PARADAPOS.COM - Sebuah laporan dari media internasional mengungkap bahwa Israel secara diam-diam membangun pangkalan militer rahasia di wilayah gurun Irak. Fasilitas ini diduga kuat digunakan untuk mendukung serangan udara terhadap Iran di tengah konflik kawasan yang pecah sejak akhir Februari. Menurut laporan yang dikutip pada Minggu, 10 Mei 2026, pangkalan tersebut didirikan sebelum perang dengan Iran meletus, sepengetahuan Amerika Serikat, namun tanpa sepengetahuan atau persetujuan dari pemerintah Irak.
Lokasi terpencil ini disebut-sebut sebagai pusat logistik vital bagi angkatan udara Israel. Selain menopang serangan udara, pangkalan itu juga difungsikan sebagai basis bagi tim pencarian dan penyelamatan Israel selama perang berlangsung. Keberadaannya yang sangat sensitif membuat operasi di sekitarnya dijaga ketat.
Peternak Jadi Saksi, Pasukan Irak Bergerak
Keberadaan fasilitas rahasia itu nyaris terkuak pada awal Maret. Seorang penggembala melaporkan kepada media pemerintah Irak bahwa ia melihat aktivitas militer yang mencurigakan di area gurun yang biasanya sepi. Laporan ini mendorong pasukan Irak untuk segera bergerak menuju lokasi guna melakukan penyelidikan.
Namun, sebelum pasukan Irak mencapai area tersebut, Israel dikabarkan melancarkan serangan udara. Tujuannya jelas: untuk mencegah situs itu terbongkar lebih lanjut. Serangan tersebut menewaskan seorang tentara Irak dan langsung memicu kemarahan keras dari Baghdad.
Kecaman dari Baghdad dan Kebisuan Tel Aviv
“Operasi gegabah ini dilakukan tanpa koordinasi atau persetujuan,” ujar Wakil Komandan Komando Operasi Gabungan Irak, Qais Al-Muhammadawi, kepada media pemerintah. Pernyataan ini menegaskan bahwa Baghdad menganggap tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan wilayahnya.
Sementara itu, militer Israel memilih untuk bungkam dan menolak memberikan komentar apa pun atas laporan yang beredar. Sikap ini semakin menambah ketegangan diplomatik yang sudah memanas di kawasan.
Gencatan Senjata yang Rapuh di Tengah Ketegangan
Ketegangan regional sendiri telah meningkat tajam sejak 28 Februari. Iran melancarkan serangan balasan, dan Selat Hormuz sempat ditutup, mengganggu jalur perdagangan energi global. Titik terang muncul ketika gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan.
Namun, situasi masih jauh dari stabil. Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan perpanjangan masa gencatan tanpa menetapkan tenggat waktu yang jelas. Langkah ini menjadi sinyal bahwa situasi di kawasan tersebut masih sangat rapuh dan sewaktu-waktu bisa kembali memanas.
Artikel Terkait
PTPN IV PalmCo Percepat Transformasi Pasca-Merger dengan Digitalisasi dan Standardisasi Tata Kelola
Timnas Indonesia Masuk Grup F Piala Asia 2027 Bersama Jepang, Qatar, dan Thailand
Calon Jemaah Haji Asal Maluku Utara Meninggal Dunia Saat Tidur di Hotel Madinah
Drakor “We Are All Trying Here” Tayang di Netflix, Angkat Realitas Perjuangan Anak Muda di Industri Film