PARADAPOS.COM - Enam negara di Asia Tenggara mencatatkan setidaknya satu miliarder dengan total kekayaan bersih gabungan mencapai USD126 miliar, berdasarkan data terkini majalah keuangan global Forbes. Posisi puncak ditempati oleh taipan asal Vietnam, Pham Nhat Vuong, dengan kekayaan USD34,4 miliar, disusul oleh konglomerat Indonesia Prajogo Pangestu di urutan kedua. Data ini dirangkum pada Kamis, 7 Mei 2026, dengan nilai tukar rupiah mengacu pada kurs JISDOR Bank Indonesia per 5 Mei 2026, yakni Rp17.425 per dolar AS.
Pham Nhat Vuong: Taipan Otomotif yang Menggeser Nama Besar Global
Di puncak daftar orang terkaya Asia Tenggara, Pham Nhat Vuong (57 tahun) mencatatkan kekayaan bersih sebesar USD34,4 miliar, atau setara dengan Rp599,42 triliun. Pria yang menjabat sebagai Ketua Konglomerasi Vingroup ini kini bertengger di peringkat ke-64 dalam daftar miliarder global. Menariknya, valuasi kekayaannya berhasil melampaui taipan teknologi asal Tiongkok, Jack Ma, serta investor kenamaan Amerika Serikat, Ray Dalio.
Mayoritas pundi-pundi kekayaan Vuong berasal dari Vingroup, di mana ia dan keluarganya menguasai 65 persen saham pengendali. Saham perusahaan ini melonjak sekitar 30 persen tahun ini, setelah sebelumnya mencatatkan lonjakan historis sebesar 700 persen pada tahun lalu. Kenaikan itu dipicu oleh ekspansi agresif anak usahanya di sektor kendaraan listrik, VinFast. Di bawah Vuong, Vietnam juga menaungi tujuh miliarder lainnya dengan rentang kekayaan antara USD1,1 miliar hingga USD4,1 miliar.
Prajogo Pangestu: Dari Kayu hingga Energi, Sebuah Perjalanan Bisnis
Menempati posisi kedua di tingkat regional, Prajogo Pangestu (81 tahun) membukukan total kekayaan USD23,3 miliar, atau sekitar Rp405,95 triliun. Pria kelahiran Kalimantan Barat ini mengawali kariernya sebagai pengusaha kayu pada akhir 1970-an. Putra seorang pedagang karet ini kemudian sukses membangun kerajaan bisnis Barito Pacific Timber hingga mencatatkan saham perdananya di bursa pada 1993.
Saat ini, portofolio kekayaannya ditopang oleh kepemilikan saham di raksasa petrokimia Barito Pacific serta sejumlah unit usaha strategis yang merambah sektor energi panas bumi, energi terbarukan, dan pertambangan batu bara. Meski demikian, valuasi kekayaannya sempat terkoreksi tajam pada awal tahun ini akibat aksi jual masif di pasar saham yang dipicu oleh penyesuaian indeks MSCI.
Dhanin Chearavanont: Raja Pakan Ternak yang Melebarkan Sayap ke Digital
Di urutan ketiga, terdapat Dhanin Chearavanont (87 tahun) asal Thailand dengan aset senilai USD18,3 miliar, atau sekitar Rp318,87 triliun. Ia menjabat sebagai Ketua Senior Charoen Pokphand (CP) Group, salah satu produsen pakan ternak terbesar di dunia yang dirintis keluarganya sejak 1921.
Gurita bisnis CP Group kini semakin meluas. Pada 2025 lalu, unit telekomunikasi mereka, True, berhasil mengamankan satu dari tiga lisensi perbankan digital dari otoritas pemerintah Thailand. Tak berhenti di situ, True juga telah berekspansi dengan menggandeng BlackRock dalam sebuah usaha patungan pusat data senilai USD1 miliar.
Jason Chang: Taipan Semikonduktor Asal Singapura
Mewakili Singapura, Jason Chang (81 tahun) menduduki posisi keempat dengan kekayaan bersih USD17,3 miliar, atau sekitar Rp301,45 triliun. Chang bertindak sebagai Ketua ASE Technology Holding Taiwan, sebuah perusahaan penyedia layanan perakitan dan pengujian semikonduktor terkemuka di pasar global.
Lahir di Shanghai pada Mei 1944, Chang hijrah ke Taiwan di masa mudanya. Ia kemudian menajamkan keahlian akademisnya di bidang teknik elektronika di Universitas Nasional Taiwan dan meraih gelar Master Sains di bidang teknik industri dari Illinois Institute of Technology.
Enrique Razon Jr.: Dari Pelabuhan hingga Kasino, Ekspansi Agresif di Filipina
Orang terkaya di Filipina, Enrique Razon Jr. (66 tahun), menempati urutan kelima di Asia Tenggara dengan kekayaan USD15,7 miliar, atau sekitar Rp273,57 triliun. Ia merupakan ketua International Container Terminal Services Inc., operator pelabuhan dengan pendapatan terbesar di Filipina yang dirintis keluarganya sejak 1916.
Lini bisnis perhotelannya, Bloomberry Resorts, terus memacu ekspansi di Filipina. Hal ini ditandai dengan peresmian kompleks kasino Solaire kedua di Metro Manila pada 2024. Di sektor infrastruktur, manuver investasi Razon juga kian agresif. Pada Mei 2024, ia sukses mengakuisisi saham Ayala Corp sekaligus mengambil alih kendali operasional Manila Water. Portofolio kekayaannya juga ditopang oleh kepemilikan saham di sejumlah ladang gas dan fasilitas penyediaan air curah di berbagai wilayah Filipina.
Robert Kuok: Raja Gula Asia yang Masih Bertahan di Usia Lebih Seabad
Menutup daftar enam orang terkaya Asia Tenggara adalah Robert Kuok asal Malaysia. Di usianya yang telah mencapai 102 tahun, pria yang dijuluki Raja Gula Asia ini memiliki kekayaan bersih USD14 miliar, atau sekitar Rp243,95 triliun. Ia mengendalikan Kuok Group, sebuah konglomerasi dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, mencakup jaringan hotel mewah kelas dunia Shangri-La, sektor real estat, hingga perdagangan komoditas.
Sementara itu, lima negara tetangga di kawasan Asia Tenggara lainnya—Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Timor Leste—belum mencatatkan perwakilan miliarder dalam daftar Forbes terbaru.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kloter Terakhir Gelombang Pertama Haji Indonesia Tiba di Madinah, 440 Jemaah Kalbar dalam Kondisi Sehat
Said Iqbal Peringatkan Konflik AS-Israel-Iran Berpotensi Picu Gelombang Penutupan Pabrik di Indonesia
Jumlah Miliarder di Singapura Melonjak Dua Kali Lipat dalam Lima Tahun, Capai 63 Orang pada 2026
Menteri Keuangan Pimpin Sidang Pembebasan Hambatan Proyek PLTS Terapung Saguling yang Terkendala Moratorium Gubernur Jabar