PARADAPOS.COM - Harga emas dunia diperkirakan masih berpeluang menguat pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, meskipun saat ini pergerakannya tertahan di area resistance. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai tren utama XAU/USD masih bullish dan peluang kenaikan tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas level support penting di USD4.668 per troy ons. Target terdekat berada di level USD4.740, dengan potensi lanjutan menuju USD4.772 per troy ons.
Teknikal: Tertahan di Zona Resistance, Support Kunci Masih Utuh
Berdasarkan analisis teknikal pada timeframe H4, harga emas saat ini berada di area supply yang berfungsi sebagai zona resistance. Area ini menjadi titik di mana tekanan jual mulai muncul dan menahan laju kenaikan harga dalam jangka pendek. Meski demikian, struktur pasar secara keseluruhan masih menunjukkan kecenderungan naik yang cukup kuat.
Geraldo menjelaskan, harga emas sebelumnya telah menyelesaikan fase secondary trend atau koreksi sementara, sebelum kembali membentuk support kuat di level USD4.668 per troy ons. Level tersebut kini menjadi area kunci yang menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.
"Selama harga tidak ditutup di bawah level support tersebut, peluang penguatan masih dinilai cukup besar. Dalam skenario bullish yang sedang terbentuk, harga emas diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan menuju resistance terdekat di level USD4.740 per troy ons. Jika momentum beli tetap terjaga dan tekanan pasar mendukung, maka target lanjutan berada di area USD4.772 per troy ons," ungkap Geraldo dalam analisis harian Dupoin Futures, Kamis, 7 Mei 2026.
Meskipun prospek kenaikan masih terbuka, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan risiko koreksi jangka pendek. Area resistance yang saat ini sedang diuji berpotensi memicu aksi profit taking dari sebagian investor setelah kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Karena itu, level USD4.668 per troy ons menjadi titik penting yang perlu dicermati sebagai batas pengaman tren bullish.
Fundamental: Ketidakpastian Global dan Sikap Dovish The Fed Jadi Katalis
Dari sisi fundamental, penguatan harga emas masih mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi, kondisi geopolitik, serta dinamika pasar keuangan membuat investor tetap mempertahankan minat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve juga menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan emas. Pelaku pasar mulai melihat kemungkinan bahwa bank sentral AS akan mengambil sikap lebih dovish dalam beberapa waktu ke depan, baik melalui penundaan kenaikan suku bunga maupun peluang penurunan suku bunga.
Kondisi tersebut, menurut Geraldo, berpotensi menekan pergerakan dolar AS dan memberikan ruang bagi harga emas untuk naik lebih tinggi. Dalam situasi suku bunga yang lebih rendah, emas menjadi lebih menarik karena tidak harus bersaing dengan instrumen berbasis imbal hasil tinggi seperti obligasi.
Di sisi lain, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung stabil atau menurun juga turut mendukung penguatan emas. Ketika yield obligasi tidak meningkat, biaya peluang dalam memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga investor lebih tertarik masuk ke aset safe haven tersebut.
Meski saat ini harga emas masih tertahan di area resistance, arus dana ke aset safe haven dinilai masih cukup kuat untuk menopang tren bullish. Selama sentimen global belum benar-benar stabil, permintaan terhadap emas diperkirakan masih akan bertahan.
Proyeksi dan Risiko: Peluang Kenaikan Masih Terbuka, Waspada Volatilitas
Secara keseluruhan, kombinasi antara sinyal teknikal dan faktor fundamental memberikan gambaran bahwa harga emas masih memiliki peluang melanjutkan kenaikan dalam jangka pendek hingga menengah. Dengan support kuat di area USD4.668 per troy ons, tren bullish dinilai tetap valid dan membuka peluang bagi harga untuk menguji level USD4.740 per troy ons hingga USD4.772 per troy ons.
"Namun demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi global dan arah kebijakan moneter AS yang dapat memengaruhi volatilitas pasar. Pendekatan yang disiplin dan berbasis manajemen risiko tetap menjadi hal penting dalam menghadapi pergerakan harga emas yang dinamis," tutup Geraldo.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo ke Filipina Hadiri KTT Ke-48 ASEAN, Bahas Ekonomi dan Geopolitik
KPRP Rekomendasikan Penguatan Kewenangan Kompolnas, Termasuk Investigasi Pelanggaran Etik Polri
Adriel Viari Purba, Eks Pengacara Kasus Doddy Prawiranegara, Terkonfirmasi sebagai Majikan Dua PRT yang Tewas Terjun dari Lantai 4 di Benhil
PCNU Pati Kecam Pelecehan Puluhan Santriwati di Pesantren Ndolo Kusumo, Desak Polisi Segera Tahan Tersangka