Siaga 98: Sikap Diam Teddy Indra Wijaya Terhadap Kritik Amien Rais Bukti Kedewasaan Politik

- Minggu, 10 Mei 2026 | 06:25 WIB
Siaga 98: Sikap Diam Teddy Indra Wijaya Terhadap Kritik Amien Rais Bukti Kedewasaan Politik

PARADAPOS.COM - Koordinator Simpul Aktivis Angkatan 98 (Siaga 98), Hasanuddin, menilai sikap diam Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terhadap kritik Amien Rais sebagai bentuk kedewasaan politik dan penghormatan kepada tokoh senior nasional. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu, 10 Mei 2026, merespons pernyataan politikus senior yang sempat menyeret nama Teddy ke dalam perdebatan publik. Menurut Hasanuddin, respons yang tidak reaktif justru mencerminkan etika politik yang matang, bukan ketidakmampuan dalam memberikan jawaban.

Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang kerap diwarnai saling serang pernyataan, pilihan untuk diam sering kali luput dari sorotan. Namun, bagi Hasanuddin, langkah yang diambil Teddy justru menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang hierarki dan sejarah politik di Indonesia. Dalam budaya politik lokal, menahan diri ketika berhadapan dengan figur yang lebih senior bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah sikap yang sarat makna.

Penghormatan kepada Senioritas dalam Politik

Hasanuddin menjelaskan bahwa dalam konteks perjalanan demokrasi nasional, Amien Rais adalah figur yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang reformasi. Oleh karena itu, setiap pernyataan yang keluar dari tokoh semacam itu membutuhkan pertimbangan yang hati-hati dalam menyikapinya.

"Sikap diam Seskab Teddy terhadap pernyataan Amien Rais dapat ditafsirkan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang lebih tua dan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan politik nasional," kata Hasanuddin kepada RMOL, Minggu, 10 Mei 2026.

Untuk memperkuat argumennya, Hasanuddin merujuk pada ajaran salah satu pendiri bangsa. Ia mengutip pandangan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang menekankan pentingnya adab dalam setiap interaksi, terutama dengan mereka yang lebih dahulu berjasa.

"'Hormatilah siapa pun, lebih-lebih kepada yang lebih tua, karena di situ letak adab dan kemuliaan manusia'," ujar Hasanuddin mengutip KH Ahmad Dahlan.

Menurutnya, tidak semua kritik atau pernyataan politik harus direspons secara terbuka. Apalagi, jika pernyataan tersebut datang dari tokoh yang pernah memiliki pengaruh besar dalam dinamika demokrasi Indonesia. Ada kalanya, diam adalah jawaban yang paling tepat.

"Sikap menahan diri justru sering dipandang sebagai etika dan bentuk penghargaan personal," tegas Hasanuddin.

Menjaga Relevansi Tugas dan Fungsi

Lebih jauh, Siaga 98 berpandangan bahwa polemik yang muncul sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan tugas pokok dan fungsi seorang Sekretaris Kabinet. Posisi Teddy, menurut mereka, bekerja dalam ranah administrasi pemerintahan dan koordinasi kebijakan presiden, bukan sebagai juru debat publik.

"Respons terbuka dari Teddy bisa dianggap tidak relevan dengan tupoksinya dan justru berpotensi menyeret institusi ke dalam perdebatan politik yang tidak perlu," terang Hasanuddin.

Dari sudut pandang ini, keputusan untuk tidak terpancing dianggap sebagai langkah yang lebih bijaksana. Sebuah institusi pemerintahan, menurutnya, harus dijaga agar tidak terseret ke dalam pusaran politik praktis yang dapat mengganggu kinerja birokrasi.

Manuver Politik di Balik Panggung

Di sisi lain, Siaga 98 juga membaca adanya motif tertentu di balik pernyataan Amien Rais. Mereka menilai hal tersebut lebih merupakan manuver politik untuk menarik perhatian publik dengan memanfaatkan popularitas Teddy yang tengah naik sebagai pejabat muda di lingkar kekuasaan.

"Dalam konteks politik modern, menyeret nama figur yang sedang menjadi perhatian publik sering kali efektif untuk mencuri panggung dan membangun kembali resonansi politik," tutur Hasanuddin.

Fenomena ini, menurutnya, bukanlah hal baru dalam panggung politik Indonesia. Nama-nama yang sedang populer kerap dijadikan sasaran untuk kembali mengangkat pamor seorang tokoh. Namun, respons yang dingin dari Teddy justru membuat manuver tersebut kehilangan sasaran.

Ia pun menilai pilihan Teddy untuk tetap diam justru menunjukkan kontrol diri dan ketenangan dalam menghadapi dinamika politik nasional. Di tengah tekanan untuk selalu bersuara, kemampuan untuk memilih kapan harus berbicara dan kapan harus diam adalah kualitas yang langka.

"Kadang, diam justru menunjukkan kontrol diri, ketenangan, dan kemampuan memilah mana isu yang layak direspons secara institusional dan mana yang cukup dibiarkan berlalu sebagai bagian dari dinamika politik biasa," pungkas Hasanuddin.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar