PARADAPOS.COM - Pembangunan pabrik raksasa chlor alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), emiten petrokimia grup Prajogo Pangestu, telah mencapai 66 persen. Berlokasi di kawasan industri Cilegon, Banten, proyek yang dikerjakan oleh anak usaha PT Chandra Asri Alkali ini kini memasuki tahap pengembangan infrastruktur logistik utama sebagai persiapan menuju operasional penuh. Fase krusial ini tidak hanya dirancang untuk mendukung distribusi dan penyimpanan produk, tetapi juga memperkuat konektivitas rantai pasok industri kimia nasional dan regional.
Fokus pada Infrastruktur Logistik Terintegrasi
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan bahwa pengembangan infrastruktur saat ini menjadi bagian yang sangat penting. Infrastruktur tersebut, menurutnya, tidak hanya mendukung distribusi, penyimpanan, dan pengelolaan logistik produk CA-EDC, tetapi juga sekaligus memperkuat konektivitas rantai pasok industri kimia nasional maupun regional.
Ia menambahkan, fase pembangunan ini merupakan elemen krusial dalam mendukung kelancaran distribusi dan pengelolaan rantai pasok bahan kimia strategis. Pengembangan infrastruktur terintegrasi dinilai sebagai elemen penting untuk membangun ekosistem industri kimia nasional yang lebih efisien dan kompetitif.
“Kami harapkan dalam jangka panjang, fasilitas ini dapat meningkatkan daya saing Indonesia sebagai basis industri kimia di kawasan Asia Tenggara,” kata Suryandi dalam keterangan resmi, dikutip pada Kamis (7/5).
Kapasitas Produksi dan Target Pasar
Pabrik CA-EDC ini dirancang untuk menjawab kebutuhan industri domestik yang terus meningkat terhadap bahan kimia dasar strategis. Pada tahap awal operasional, fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi yang signifikan, yaitu 827 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton EDC per tahun.
Produksi soda kaustik dari fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Dalam jangka panjang, kapasitas produksi itu diperkirakan dapat menggantikan impor hingga 827 ribu ton per tahun, dengan nilai mencapai US$ 293 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun.
Sementara itu, untuk produksi EDC, fokusnya adalah pasar ekspor. Langkah ini berpotensi mendatangkan devisa hingga US$ 300 juta atau sekitar Rp 5 triliun per tahun, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kimia regional.
Dampak Ekonomi dan Tenaga Kerja
Selain kontribusinya terhadap penguatan industri nasional, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi langsung melalui penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Hingga saat ini, pembangunan pabrik telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja selama masa konstruksi.
Saat mulai beroperasi penuh pada kuartal pertama 2027, fasilitas tersebut diperkirakan akan membuka sekitar 250 lapangan kerja baru. Ini menjadi angin segar bagi perekonomian lokal di sekitar Cilegon.
Kinerja Saham di Pasar Modal
Di sisi lain, di pasar modal, saham TPIA justru mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan. Pada perdagangan Kamis (7/5), saham emiten milik Prajogo Pangestu itu ditutup anjlok 10,20 persen ke level Rp 5.725. Sepanjang tahun berjalan, saham TPIA telah terkoreksi 18,21 persen.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Lampu Skywalk Kebayoran Padam Total, Transjakarta Minta Maaf dan Lakukan Koordinasi Perbaikan
Kapolri Respons Usulan Perampingan Mabes: Bukan Rekomendasi, tapi Bahan Diskusi
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat Bertemu Emil Salim, Bahas Pendekatan Manusiawi dalam Kebijakan Lingkungan
KSSK Nilai Ekonomi Kuartal I 2026 Tumbuh 5,61 Persen di Tengah Ketidakpastian Global