Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), yang mengambil alih tugas dari Kementerian Agama. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyatakan bahwa persiapan secara umum telah siap, meski peningkatan kualitas layanan pada aspek akomodasi, konsumsi, dan proses teknis seperti visa tetap menjadi fokus utama dalam transisi ini.

Pengawalan Transisi dan Persiapan Menuju 2026

Perubahan pengelolaan ini merupakan momentum penting yang memerlukan pengawalan ketat. Pratikno menegaskan bahwa semua pihak harus mendukung Kemenhaj dalam mempersiapkan Ibadah Haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi semaksimal mungkin. Meski kondisi dinilai siap, pemerintah tidak berpuas diri dan terus mendorong perbaikan di berbagai lini.

“Kita harapkan ada peningkatan kualitas pelayanan,” ujar Pratikno dalam keterangan resminya pada Minggu, 19 April 2026.

Fokus pada Peningkatan Layanan dan Efisiensi

Perhatian khusus diberikan pada hal-hal yang langsung menyentuh pengalaman jemaah. Pemerintah ingin memastikan standar layanan tidak hanya terjaga, tetapi juga ditingkatkan, terutama dalam situasi transisi kewenangan yang baru.

“Pada prinsipnya sudah siap, tetapi tetap perlu peningkatan pelayanan. Kualitas catering jangan menurun, distribusi harus terjaga, dan proses teknis seperti visa harus dipercepat,” jelasnya.

Timeline Tetap dan Skenario Mitigasi

Secara keseluruhan, penyelenggaraan haji tahun ini tetap mengacu pada timeline yang telah ditetapkan, sejalan dengan arahan Presiden. Pelaksanaan hingga saat ini masih berjalan sesuai rencana, dengan catatan tidak ada perubahan kebijakan mendasar dari Pemerintah Arab Saudi. Untuk mengantisipasi dinamika yang tak terduga, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi, mencakup seluruh tahapan perjalanan jemaah.

“Pemerintah juga terus memperkuat sistem pengendalian dan monitoring melalui posko nasional dan command center terpadu yang beroperasi selama 24 jam, guna memastikan respons cepat terhadap berbagai dinamika di lapangan,” kata Pratikno.

Dampak Ekonomi dan Pemanfaatan Produk Dalam Negeri

Di luar aspek teknis dan layanan, pemerintah juga melihat penyelenggaraan haji sebagai peluang untuk mendorong nilai tambah ekonomi. Pratikno menekankan pentingnya memanfaatkan produk dan layanan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan jemaah selama di Arab Saudi.

“Kita juga perlu mendorong nilai tambah ekonomi bagi negara. Misalnya kebutuhan jemaah bisa dipenuhi dari dalam negeri, sehingga manfaatnya kembali ke masyarakat kita,” tuturnya.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar