Juri Dinilai Inkonsisten, Wakil Ketua MPR Minta Maaf atas Kontroversi Final Lomba Cerdas Cermat di Kalbar

- Senin, 11 Mei 2026 | 16:50 WIB
Juri Dinilai Inkonsisten, Wakil Ketua MPR Minta Maaf atas Kontroversi Final Lomba Cerdas Cermat di Kalbar
PARADAPOS.COM - Kontroversi mewarnai babak final Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada Sabtu, 9 Mei 2026. Seorang juri dinilai tidak konsisten dalam menilai jawaban dua regu yang identik, sehingga memicu protes dan mengubah hasil akhir pertandingan. Insiden ini terjadi di Pontianak, melibatkan tiga regu dari SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau, serta berujung pada permintaan maaf resmi dari Wakil Ketua MPR RI.

Kronologi Kontroversi di Panggung Final

Peristiwa bermula dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada regu C dari SMAN 1 Pontianak. Soal tersebut menanyakan lembaga mana yang harus memberikan pertimbangan kepada DPR dalam memilih anggota BPK. Regu C pun menjawab, "Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden." Namun, Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI yang bertindak sebagai juri, Dyastasita W.B., menyatakan jawaban itu salah. Alhasil, regu C mendapat pengurangan lima poin. Tak berselang lama, pertanyaan yang sama dilemparkan ke regu lain. Regu B dari SMAN 1 Sambas kemudian memberikan jawaban yang persis sama. Kali ini, juri yang sama menyatakan jawaban regu B adalah benar. Mendengar keputusan itu, regu C langsung keberatan. Juru bicara regu C dengan tegas menyampaikan bahwa jawaban mereka identik. “Pak, maaf, mungkin boleh bisa melihat pandangan dari yang lain juga? Mungkin dari penonton apakah ada yang mendengar saya mengatakan DPD?” tanya siswi regu C, mencoba mencari dukungan dari hadirin. Dyastasita kemudian beralasan bahwa jawaban regu C dianggap tidak menyertakan frasa "Dewan Perwakilan Daerah" dengan artikulasi yang jelas. Ia bersikeras bahwa keputusan dewan juri bersifat mutlak. Suasana semakin memanas ketika juri lain, Indri Wahyuni, angkat bicara. Ia menekankan pentingnya artikulasi dalam menjawab. "Begini, ya, kan sudah diperingatkan dari awal, ya, artikulasi itu penting. Jadi, biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas, ya. Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak, karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya, itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima," ujar Indri. Meskipun guru pendamping mencoba menyampaikan keberatan, dewan juri tetap pada pendiriannya.

Dampak Langsung pada Papan Skor

Keputusan kontroversial itu secara langsung mengubah peta perolehan poin. Berikut adalah hasil akhir lomba berdasarkan keputusan dewan juri:
  • Regu A (SMAN 1 Sanggau): 45 poin
  • Regu B (SMAN 1 Sambas): 90 poin
  • Regu C (SMAN 1 Pontianak): 70 poin
Sistem penilaian yang berlaku memberikan tambahan 10 poin untuk jawaban benar dan pengurangan 5 poin untuk jawaban salah. Jika jawaban regu C dianggap benar, mereka seharusnya mendapat tambahan 10 poin tanpa pengurangan. Dengan skenario itu, poin regu C menjadi 85. Di sisi lain, regu B tidak akan mendapatkan poin dari soal lemparan tersebut, sehingga skor mereka tetap di angka 80. Dengan perhitungan itu, SMAN 1 Pontianak seharusnya keluar sebagai juara.

MPR Buka Suara dan Janji Evaluasi

Menanggapi riuhnya sorotan publik, Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf resmi. Ia menegaskan bahwa insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara. "Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini," kata Akbar, Senin, 11 Mei 2026. Akbar menyayangkan insiden yang terjadi pada Sabtu lalu tersebut. Ia menekankan bahwa objektivitas dan responsivitas juri terhadap keberatan peserta adalah hal yang mutlak. Lebih lanjut, ia mengakui adanya unsur kelalaian panitia dan juri, terutama terkait teknis tata suara serta tidak adanya mekanisme banding yang jelas. Oleh karena itu, ia memastikan pihaknya akan segera melakukan evaluasi total terhadap kinerja dewan juri dan sistem perlombaan. "Saya melihat, lomba cerdas cermat ini perlu dievaluasi supaya lebih baik. Jangan ada lagi kejadian seperti ini," ucapnya.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar