Gatot Nurmantyo Buka Suara: Dipecat Jokowi karena Tolak Kenaikan Pangkat Perwira yang Dinilai Tak Kompeten

- Selasa, 05 Mei 2026 | 04:00 WIB
Gatot Nurmantyo Buka Suara: Dipecat Jokowi karena Tolak Kenaikan Pangkat Perwira yang Dinilai Tak Kompeten

PARADAPOS.COM - Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, mengungkapkan alasan di balik pemecatannya oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat perayaan Milad ke-5 Partai Ummat pada Minggu (3/5). Dalam pidatonya, Gatot mengklaim bahwa dirinya dipecat karena menolak permintaan Jokowi untuk menaikkan pangkat seorang perwira tinggi (pati) TNI yang dinilainya tidak kompeten. Pengakuan ini disampaikan Gatot di hadapan para kader partai, membuka tabir hubungannya dengan mantan atasannya tersebut.

Acara yang berlangsung di Jakarta itu menjadi panggung bagi Gatot untuk menyampaikan kritiknya terhadap kepemimpinan nasional. Ia memulai pidatonya dengan menekankan pentingnya figur pemimpin yang tidak terbelenggu oleh kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

Kriteria Pemimpin Ideal Menurut Gatot

Menurut Gatot, Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani dan mandiri agar bisa melompat ke level yang lebih tinggi. Ia merinci formula sederhana namun tegas.

“Kalau Indonesia ingin naik kelas, nggak usah banyak-banyak deh, 70 persen politik, 20 persen ekonomi, 10 persen keberuntungan, dan punya pemimpin yang berani yang tidak punya masalah, tidak punya latar belakang. Tanpa itu, nggak bisa,” kata Gatot dalam pernyataannya.

Pernyataan itu menjadi pengantar sebelum ia mengungkapkan insiden yang menurutnya menjadi titik balik kariernya sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.

Insiden Penolakan Kenaikan Pangkat

Gatot kemudian menceritakan secara detail momen ketika Jokowi memintanya menaikkan pangkat seorang perwira tinggi. Ia mengaku langsung melakukan penyelidikan mendalam terhadap latar belakang perwira tersebut.

“Saya buka aja sekarang, biar Pak Jokowi marah. Ketika Pak Jokowi minta ‘Pak Panglima, tolong dong ini naikkan (pati) bintang tiga. Saya periksa, nggak ada yang saya nggak periksa,” bebernya.

Setelah menemukan apa yang ia sebut sebagai "dosa" perwira tersebut, Gatot mengaku langsung mengonfrontasi yang bersangkutan. Pertemuan itu berlangsung tegang, dan Gatot bahkan menantang perwira itu untuk melaporkan tindakannya jika keberatan.

“Setelah berat badan turun enam kilogram, saya kasih lembaran (ke perwira titipan) mau dilanjutkan atau tidak? Kalau kamu nggak mau, lapor lewat jalur mana bilang,” terangnya.

Tak lama setelah itu, Jokowi kembali memanggil Gatot untuk menanyakan perkembangan perwira titipannya. Jawaban Gatot justru mengejutkan.

“Besoknya saya dipanggil, ‘Pak Panglima, dia masih suka di sana’, (Gatot menjawab) ‘Oh iya pak, nggak apa-apa, bagus pak dia di sana aja. Nggak jadi naik bintang tiga dia,” tuturnya seraya terkekeh.

Konsekuensi dari Pembangkangan

Gatot mengaku bahwa insiden serupa terjadi berulang kali. Sikapnya yang konsisten menolak intervensi tersebut akhirnya berujung pada pemecatan dirinya dari posisi Panglima TNI.

“Dan itu berulang kali dan lama lama ketahuan juga saya kan. Ya sudah ditendang lah saya karena nggak nurut,” ujarnya.

Mantan Pangkostrad itu menegaskan bahwa ia tidak bisa tinggal diam jika melihat institusi TNI dipimpin oleh orang yang tidak kompeten. Menurutnya, risiko yang dihadapi bangsa terlalu besar jika hal itu dibiarkan.

“Tapi tidak bisa, TNI adalah institusi yang besar bukan karena besarnya. Dia tetap prajurit yang dilatih, dipersenjatai, diorganisir. Kalau pemimpinnya nggak benar, bahaya sekali. Apalagi di negara yang begitu komplek,” tutupnya.

Pengakuan ini menambah daftar panjang ketegangan antara Gatot Nurmantyo dan Jokowi pasca-pemecatannya pada tahun 2017 silam. Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Gatot tersebut.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar