JK Bantah Tuduhan Penistaan Agama Soal Pernyataan Syahid di Ceramah UGM

- Sabtu, 18 April 2026 | 11:25 WIB
JK Bantah Tuduhan Penistaan Agama Soal Pernyataan Syahid di Ceramah UGM

PARADAPOS.COM - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla membantah keras tuduhan penistaan agama yang dilayangkan kepadanya. Ia menilai dirinya difitnah terkait pernyataan tentang konsep "mati syahid" yang disampaikan dalam sebuah ceramah Ramadan di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM). Pernyataannya itu telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Tanggapan Langsung di Konferensi Pers

Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Sabtu, 18 April 2026, JK tampak menyayangkan laporan tersebut. Dengan nada yang tegas, ia mengutip sebuah pepatah agama untuk menggambarkan beratnya tuduhan yang ia terima.

"Saya sedang mempelajari itu di mana letak (tuduhan). Mudah-mudahan Tuhan Allah memaafkannya, para pemfitnah itu. Wal-fitnatu asyaddu minal-qatl. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, semua memfitnah saya semua," ujarnya.

Konteks Ceramah dan Tema Perdamaian

JK kemudian menjelaskan latar belakang lengkap ceramahnya di UGM. Ia diundang sebagai narasumber dalam rangkaian kegiatan bulan Ramadan dengan tema besar tentang perdamaian. Dalam paparannya, ia menguraikan berbagai akar konflik di dunia dan Indonesia, mulai dari ideologi, wilayah, ekonomi, hingga yang sensitif seperti agama.

"Jadi, saya ingin jelaskan tentang di UGM itu, acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa dilakukan di masjid, saya diundang datang karena temanya perdamaian," paparnya. "Kemudian 1 menit saja saya bicarakan konflik karena agama."

Mengapa Istilah "Syahid" Digunakan?

Penjelasan lebih lanjut ia berikan soal penggunaan istilah "syahid". Saat menyampaikan contoh konflik bernuansa agama seperti di Poso dan Maluku, JK menyebut ia sengaja memakai istilah yang familiar di telinga jemaah masjid. Ia menekankan bahwa konteks pembicaraan saat itu adalah upaya mendamaikan konflik, bukan menghasut.

"Saya mendamaikan ini, apa saya menista agama, saya pertaruhkan jiwa saya masuk ke daerah itu," tegasnya. "Kalau syahid mati karena membela agama, martir juga begitu mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja, saya di masjid maka saya pakai kata syahid karena kalau saya pakai kata martir jemaah tidak tahu."

Kilas Balik Pengalaman Mediasi Konflik

Untuk memperkuat argumennya, JK menyelipkan kilas balik pengalaman pribadinya terlibat langsung dalam mediasi konflik horizontal di beberapa daerah. Ia menggambarkan situasi saat itu yang sangat mencekam, di mana isu agama telah memicu tindakan brutal antar masyarakat yang sebelumnya hidup bertetangga.

"Inilah konflik, bagaimana kejamnya waktu itu, paling jahat, paling ganas, inilah. Itu jelas dikatakan tadi (tokoh agama), agama masuk di situ," tuturnya, seraya mengajak para penuduhnya untuk merenungkan keberanian terjun ke lapangan seperti yang pernah ia lakukan.

Dengan penjelasan panjang lebar ini, JK berharap publik memahami maksud sebenarnya dari pernyataannya dan melihatnya dalam bingkai besar upaya membangun perdamaian, bukan sebagai bentuk penistaan.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar