PARADAPOS.COM - Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan bahwa peta jalan atau roadmap pengelolaan sampah yang disusun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta layak dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan di tengah gelaran Car Free Day (CFD) di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, pada Minggu, 10 Mei 2026, bertepatan dengan deklarasi Gerakan Pilah Sampah dan pencanangan HUT ke-499 Kota Jakarta. Menteri mengapresiasi langkah cepat Jakarta yang dinilai telah mendahului dalam menyusun strategi pengelolaan sampah dari hulu.
Di bawah terik matahari pagi, ribuan warga yang memadati kawasan Rasuna Said menjadi saksi deklarasi bertajuk "Jaga Jakarta Bersih, Gerakan Pilah Sampah". Acara ini sekaligus menandai perluasan area CFD dan revitalisasi kawasan tersebut sebagai bagian dari rangkaian menuju ulang tahun ibu kota.
Apresiasi Langsung dari Menteri
Dalam sambutannya, Jumhur Hidayat tidak menyembunyikan kekagumannya. Ia menilai inisiatif Jakarta bisa menjadi cetak biru bagi kota-kota lain yang masih bergulat dengan masalah sampah.
"Jakarta mendahului membuat roadmap sampah itu, Alhamdulillah. Artinya bisa kita adopsi beberapa gagasan pemikirannya. Saya mendukung Gerakan Pilah Sampah di Jakarta, dan gerakan ini saya tebeng, mari lakukan di seluruh Indonesia," ujar Menteri LH di hadapan para pejabat daerah dan komunitas pegiat lingkungan yang hadir.
Profil Timbulan Sampah di Jakarta
Meskipun ada optimisme, tantangan di lapangan masih sangat nyata. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), volume sampah di DKI Jakarta pada tahun 2024 mencapai angka yang mencengangkan: 3.171.247,45 ton per tahun, atau setara dengan 8.664,61 ton setiap harinya. Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang konsisten.
Dari total tersebut, komposisi sampah paling dominan adalah sampah mudah terurai atau organik, yang mencapai 49,87%. Disusul oleh sampah plastik sebesar 22,95% dan kertas sebesar 17,24%. Sumber utama sampah-sampah ini berasal dari aktivitas rumah tangga, sektor komersial, dan industri.
Selain tiga jenis utama tersebut, terdapat pula sampah kayu (3,18%), gelas atau kaca (1,48%), logam (1,08%), kain atau tekstil (0,90%), kulit atau karet (0,70%), serta limbah B3 domestik yang mencapai 0,42%. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.
Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Dinas Lingkungan Hidup, telah menerapkan berbagai metode pengelolaan. Mulai dari pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), daur ulang, komposting, hingga pengolahan di fasilitas seperti TPS3R, TPST, dan RDF Plant. Upaya ini secara garis besar dibagi ke dalam tiga tahapan: hulu, tengah, dan hilir.
Di Hulu: Mengurangi dari Sumber
Pada tahap hulu, fokus utama adalah mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. Beberapa program yang telah berjalan antara lain pengelolaan sampah lingkup RW yang dikenal dengan program KuPiLah (Kurangi-Pilah-Olah), penggerakan sirkular ekonomi melalui bank sampah, serta model area Jakarta Recycle Center di Pesanggrahan. Tak ketinggalan, ada pula pengendalian sampah plastik sekali pakai (KBRL), pengelolaan sampah kawasan mandiri, dan pengumpulan serta pengangkutan sampah terjadwal. Untuk sampah organik, pemerintah mendorong pengolahan melalui komposting, budidaya maggot (BSF), dan pembuatan ecoenzyme.
Di Tengah: Memaksimalkan Kapasitas Fasilitas
Memasuki tahap tengah, pengelolaan dilakukan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan TPS3R yang memiliki kapasitas olah antara 25 hingga 50 ton per hari. Selain itu, ada pula pengelolaan sampah di badan air dengan kapasitas 20 ton per hari, dan direncanakan penambahan fasilitas serupa di Pesanggrahan dengan kapasitas 15 ton per hari. Yang paling ambisius adalah pengoperasian RDF Plant yang saat ini masih dalam tahap uji coba, dengan target kapasitas pengolahan mencapai 2.500 ton per hari.
Di Hilir: Solusi Akhir yang Berkelanjutan
Pada tahap hilir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah membangun RDF Plant Bantargebang dengan kapasitas pengolahan 2.000 ton per hari. Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) juga telah dioperasikan dengan kapasitas 100 ton per hari, menghasilkan output listrik sebesar 700 KW yang digunakan untuk kebutuhan internal fasilitas.
Di tengah berbagai proyek besar ini, program-program akar rumput seperti bank sampah dan pemilahan sampah dari sumber terus berjalan. Kombinasi antara kebijakan makro dan partisipasi warga inilah yang diharapkan mampu menekan angka timbulan sampah Jakarta secara signifikan di masa mendatang.
Artikel Terkait
Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Irak tanpa Sepengetahuan Baghdad
Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 1.000 Meter di Atas Puncak
Inggris Panggil Dubes Tiongkok Usai Vonis Tiga Pria Terbukti Bantu Intelijen Hong Kong
Polisi Bongkar Laboratorium Sabu Rumahan di Balikpapan, Bahan Baku Diduga dari Malaysia