Airlangga Hartarto Jajaki Impor Alat Berat Belarus untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

- Jumat, 15 Mei 2026 | 08:25 WIB
Airlangga Hartarto Jajaki Impor Alat Berat Belarus untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, melakukan kunjungan kerja ke sejumlah pabrik alat berat dan kendaraan komersial di Minsk, Belarus, pada Kamis (14/05). Langkah ini merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan implementasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA). Dalam kunjungan tersebut, Airlangga menjajaki potensi impor alat berat, traktor, dan teknologi pertanian modern guna mendukung program ketahanan pangan nasional serta memperkuat industrialisasi di dalam negeri.

Menjajaki Peluang di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia terus mencari celah untuk memperluas kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan. Salah satu jalur yang tengah digenjot adalah skema I-EAEU FTA. Untuk memaksimalkan perjanjian ini, pemerintah tidak hanya membidik pasar ekspor di kawasan Eurasia, tetapi juga memetakan barang-barang strategis yang dibutuhkan Indonesia. Belarus, dengan industri manufakturnya yang solid, menjadi salah satu titik fokus penjajakan tersebut. Kunjungan ini merupakan rangkaian dari Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI-Belarus di bidang perdagangan, ekonomi, dan teknik. Airlangga hadir atas undangan Deputi Perdana Menteri Belarus, didampingi oleh Wakil Menteri Industri Republik Belarus, Leonid Ryzkovsky.

Menyusuri Lini Produksi Tiga Raksasa Industri Belarus

Airlangga mengunjungi tiga perusahaan manufaktur utama Belarus, yaitu Minsk Tractor Works (MTZ), Minsk Automobile Plant (MAZ), dan BelAZ Holding Management Company. Ketiga perusahaan ini merupakan tulang punggung industri alat berat, kendaraan komersial, serta mesin pertanian modern di kawasan tersebut. Langkah ini dinilai sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Modernisasi pertanian dan ketersediaan alat berat yang efisien menjadi faktor krusial untuk mencapai target tersebut. Di MTZ, Airlangga meninjau langsung pengembangan teknologi traktor dan alat mesin pertanian. Produk-produk ini dinilai potensial untuk mendukung agenda modernisasi pertanian Indonesia, termasuk pengembangan food estate dan peningkatan produktivitas nasional. “Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Airlangga. Pihak MTZ, lanjutnya, meyakinkan bahwa seluruh alat berat dan mesin yang mereka produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemesan. Mereka juga menawarkan paket pelatihan dan transfer teknologi untuk mendukung kerja sama jangka panjang. MTZ bahkan telah melakukan pembicaraan awal dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia terkait potensi kerja sama di sektor ini.

Dari Kendaraan Komersial hingga Rantai Pasok Ban

Sementara itu, kunjungan ke MAZ difokuskan pada potensi kerja sama pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri. Pembahasan mencakup peluang perakitan lokal (local assembly), transfer teknologi, hingga pengembangan kendaraan rendah emisi. Di BelAZ Holding Company, diskusi mengarah pada penguatan kerja sama di sektor alat berat pertambangan. Kedua pihak membahas pengembangan ekosistem perawatan (maintenance ecosystem), perakitan lokal, serta peluang kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat yang berbasis bahan baku karet alam Indonesia. Belarus sendiri memiliki basis industri manufaktur yang kuat. Pada tahun 2024, sektor manufaktur menyumbang sekitar 20,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mereka. Negara ini juga dikenal unggul dalam pengembangan agro-industri dan mekanisasi pertanian, dengan tingkat swasembada pangan mencapai sekitar 96 persen. Angka ini menjadi salah satu alasan mengapa kerja sama dengan Belarus dinilai strategis bagi Indonesia yang tengah berupaya memperkuat ketahanan pangannya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler