Orang Tua Korban Kecelakaan SD Pandeglang Fokus Pulihkan Trauma Anak, Belum Pikirkan Tuntutan Hukum

- Selasa, 05 Mei 2026 | 12:25 WIB
Orang Tua Korban Kecelakaan SD Pandeglang Fokus Pulihkan Trauma Anak, Belum Pikirkan Tuntutan Hukum

PARADAPOS.COM - Tuti Hidayati, orang tua dari Muhamad Milal, korban meninggal dalam kecelakaan di SDN Sukaratu 5, Desa Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, masih bergulat dengan duka yang mendalam. Peristiwa tragis yang merenggut nyawa putranya itu meninggalkan luka yang sulit terobati, apalagi anak keduanya yang juga bersekolah di tempat yang sama kini mengalami trauma berat setelah menyaksikan langsung kejadian nahas tersebut.

“Saya masih dalam suasana duka, masih dalam berkabung,” ujar Tuti dengan suara lirih, Selasa (5/5/2026).

Bagi Tuti, kehilangan seorang anak adalah pukulan yang tak terkira. Namun, kepedihannya berlipat ganda ketika melihat anak bungsunya bergulat dengan rasa takut dan kehilangan. Sang adik, yang juga duduk di bangku SDN Sukaratu 5, menjadi saksi bisu proses evakuasi kakaknya dari lokasi kejadian. “Setelah kejadian dia menyaksikan evakuasi kakaknya, kayanya trauma dan akhirnya berpikir ‘saya nggak punya kakak lagi’,” tuturnya mengenang.

Fokus pada Pemulihan Anak

Di tengah tekanan batin yang berat, Tuti memilih untuk menahan diri. Ia mengaku saat ini belum memikirkan tuntutan hukum terhadap pelaku penabrakan. Prioritas utamanya adalah memulihkan kondisi psikologis anaknya yang masih terpukul. “Harus diproses sesuai dengan peraturan yang berlaku, cuman balik lagi kadang hukum di negeri kita begitu. Kemarin polisi mengusulkan mau mediasi, jadi saya hanya fokus ke anak dulu, urusan pelaku entar biar saya sama anak sembuh dulu,” jelasnya.

Selain itu, ia juga tengah mempersiapkan tahlilan selama satu pekan sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk almarhum putranya. Di sela-sela kesibukan itu, Tuti menyempatkan diri untuk menyuarakan harapannya agar proses hukum berjalan transparan dan adil.

Harapan akan Keadilan yang Transparan

Meski belum secara gamblang menuntut, Tuti menaruh harapan besar agar pelaku yang menabrak anaknya dan sejumlah siswa lainnya mendapatkan konsekuensi hukum yang setimpal. Ia menekankan pentingnya keterbukaan dalam pengusutan kasus ini, terutama karena pelaku berstatus sebagai pejabat. “Harapan dapat keadilan seadil-adilnya, setidaknya dia bertanggung jawab atas perbuatannya dalam bentuk apa pun. Dan prosesnya jangan ditutup-tutupin, kalau memang mau mediasi jangan ditutup-tutupin, pelakunya pejabat takut hilang begitu saja,” ungkapnya penuh penekanan.

Suasana di sekitar rumah duka masih terasa sunyi. Sesekali terdengar isak tangis dari sanak keluarga yang datang melayat. Tuti hanya bisa berharap agar proses hukum berjalan tanpa tekanan dan tidak ada pihak yang mencoba mengaburkan fakta di lapangan. Ia ingin keadilan ditegakkan, bukan hanya untuk anaknya, tetapi juga untuk para korban lain yang turut menjadi bagian dari peristiwa kelam ini.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler