Polisi Tangkap Dua Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Stasiun Depok Baru

- Senin, 27 April 2026 | 23:50 WIB
Polisi Tangkap Dua Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Stasiun Depok Baru
PARADAPOS.COM - Polisi menangkap dua pelaku pengeroyokan terhadap seorang anggota TNI AD berpangkat Peltu di Stasiun Depok Baru, Jawa Barat, pada Jumat (24/4) malam. Insiden bermula saat korban menegur seorang ibu yang bersikap kasar kepada anaknya, namun teguran itu justru berujung pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh suami ibu tersebut bersama dua rekannya. Peristiwa terjadi sekitar pukul 19.00 WIB di area Stasiun Depok Baru. Suasana stasiun yang biasanya ramai pada jam pulang kerja mendadak mencekam ketika keributan pecah. Korban yang saat itu tengah berada di lokasi melihat seorang ibu memperlakukan anaknya dengan kasar. Merasa prihatin, ia pun memberikan teguran secara langsung.

Kronologi Pengeroyokan

Alih-alih mereda, teguran tersebut justru memicu amarah. Sang suami dari ibu yang ditegur tidak terima dan segera menghubungi teman-temannya. Dalam hitungan menit, korban dikeroyok oleh beberapa orang. Informasi dari hasil penyelidikan sementara menyebutkan bahwa setidaknya tiga orang terlibat aktif dalam pemukulan.

Proses Penangkapan Pelaku

Polisi yang menerima laporan segera bergerak. Tim dari Polres Metro Depok melakukan penyelidikan dengan memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi. Hasilnya, dua dari tiga pelaku yang terekam berhasil diamankan. Salah satunya adalah suami dari ibu yang menjadi pemicu awal kejadian. "Sampai dengan saat ini itu kan dari hasil lidik dan CCTV itu diduga pelaku yang aktif melakukan pemukulan itu 3 orang. Tapi yang kita amankan sudah 2 orang," ujar Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi saat dihubungi wartawan, Minggu (26/4). Penegasan ini menunjukkan bahwa proses pengejaran terhadap satu pelaku lainnya masih terus berlangsung. Pihak kepolisian belum merinci lebih lanjut identitas para pelaku maupun motif di balik reaksi berlebihan tersebut.

Konteks dan Implikasi

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian emosi di ruang publik. Tindakan menegur perilaku kasar terhadap anak, yang seharusnya menjadi sikap wajar warga, justru berujung pada kekerasan. Kasus ini juga menyoroti tantangan penegakan hukum di area transportasi umum yang kerap menjadi titik rawan konflik. Hingga berita ini diturunkan, korban masih menjalani pemulihan. Sementara itu, polisi terus mendalami peran masing-masing pelaku dan kemungkinan adanya pasal berlapis yang dapat diterapkan. Masyarakat sekitar stasiun berharap kejadian serupa tidak terulang, dan aparat dapat memberikan efek jera yang nyata.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar