Jubir JK Bantah Klaim Emosional, Tegaskan Nada Tinggi untuk Penekanan

- Minggu, 19 April 2026 | 08:25 WIB
Jubir JK Bantah Klaim Emosional, Tegaskan Nada Tinggi untuk Penekanan

PARADAPOS.COM - Juru bicara mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, membantah klaim bahwa kliennya tampak emosional saat menggelar konferensi pers pada Sabtu (18/4/2026). Dalam jumpa pers yang ramai diberitakan itu, JK menyampaikan klarifikasi terkait isu penistaan agama sekaligus menegaskan peran sentralnya dalam mengantar karier politik Joko Widodo (Jokowi) hingga mencapai kursi kepresidenan. Bantahan ini disampaikan Abdullah sebagai tanggapan atas pernyataan Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, yang menilai sikap JK dalam konferensi pers tersebut terlalu emosional.

Bantahan Jubir: Bukan Emosi, Tapi Penekanan

Menurut Husain Abdullah, nada tinggi yang digunakan JK dalam penyampaiannya bukanlah bentuk emosi yang meledak-ledak. Ia menjelaskan bahwa hal itu merupakan cara JK untuk memberikan penekanan dan meyakinkan publik, khususnya para loyalis Jokowi, terhadap suatu narasi yang selama ini beredar.

"Pak JK tidak emosional tapi dia memang menyampaikan pernyataan dalam nada tinggi, bukan karena terlalu emosi," tegas Abdullah, seperti dikutip dari pemberitaan media nasional, Minggu (19/4/2026).

Lebih lanjut, ia memaparkan konteks di balik penekanan tersebut. Menurutnya, JK ingin meluruskan narasi yang menyebut dirinya sebagai pihak yang tidak tahu balas budi, padahal menurut Abdullah, JK justru memiliki jasa besar dalam perjalanan politik Jokowi.

"Kenapa dalam nada tinggi, karena JK mau meyakinkan loyalis Jokowi yang sering menarasikan JK tidak tahu balas budi padahal sudah diangkat jadi Wapres oleh Jokowi. Tidak punya rasa terima kasih kepada Jokowi," ungkapnya.

Klaim Peran Kunci dalam Lobi Politik

Abdullah mengungkapkan bahwa pernyataan JK di konferensi pers itu merupakan bentuk pelampiasan setelah lama menahan diri. Poin utama yang coba disampaikan JK adalah klaim perannya sebagai 'kingmaker' atau pengantar Jokowi ke panggung politik nasional.

Husein menjelaskan, JK sudah menahan diri untuk menyampaikan hal tersebut. Namun, JK akhirnya membeberkan perannya mengantar Jokowi bertemu Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Sukarnoputri agar dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

"Tanpa ini, kemungkinan nasibnya (Jokowi) beda lagi," kata Husein menegaskan.

Kilas Balik Klaim JK di Konferensi Pers

Dalam konferensi pers yang menjadi sorotan, JK secara gamblang menguraikan kontribusinya. Ia menyebut dirinyalah yang pertama kali mengusulkan nama Jokowi, yang kala itu masih Wali Kota Solo, kepada Megawati Sukarnoputri untuk diusung sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

"Saya katakan saya seniornya, siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya membawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi gubernur," ujar JK di Jakarta pada Sabtu (18/4/2026).

JK mengisahkan bahwa awalnya Megawati menolak usulannya. Namun, setelah melalui proses lobi, akhirnya Ketua Umum PDIP itu menyetujui dan Jokowi pun terpilih. Untuk menguatkan klaimnya, JK bahkan memperlihatkan sebuah foto dokumentasi yang menunjukkan Jokowi sedang 'sungkem' dan bersalaman dengannya.

"Sehingga waktu dia menang jadi gubernur setelah ke Ibu Mega datang sama saya ucapkan terima kasih. Apa kurangnya saya coba? Saya bawa ke Jakarta," ucap JK seraya memperlihatkan foto Jokowi tersebut.

Dengan nada penuh keyakinan, JK menutup penjelasannya dengan pernyataan yang tegas mengenai pengaruhnya dalam peta politik nasional saat itu. "Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden," ujarnya.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar