PARADAPOS.COM - Makkah, Arab Saudi. Bagi para jurnalis yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH), bertugas di Tanah Suci bukanlah sekadar perburuan berita. Mereka adalah wartawan yang sehari-hari terbiasa mengejar narasumber dan momen, namun di sini, seragam cokelat petugas haji yang mereka kenakan membawa amanah yang jauh lebih besar. Di pelataran Masjidil Haram yang megah dan tak pernah sepi, tugas jurnalistik seringkali harus mengalah pada satu panggilan mulia: melayani jamaah calon haji.
Antara Tugas Liputan dan Panggilan Kemanusiaan
Tantangan terbesar di Masjidil Haram bukanlah merumuskan sudut pandang berita atau mencari narasumber. Lebih dari itu, para pewarta harus menyeimbangkan tugas peliputan dengan rentetan permintaan tolong yang datang silih berganti. Bagi para jamaah, sosok berseragam cokelat itu adalah representasi negara, tempat mereka menautkan harapan saat kebingungan melanda di negeri orang. Mereka tak peduli apakah orang tersebut sedang merekam video atau mengetik berita.
Bentuk permintaan tolong itu sangat beragam, nyaris tanpa henti. Mulai dari kepanikan jamaah yang terpisah dari rombongan, suami yang kehilangan jejak istri, hingga anak yang panik mencari orang tuanya. Tak sedikit pula yang kebingungan menanyakan arah menuju terminal kepulangan. Belum lagi urusan teknis seperti cara menarik uang riyal di ATM, kehilangan sandal usai tawaf, kelelahan mendorong kursi roda, hingga jamaah yang tumbang setelah menyelesaikan umrah wajib di bawah terik matahari Makkah yang menyengat.
Seiring membeludaknya jumlah jamaah, kepadatan di Masjidil Haram meningkat drastis. Durasi peliputan petugas MCH pun menjadi tersendat. Nyaris tidak ada ruang untuk berdiri diam merekam video, karena setiap saat selalu ada jamaah yang menghampiri.
Fenomena Harian: Kebingungan Akses Transportasi
Salah satu fenomena yang paling menguras energi adalah ketidaktahuan jamaah soal akses transportasi kembali ke hotel. Banyak yang belum paham bahwa terdapat tiga terminal utama di sekitar Masjidil Haram: Terminal Syib Amir, Terminal Ajyad, dan Terminal Jabal Ka'bah. Di ketiga titik ini, bus Shalawat bersiaga 24 jam penuh secara gratis dengan rute yang berbeda-beda.
Namun, banyak jamaah yang tersasar karena insting "hanya mengikuti jamaah di depannya". Sering kali, jamaah yang seharusnya pulang melalui Terminal Syib Amir—terminal krusial yang melayani lebih dari 100 ribu atau separuh lebih jamaah haji Indonesia—justru terseret arus pejalan kaki dan salah arah menuju Terminal Ajyad. Letak Terminal Ajyad yang persis di belakang Zamzam Tower memang relatif paling dekat dari pelataran masjid. Alhasil, para petugas MCH berkali-kali harus memutar otak, menunda liputan, dan berjalan bolak-balik dari pelataran Masjidil Haram ke Terminal Syib Amir demi menuntun jamaah yang kehilangan arah.
Melepas "Kacamata Kuda" di Tengah Hiruk-pikuk Baitullah
Di tengah hiruk-pikuk Baitullah, terselip kisah-kisah lain yang tak kalah mengharukan. Suatu ketika, seorang petugas MCH mendapati seorang ibu lansia duduk termenung sendirian di depan gerbang Masjidil Haram. Gurat ketakutan tergambar jelas di wajahnya yang mulai keriput. Saat dihampiri dan ditanya, sang ibu menjawab lirih bahwa ia sedang menunggu suaminya yang menunaikan shalat Isya—padahal azan Isya masih setengah jam lagi. Naluri kemanusiaan sang petugas seketika mengambil alih.
