PARADAPOS.COM - Iran secara resmi menolak konsep dominasi sepihak dalam percaturan global. Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers di Teheran pada Senin, 11 Mei 2026. Sikap tegas itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, setelah Washington menolak proposal balasan yang diajukan Teheran. Baghaei juga menuduh Amerika Serikat telah merusak kredibilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pernyataan Resmi Teheran
“Dunia tidak seharusnya didominasi oleh satu kekuatan sepihak yang mengabaikan norma-norma internasional yang diakui,” tegas Baghaei dalam pernyataannya yang dikutip dari media setempat, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menekankan bahwa langkah Iran saat ini sepenuhnya berlandaskan pada kepentingan nasional. Hal ini disampaikan menyusul respons Teheran terhadap proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik melalui mediasi Pakistan.
“Satu-satunya hal yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran,” ujarnya.
“Kami tetap fokus pada kepentingan nasional Iran. Kami akan bertindak dengan cara apa pun yang diperlukan sesuai keadaan demi mengejar kepentingan tersebut,” lanjut diplomat tersebut.
Reaksi Washington dan Eskalasi Konflik
Di hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menanggapi proposal balasan Iran dengan nada keras. Trump menyebut respons tersebut sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak dapat diterima.” Ia juga mengisyaratkan tengah mempertimbangkan untuk kembali melanjutkan inisiatif yang disebutnya sebagai “Freedom Initiative.”
Ketegangan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang konflik yang dimulai sejak akhir Februari lalu. Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan terhadap Israel dan sejumlah negara Teluk.
Jeda dan Negosiasi yang Mandek
Pada 8 April, Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan untuk membuka ruang negosiasi. Masa gencatan itu kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas, menunggu Iran menyerahkan proposalnya.
Putaran pertama negosiasi antara AS dan Iran berlangsung di Islamabad pada 11 April, namun hingga kini belum menghasilkan kesepakatan apa pun.
Di lapangan, situasi tetap tegang. Iran memberlakukan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, sementara Angkatan Laut AS masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun gencatan senjata secara nominal masih berlaku.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ketua DPRD Kepri Ditilang Rp500.000 Usai Viral Tak Pakai Helm Saat Naik Moge
Dolar AS Menguat Tipis di Tengah Kebuntuan Diplomatik AS-Iran dan Kekhawatiran Inflasi
Dinkes Jakarta Konfirmasi Empat Kasus Hantavirus, Satu Pasien Masih dalam Isolasi
Ganjil Genap Jakarta Berlaku Hari Ini, Tanggal Genap Batasi Kendaraan Pelat Ganjil