Petugas itu pun duduk menemani sang ibu sembari menyodorkan makanan ringan. Pertahanan sang ibu seketika runtuh. Ia menangis terisak. Air mata itu bukan karena sedih, melainkan rasa lega dan tenang karena di tengah lautan manusia asing, ada sosok berseragam yang peduli menghampirinya.
Di sudut lain, ada jamaah lansia yang langkahnya gontai, tak kuat lagi menopang badan. Wajahnya memerah terpapar cuaca ekstrem Makkah. Mengingat jumlah petugas haji yang berjaga sangat terbatas, petugas MCH yang sedang mengumpulkan bahan liputan pun langsung mengambil alih. Ia membantu mendorong jamaah tersebut menggunakan kursi roda menyusuri kontur jalanan yang menanjak menuju Terminal Jabal Ka'bah. Tugas rupanya belum usai. Sekembalinya dari terminal, seorang lansia lain sudah menanti. Begitu terus, petugas tersebut mendorong kursi roda bolak-balik mengantar jamaah hingga empat kali berturut-turut. "Alat tempur" untuk liputan pun dibiarkan tersimpan di dalam tas.
Kisah lain datang dari seorang bapak yang terpaksa berjalan tanpa alas kaki melintasi pelataran panas karena kehilangan sandalnya. Petugas yang khawatir kaki sang bapak akan melepuh, dengan sigap mengeluarkan sandal jepit cadangan dari dalam tasnya. Sandal itu sengaja ia bawa dari Tanah Air khusus untuk jamaah yang kehilangan sendal.
Selain urusan logistik, petugas MCH juga dituntut sigap menjadi mediator. Suatu ketika, saat antrean masuk Masjidil Haram sangat padat, seorang bapak mengambil gambar barisan askar atau petugas keamanan Arab Saudi. Karena aturan ketat otoritas setempat, bapak tersebut langsung ditarik menepi dan ditahan. Kebetulan, seorang petugas MCH tengah antre tepat di belakangnya. Menyadari sang jamaah dalam masalah, petugas MCH segera maju untuk mendinginkan suasana. Karena askar meminta video di ponsel bapak itu dihapus, petugas pun membantu menghapusnya sembari menenangkan sang bapak. Petugas lantas memberikan penjelasan kepada askar bahwa bapak tersebut sama sekali tidak mengerti jika mengambil gambar petugas keamanan di area tersebut dilarang keras. Sang bapak akhirnya terbebas dari masalah dan bisa kembali fokus beribadah.
Lelah yang Terbayar oleh Senyuman dan Doa
Berada di lapangan sekompleks Masjidil Haram memberikan pelajaran berharga bagi para wartawan MCH. Mereka tidak bisa mengenakan "kacamata kuda" demi kelancaran sebuah peliputan. Saat menjepretkan kamera ponsel, berkali-kali petugas harus ikhlas menghentikan pekerjaannya saat pundaknya ditepuk oleh jamaah yang bertanya atau memohon pertolongan.
Apakah lelah? Sudah pasti. Pekerjaan utama meracik berita sering kali tidak berjalan mulus. Rencana peliputan bisa buyar seketika saat ada lansia yang kelelahan atau rombongan yang tersesat. Namun, di balik seragam cokelat yang basah oleh keringat itu, lebih banyak rasa senang yang menyelimuti hati. Lelah menyusuri pelataran Masjidil Haram dan terminal-terminal bus terbayar lunas tanpa sisa, tergantikan oleh senyuman tulus, genggaman tangan yang erat, serta lantunan doa dari para tamu Allah. Deriak tuts papan ketik atau tangkapan lensa mungkin bisa menciptakan berita yang bagus, tapi memberikan uluran tangan di Tanah Suci adalah jejak amal yang abadi.
Artikel Terkait
AC Milan Kalah Dramatis 2-3 dari Atalanta di San Siro, Posisi Empat Besar Terancam
Maung Garuda MV3 Diterbangkan ke KTT ASEAN di Filipina, Jadi Simbol Diplomasi Industri Pertahanan Indonesia
Ekonom Senior Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen sebagai ‘Pertumbuhan yang Memiskinkan’
Kemenimipas Usut Sponsor 320 WNA yang Terlibat Judi Online di Hayam Wuruk Plaza